Minggu, 15 Desember 2013

Sederhana Menjadi Luar Biasa

“Saat takdir mempertemukan kita satu tahun lalu”
“Saat aku atau kamu, menjadi kita”
“Saat keabnormalan mempersatukan kita”
“Saat XI IPA 1 menjadi XII IPA 1”

Pagi itu, kami berencana untuk melakukan “refreshing sesaat” setelah seminggu sebelumnya, kami harus berjuang mati-matian menghadapi perang.......UAS. Yaps, hari Sabtu, 14 Desember 2013, kami berangkat ke Ancol. Ceritanya sih, kami kesana untuk prosesi foto butah (buku tahunan). Tau kan buku tahunan itu apa? Itu loh, semacam buku kenang-kenangan kalo udah lulus nanti. Tapiiiiiiiii kalo boleh jujur, sebenarnya, gak mudah bagi kami menentukan tanggal 14 untuk prosesi foto butah. Sempet ada jatuh bangunnya (kebanyakan jatuhnya sih......) dulu, sebelum kami fix sama tanggal 14. Mau diceritain sih, tapiiiii nanti aja deh, ceritanya terlalu panjang dan agak complicated  hehehe. H-1, kami sempet ngumpul sebentar untuk ngomongin masalah buku tahunan, tapi gak terlalu lama. Soalnya, yang lain udah pada buete dan capek setelah seharian ngerjain soal TO Simulasi UN.....4 MATA PELAJARAN SEKALIGUS!J Jadi ya, cuma ngomongin hal-hal seperlunya aja terus pulang deh.
Keesokan paginya, jam 06.00 kami udah kumpul di depan sekolah (ya walaupun gak semuanya on time sih hehehe). Waktu sampe di sekolah, lumayan rame. Ternyata, gak cuma kelas kami aja yang punya rencana mau foto butah, tapi ada “tetangga” juga (re: A3) disana. Setelah sibuk missed call dan sms-in yang belum dateng alias yang agak ngaret, akhirnya sekitar jam 07.00 (padahal rencana awal berangkat jam 06.30 –“), kami berangkat ke Ancol. Yeay. Kami menggunakan perahu (darat) alias bis kesana. Perjalanan kami ditemani oleh wali kelas kami (tentunya), Bu Dian, dua mas-mas agensi yang “lumayan” (katanya), satu supir lengkap dengan satu kondektur alias kenek, dan masing-masing pasangan....(?) #salahfokus. Hahaha. Enggak deng, bercandaaaaaaa. Sepanjang perjalanan, kami coba buat menghibur diri, apalagi para jombs HIKS. Anak-anak cowok yang mulai bertingkah autis dengan bernyanyi lagu hasil ciptaan mereka sendiri atau ngeluarin kata-kata konyol yang seketika bisa buat ngakak. Kalo anak-anak ceweknya sih lebih banyak jaim-nya, ada yang dengerin musik dengan headset, ada yang ngobrol sama temen satu bangku, dan ada juga yang sibuk vermak muka dengan make-up. Tapiiii kebanyakan sih pada mampir sebentar ke pulau mimpi hehehe.
Sekitar jam 09.00, kami sampai di Ancol. Suasana di dalam bis mulai gak karuan. Anak-anak cowok yang makin autis dengan segala macam jurus lawakan mereka dan anak-anak cewek yang makin ganas mempercantik diri. Setelah survey tempat yang cocok untuk prosesi foto, akhirnya, kami diperbolehkan turun dari bis. Anak-anak cowok langsung turun dengan membawa barang-barang pribadi mereka. Sedangkan, anak-anak cewek masih rusuh ganti baju dan dandan. Setelah semua selesai bersiap diri, prosesi foto pun dimulai. Suasana Ancol saat itu, sangat ramai pengunjung dengan cuaca yang sangat-amat-terik-sekali. Dandanan kami semua hampir hancuwrw lebuwrw (pake logat cadelnya Faris). Tapi tetep aja, cuaca tidak mengahalangi kami untuk berpose hehehe. Prosesi foto butah kami terdiri dari dua sesi foto.
Sesi pertama adalah foto bareng-bareng dengan wali kelas. Kami mengenakan pakaian semi formal putih saat sesi pertama. Jujur, semua terlihat beda. Anak-anak cowok jadi lebih rapi dan makin ganteng. Sedangkan, anak-anak cewek makin cantik dengan sapuan make-up. Dan saat sesi kedua, kami menggunakan pakaian bebas sesuai dengan kebijakan dari masing-masing kelompok. Anak-anak cowok lebih banyak yang menggunakan T-shirt  atau kaos, sedangkan, anak-anak cewek lebih bervariasi. Ada yang mengenakan baju kemeja dibalut dengan rok dan ada juga yang mengenakan T-shirt dengan celana. Sesi pertama pun dimulai. Kami harus susah payah berpose dengan cuaca yang kurang mendukung (re: sangat panas). Dan “kesenangan” kami pun makin indah, karena agensi yang selalu mengulang prosesi foto. Mungkin, mas-mas agensi ketagihan dengan senyum dan pose kami. Hehehe.
Setelah selesai sesi foto pertama, kami melanjutkan sesi foto kedua. Sebelumnya, kami sempet melakukan breaktime solat dan makan siang. Satu per satu, tiap kelompok berpose dan melempar senyum ke arah kamera. Walaupun, sempet tertunda karena turun hujan, tapi tetep gak menghilangkan semangat kami. Tiap kelompok menentukan sendiri tempat mana yang menjadi tempat foto mereka. Kebanyakan tiap kelompok memilih tempat yang berbeda satu sama lain. Namun, ada juga yang memilih tempat yang sama. Ada yang foto dengan tema bermain pasir, di jembatan kayu, dan masih banyak lagi. Akhirnya sekitar jam 19.30, prosesi foto butah kami pun selesai. Kami bersiap-siap kembali ke rumah masing-masing. Suasana di dalam bis gak serame saat kami berangkat. Mungkin, karena udah malam dan kondisi kami udah lelah dengan aktivitas “pemotretan” yang cukup padat dari pagi hari. Akhirnya, kebanyakan dari kami tidur di dalam bis, ya walaupun ada sebagian anak-anak cowok yang batrainya masih full  terus mereka bernyanyi konyol (lagi). Perjalanan pulang cukup lama, karena kondisi jalanan yang padat merayap. Namanya juga Jakarta J. Akhirnya, sekitar jam 21.00 kami sampe di sekolah. Setelah pamitan dengan wali kelas, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Ada yang dijemput dan ada pula yang mandiri alias memilih untuk pulang sendiri.
HUWAAAAAAAA AKHIRNYA PROSESI FOTO BUTAH KITA SELESAI JUGA, GUYS! Semuanya udah se-le-sai. Walaupun turun hujan dan ada beberapa “masalah kecil” yang akhirnya bisa diatasi. Pokoknya, terimakasih sekali untuk semuanya. Makasih untuk Bu Dian, yang udah nyempetin waktu untuk kami. Makasih untuk dua mas-mas agensi yang udah sabar banget ngadepin pose-pose dan permintaan-permintaan aneh kami. Makasih untuk bapak supir dan mas kenek-nya yang udah “sabaaaaaaaaaaaaaaar” banget nungguin kami sampe acara selesai. Makasih untuk semua panitia buku tahunan kelas. Makasih untuk Farras yang udah rela-relain repot dan pusing dengan tanggung jawab luarrrr biasa banget. Makasih untuk Firman yang dari awal sampe di Ancol udah rela bantuin Farras ngurus acara sampe selesai. Makasih untuk Shabrina yang udah mau ribet bantuin Firman buat nagih uang butah ke anak-anak. Makasih untuk Osi, Sifa, Adel, dan Findya yang udah mau repot ngebantuin anak-anak cewek mempercantik diri. Makasih untuk semua anak cowok yang selalu menghibur dengan berbagai macam jurus lawak selama perjalanan. Makasih untuk semua anak cewek yang udah bahu-membahu saling mem-vermak penampilan. Makasih semuanya yang udah rela waktu malam-mingguan-nya sama keluarga atau pacar diambil cuma untuk foto butah. Sekali lagi, makasih untuk semua (gak bisa disebutin satu per satu) yang udah terlibat dalam prosesi foto buku tahunan XII IPA1. Maaf, kalo selama ini, dari panitia buku tahunan kelas atau dari yang lain, ada kata-kata yang gak berkenan. Semoga hasil foto butah bagus dan maksimal daaaan sukses untuk UN dan PTN-nya scornerz!

“Hal sederhana bisa menjadi sangat luar biasa"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar