“Saat takdir mempertemukan
kita satu tahun lalu”
“Saat aku atau kamu, menjadi
kita”
“Saat keabnormalan
mempersatukan kita”
“Saat XI IPA 1 menjadi XII
IPA 1”
Pagi
itu, kami berencana untuk melakukan “refreshing sesaat” setelah seminggu
sebelumnya, kami harus berjuang mati-matian menghadapi perang.......UAS.
Yaps, hari Sabtu, 14 Desember 2013, kami berangkat ke Ancol. Ceritanya sih,
kami kesana untuk prosesi foto butah (buku tahunan). Tau kan buku tahunan itu
apa? Itu loh, semacam buku kenang-kenangan kalo udah lulus nanti. Tapiiiiiiiii
kalo boleh jujur, sebenarnya, gak mudah bagi kami menentukan tanggal 14 untuk
prosesi foto butah. Sempet ada jatuh bangunnya (kebanyakan jatuhnya sih......)
dulu, sebelum kami fix sama tanggal
14. Mau diceritain sih, tapiiiii nanti aja deh, ceritanya terlalu panjang dan
agak complicated hehehe. H-1, kami sempet ngumpul sebentar
untuk ngomongin masalah buku tahunan,
tapi gak terlalu lama. Soalnya, yang lain udah pada buete dan capek setelah
seharian ngerjain soal TO Simulasi
UN.....4 MATA PELAJARAN SEKALIGUS!J
Jadi ya, cuma ngomongin hal-hal
seperlunya aja terus pulang deh.
Keesokan
paginya, jam 06.00 kami udah kumpul di depan sekolah (ya walaupun gak semuanya on time sih hehehe). Waktu sampe di
sekolah, lumayan rame. Ternyata, gak cuma kelas kami aja yang punya rencana mau
foto butah, tapi ada “tetangga” juga (re: A3) disana. Setelah sibuk missed call dan sms-in yang belum dateng alias yang agak ngaret, akhirnya
sekitar jam 07.00 (padahal rencana awal berangkat jam 06.30 –“), kami berangkat
ke Ancol. Yeay. Kami menggunakan perahu (darat) alias bis kesana. Perjalanan
kami ditemani oleh wali kelas kami (tentunya), Bu Dian, dua mas-mas agensi yang
“lumayan” (katanya), satu supir lengkap dengan satu kondektur alias kenek, dan masing-masing pasangan....(?)
#salahfokus. Hahaha. Enggak deng, bercandaaaaaaa. Sepanjang perjalanan, kami
coba buat menghibur diri, apalagi para jombs HIKS. Anak-anak cowok yang
mulai bertingkah autis dengan bernyanyi lagu hasil ciptaan mereka sendiri atau
ngeluarin kata-kata konyol yang seketika bisa buat ngakak. Kalo anak-anak
ceweknya sih lebih banyak jaim-nya,
ada yang dengerin musik dengan headset,
ada yang ngobrol sama temen satu bangku, dan ada juga yang sibuk vermak muka
dengan make-up. Tapiiii kebanyakan
sih pada mampir sebentar ke pulau mimpi hehehe.
Sekitar
jam 09.00, kami sampai di Ancol. Suasana di dalam bis mulai gak karuan.
Anak-anak cowok yang makin autis dengan segala macam jurus lawakan mereka dan
anak-anak cewek yang makin ganas mempercantik diri. Setelah survey tempat yang cocok untuk prosesi
foto, akhirnya, kami diperbolehkan turun dari bis. Anak-anak cowok langsung
turun dengan membawa barang-barang pribadi mereka. Sedangkan, anak-anak cewek
masih rusuh ganti baju dan dandan. Setelah semua selesai bersiap diri,
prosesi foto pun dimulai. Suasana Ancol saat itu, sangat ramai pengunjung
dengan cuaca yang sangat-amat-terik-sekali. Dandanan kami semua hampir hancuwrw
lebuwrw (pake logat cadelnya Faris). Tapi tetep aja, cuaca tidak mengahalangi
kami untuk berpose hehehe. Prosesi foto butah kami terdiri dari dua sesi foto.
Sesi
pertama adalah foto bareng-bareng dengan wali kelas. Kami mengenakan pakaian semi
formal putih saat sesi pertama. Jujur, semua terlihat beda. Anak-anak cowok
jadi lebih rapi dan makin ganteng. Sedangkan, anak-anak cewek makin cantik dengan sapuan make-up. Dan saat sesi kedua, kami
menggunakan pakaian bebas sesuai dengan kebijakan dari masing-masing kelompok. Anak-anak
cowok lebih banyak yang menggunakan T-shirt
atau kaos, sedangkan, anak-anak
cewek lebih bervariasi. Ada yang mengenakan baju kemeja dibalut dengan rok dan
ada juga yang mengenakan T-shirt
dengan celana. Sesi pertama pun dimulai. Kami harus susah payah berpose dengan
cuaca yang kurang mendukung (re: sangat panas). Dan “kesenangan” kami pun makin
indah, karena agensi yang selalu mengulang prosesi foto. Mungkin, mas-mas agensi
ketagihan dengan senyum dan pose kami. Hehehe.
Setelah
selesai sesi foto pertama, kami melanjutkan sesi foto kedua. Sebelumnya, kami
sempet melakukan breaktime solat dan
makan siang. Satu per satu, tiap kelompok berpose dan melempar senyum ke arah
kamera. Walaupun, sempet tertunda karena turun hujan, tapi tetep gak
menghilangkan semangat kami. Tiap kelompok menentukan sendiri tempat mana yang
menjadi tempat foto mereka. Kebanyakan tiap kelompok memilih tempat yang
berbeda satu sama lain. Namun, ada juga yang memilih tempat yang sama. Ada yang
foto dengan tema bermain pasir, di jembatan kayu, dan masih banyak lagi. Akhirnya
sekitar jam 19.30, prosesi foto butah kami pun selesai. Kami bersiap-siap
kembali ke rumah masing-masing. Suasana di dalam bis gak serame saat kami
berangkat. Mungkin, karena udah malam dan kondisi kami udah lelah dengan
aktivitas “pemotretan” yang cukup padat dari pagi hari. Akhirnya, kebanyakan
dari kami tidur di dalam bis, ya walaupun ada sebagian anak-anak cowok yang
batrainya masih full terus mereka bernyanyi konyol (lagi). Perjalanan
pulang cukup lama, karena kondisi jalanan yang padat merayap. Namanya juga
Jakarta J. Akhirnya,
sekitar jam 21.00 kami sampe di sekolah. Setelah pamitan dengan wali kelas,
kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Ada yang dijemput dan ada pula
yang mandiri alias memilih untuk pulang sendiri.
HUWAAAAAAAA
AKHIRNYA PROSESI FOTO BUTAH KITA SELESAI JUGA, GUYS! Semuanya udah
se-le-sai. Walaupun turun hujan dan ada beberapa “masalah kecil” yang akhirnya bisa diatasi. Pokoknya,
terimakasih sekali untuk semuanya. Makasih untuk Bu Dian, yang udah nyempetin waktu untuk kami. Makasih
untuk dua mas-mas agensi yang udah sabar banget ngadepin pose-pose dan permintaan-permintaan aneh kami. Makasih
untuk bapak supir dan mas kenek-nya yang
udah “sabaaaaaaaaaaaaaaar” banget nungguin kami sampe acara selesai. Makasih untuk
semua panitia buku tahunan kelas. Makasih untuk Farras yang udah rela-relain
repot dan pusing dengan tanggung jawab luarrrr biasa banget. Makasih untuk Firman
yang dari awal sampe di Ancol udah rela bantuin Farras ngurus acara sampe selesai. Makasih untuk Shabrina yang udah mau ribet
bantuin Firman buat nagih uang butah ke anak-anak. Makasih untuk Osi, Sifa,
Adel, dan Findya yang udah mau repot ngebantuin
anak-anak cewek mempercantik diri. Makasih untuk semua anak cowok yang selalu
menghibur dengan berbagai macam jurus lawak selama perjalanan. Makasih untuk semua
anak cewek yang udah bahu-membahu saling mem-vermak penampilan. Makasih semuanya
yang udah rela waktu malam-mingguan-nya sama keluarga atau pacar diambil cuma untuk
foto butah. Sekali lagi, makasih untuk semua (gak bisa disebutin satu per satu)
yang udah terlibat dalam prosesi foto buku tahunan XII IPA1. Maaf, kalo selama
ini, dari panitia buku tahunan kelas atau dari yang lain, ada kata-kata yang
gak berkenan. Semoga hasil foto butah bagus dan maksimal daaaan sukses untuk UN dan PTN-nya scornerz!
“Hal
sederhana bisa menjadi sangat luar biasa"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar