Aduh!
Penuh banget sih! batin Kania.
Bagi Kania, pagi ini adalah
hari terburuknya. Mengapa? Karena, pertama Kania telat bangun dan tidak sempat
sarapan dan alasan kedua dia harus berangkat ke sekolah sendiri karena papanya
udah berangkat duluan. Dengan terpaksa, Kania harus naik angkutan umum (re: bis
kota).
Naik bis yang penuh sesak
adalah pengalaman yang paling buruk untuk Kania. Bis itu tidak hanya berisi
orang-orang, namun juga menciptakan aroma-aroma aneh yang membuat hidung Kania
sakit. Mulai dari aroma ketiak orang yang bercampur dengan keringat sampai
aroma perfume murahan yang biasa
dijual di pasar tradisional. Sungguh, ini membuat Kania mual. Sangat mual.
Setelah bersusah payah menahan untuk gak
mencium ribuan aroma aneh itu, akhirnya Kania sampai di depan sekolahnya.
Dengan sangat gesit, Kania turun dari bis itu. Sambil mengambil napas, Kania
segera berlari masuk menuju sekolahnya.
*****
Lengkap sudah penderitaan
Kania. Setelah peristiwa telat bangun dan naik bis yang penuh sesak, kini Kania
pun terlambat masuk sekolah. Akibatnya, dia dihukum oleh guru piket. Hukumannya
adalah Kania tidak boleh mengikuti dua jam pelajaran pertama dan ditambah
dengan lari keliling lapangan sebanyak 20 kali. Hal ini membuat tenaga Kania
terkuras habis.
Hukuman tadi pagi masih
membuat Kania capek. Catatan matematika di papan tulis pun sama sekali belum
dia catat. Jika Bu Sandra—guru matematika—sedang menulis di papan tulis, Kania
segera menidurkan kepalanya di meja. Tidak lama setelah Kania menidurkan
kepalanya, bel istirahat berbunyi. Rupanya dewi fortuna sedang berpihak pada
Kania. Seketika rasa kantuk Kania pun hilang. Dia segera menuju kantin sekolah.
“Hei, Kan, tadi kenapa
telat? Nih, buat lo”, tanya Valdo yang membawakan Kania sebuah minuman.
“Hemm, thanks, Val. Hari ini tuh gue sial banget. Udah telat bangun terus
harus naik bis yang penuh banget pula. Yaudah deh, gue jadi telat”, jawab Kania
lemas.
“Loh, emang papa lo kemana?
Tumben banget, lo mau naik bis. Hahaha”, ejek Valdo.
“Papa gue udah berangkat
duluan, jadi ya terpaksa gue harus berangkat sendiri. Pokoknya badmood
banget gue! Eh, tapi kok lo tau gue telat?”, ucap Kania.
“Gue tadi liat lo lari di
lapangan. Yaudah jangan bete dong. Makan tuh bakso lo. Ntar dingin, gak enak”,
jawab Valdo.
Kania memang sudah berteman
sejak lama dengan Valdo. Mereka mulai berteman sejak kelas 2 SMP sampai
sekarang kelas 10 SMA. Jadi, bisa dibilang Kania dan Valdo sudah dekat banget.
Bahkan mereka sudah tahu sisi baik-buruknya masing-masing.
Sepulang sekolah
rencananya, Kania dan Valdo ingin pergi ke toko buku. Ada novel teenlit
terbitan terbaru yang ingin dibeli Kania. Setelah bel pulang sekolah
berbunyi, Kania pun segera membereskan buku-buku di atas mejanya dan bergegas
menuju kelasnya Valdo.
“Val, jadi kan nemenin gue?”,
tanya Kania.
“Iye, iye, jadi. Udah, yuk!
Ambil motor, terus kita caww”, ajak
Valdo.
Selesainya Valdo
membereskan buku-buku pelajarannya, Kania dan Valdo pun segera keluar kelas.
Kania sudah tidak sabar ingin membeli novel favoritnya. Namun, sebelum sempat
sampai di parkiran sekolah ada seseorang yang memanggil nama Kania. Hal ini
membuat Kania dan Valdo menghentikan langkah mereka.
“Kan, Kania! Kania!”,
teriak Rico—cowok idola Kania—
“Eh, Rico. Kenapa, Ric?”,
jawab Kania gugup.
“Hah? Kenapa? Lo lupa? Hari
ini kita kan ada janji sama Bu Fidya buat ngomongin pensi kelas”, ucap Rico.
“Ya ampun! Aduh, maaf gue
lupa banget”, jawab Kania sambil menepuk kecil jidatnya.
“Yaudah, yuk! Udah ditunggu
Bu Fidya nih di ruang guru”, ajak Rico.
“Tapi, Ric. Gue udah ada janji
sama Valdo. Emang gak bisa ya kalo gue ijin. Kali ini aja, deh”, ucap Kania
memelas.
“Aduh, gak bisa, Kan. Kita
kan udah lama buat janji sama Bu Fidya. Ini juga mumpung Bu Fidya bisa. Udah,
ayo! Cepetan!”, jawab Rico tegas.
“Yaudah, Kan. Gue gapapa kok.
Udah sana lo pergi aja sama Rico”, ucap Valdo berusaha menetralkan suasana.
“Emm, maaf ya, Val. Ditunda
dulu acara jalan-nya”, jawab Kania merasa gak enak dengan Valdo.
“Iya, gapapa”, jawab Valdo.
Perasaan itu selalu muncul
dalam benak Valdo. Perasaan aneh yang membuat dia marah jika melihat Kania
jalan dengan cowok lain. Walaupun, itu Rico. Cowok yang memang ditaksir Kania.
Ah,
udahlah. Lo harus rela, Val! batin Valdo.
Kejadian kemarin siang
masih terngiang dalam ingatan Kania. Dia gak bisa melupakan momen langka itu.
Momen dimana Kania bisa bersama Rico, cowok impiannya sejak dulu. Ya, walaupun
untuk membicarakan masalah pensi dengan Bu Fidya. Namun, ada satu hal yang
masih mengganjal pikiran Kania. Dia masih merasa gak enak hati dengan Valdo,
sahabatnya.
Sejak kejadian kemarin
siang, Valdo sama sekali gak menghubungi Kania. Bahkan, sms dan telepon dari
Kania gak ada balasan dari Valdo. Valdo seolah menghilang begitu saja. Hal
inilah yang membuat Kania yakin kalau Valdo marah dengannya. Begitu bel istirahat
berbunyi, Kania langsung ke kelas Valdo. Dia ingin minta maaf dengan Valdo.
“Val, gue ganggu gak?”,
tanya Kania.
“Emm, gak kok. Tumben,
kenapa lo kesini?”, jawab Valdo bingung.
“Lo marah ya sama gue
karena kejadian kemaren?”, tanya Kania to
the point.
“Marah? Siapa juga yang
marah sama lo? Ge-er banget sih lo. Hahaha”, jawab Valdo.
“Serius nih gak marah?
Uuuuww, lo emang sahabat gue yang paling baik deh, Val”, ucap Kania.
“Iya. Lagian apa alasan gue
buat marah coba? Udah sana balik ke kelas, udah mau masuk nih”, ucap Valdo.
“Ngusir nih ceritanya?
Yaudah deh, gue balik ke kelas ya. Oh iya, gue pinjem catatan fisika lo dong.
Besok mau ulangan nih. Yayaya?”, pinta Kania.
“Dasar, kebiasaan banget
deh. Yaudah, nih!”, jawab Valdo yang langsung memberikan buku catatan
fisikanya.
“Makasih, kakak Valdo. Eh,
nanti pulang bareng ya temenin gue ke toko buku. Ya, itung-itung ganti rugi
karena kemaren gak jadi. Oke? Bye, Val”, ucap Kania.
Valdo hanya tersenyum
simpul melihat tingkah Kania. Gadis itu memang pintar mengambil hatinya. Valdo
memang sempat kesal karena kejadian kemarin. Namun, rasa kesalnya hilang
setelah melihat tingkah Kania tadi. Valdo semakin menyayangi Kania, lebih dari
seorang sahabat.
*****
Sebenarnya malam ini, Kania
ingin melampiaskan rasa lelahnya dengan tidur secepat mungkin. Namun, ulangan
fisika besok membuat rencana Kania itu hilang begitu saja. Dengan terpaksa, dia
harus menyalin catatan fisika Valdo ke dalam buku catatan fisikanya. Dengan
lemas, Kania mengambil buku catatan fisika Valdo dari dalam tasnya.
Perlahan Kania mulai
membuka lembaran buku catatan fisika Valdo. Buku itu berwarna coklat dengan
tulisan “Valdo Aldiansyah – Catatan Fisika” pada bagian depan buku. Melihat
tulisan pada bagian depan buku itu saja Kania sudah gak bersemangat. Jujur,
fisika bukan pelajaran yang disukai Kania. Terlalu ribet dengan ribuan teori
dan prakteknya.
Namun, seketika lamunan
Kania buyar setelah dia melihat sepucuk surat jatuh dari dalam buku catatan
fisika Valdo. Surat dengan amplop biru itu membuat Kania sangat penasaran. Dia
ingin sekali tahu apa isi surat itu, tapi Kania sadar kalau surat itu bukan
haknya. Kania segera mengambil surat itu dan kembali meletakkan surat itu ke
dalam buku.
Kania kembali terkejut
ketika membaca tulisan pada bagian depan surat itu. Sebuah tulisan “Untuk
Kania” tertulis rapi pada bagian depan surat itu. Namun, satu hal yang membuat
Kania bingung. Tulisan itu adalah tulisan Valdo. Berbagai macam pertanyaan
muncul di pikiran Kania. Jika Valdo ingin menyampaikan sesuatu kepadanya,
mengapa harus melalui surat ini?
Cukup lama Kania memandangi
surat itu. Dia masih mencoba menghubungkan pertanyaan-pertanyaan dalam
pikirannya dengan surat itu. Perlahan Kania membuka surat itu. Tulisan “Untuk
Kania” pada surat itu yang membuatnya yakin, kalau surat itu memang untuk
dirinya. Kania membaca isi surat itu dengan seksama. Dia membaca tulisan Valdo.
Satu per satu semua
terungkap melalui surat itu. Surat itu berisi tentang bagaimana perasaan Valdo
kepada Kania. Kania sangat terkejut dengan isi surat itu. Air matanya pun jatuh
begitu saja. Hal ini seperti tamparan untuk Kania. Dia baru mengetahui kalau
Valdo, sahabatnya sejak SMP jatuh cinta kepadanya.
Dear
Kania,
Mungkin
lo akan ketawa kalo baca isi surat ini. Tapi, terserah lo mau anggap gue sahabat
macam apa. Jujur gue suka sama lo. Gue sayang sama lo lebih dari rasa
sayang sama seorang sahabat. Mungkin buat lo ini konyol. Tapi, itu
perasaan gue yang sebenarnya ke lo.
Jujur,
gue sakit hati waktu ngeliat kedekatan lo sama Rico. Tapi, gue berusaha untuk nahan semua perasaan gue, karena gue tau lo suka sama Rico sejak lama. Gue gak akan maksa lo buat sayang sama gue. Gue cuma mau lo tau kalo sampe
kapanpun gue akan tetep sayang sama lo.
Gue rela ngeliat lo bahagia. Walaupun kebahagiaan lo bukan buat gue. Gue akan
ikhlasin lo dengan Rico, karena gue tau cuma Rico yang bisa buat lo bahagia. Gue janji, gue gak akan ganggu lo dengan Rico. Gue akan berusaha
menyayangi lo sebagai sahabat gue. Gak lebih.
Valdo
Kania gak nyangka kalau
Valdo menyayangi dia lebih dari seorang sahabat. Kania merasa bersalah, karena
selama ini dia sudah menyia-nyiakan perasaan Valdo. Seseorang yang Kania anggap
sebagai sahabat ternyata mempunyai perasaan khusus kepadanya. Air mata pun gak
berhenti jatuh membasahi pipi Kania. Kania sangat terkejut membaca isi surat
itu.
Sahabat yang selama ini
selalu menemani hari-hari Kania, kini menjelma menjadi seseorang yang diam-diam
menyimpan perasaan kepada dirinya. Dan, bodohnya selama ini Kania gak pernah
menyadari hal itu. Dia justru memamerkan kebahagiaan bersama cowok lain—Rico—di
depan Valdo. Malam itu, Kania merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Penuh
penyesalan.
Valdo
harus jelasin semuanya! batin Kania.
*****
Setelah bel istirahat
berbunyi, Kania segera pergi menuju kelas Valdo. Selain untuk mengembalikan
buku catatan fisika milik Valdo, ada hal lain yang lebih penting yang harus dia
tanyakan pada Valdo. Ya, tentu saja tentang isi dari surat amplop biru itu.
Kania sudah gak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari Valdo. Baginya,
ini masalah serius. Sangat serius.
Sesampainya di depan kelas
Valdo, entah kenapa langkah Kania terhenti begitu saja. Mungkin karena sekarang
keadaannya berbeda. Kini Kania sudah mengetahui perasaan Valdo. Kania merasa
ada sesuatu yang menahannya. Ada jarak antara dia dengan Valdo. Akhirnya dengan
berat hati, Kania masuk ke kelas itu dan menemui Valdo. Cowok itu sedang
mengobrol dengan teman-temannya.
“Hai, Kan. Ada apa? Lo
sakit?” tanya Valdo ketika mendapati sahabatnya itu berdiri dihadapannya dengan
tatapan dingin.
“Gue cuma mau balikin buku
catatan lo aja. Thanks”, jawab Kania
dingin dan langsung berlari keluar kelas.
Suara Valdo yang
terus-terusan meneriaki namanya sama sekali gak menghentikan langkah Kania. Dia
terus berlari meninggalkan Valdo yang masih bingung dengan perubahan sikap
Kania. Sambil terus mengusap air mata di pipinya, Kania berlari menuju kamar
mandi sekolah, satu-satunya tempat yang dia percaya bisa menenangkan hatinya.
Disana, Kania menangis
sejadi-jadinya. Dia meluapkan semua perasaannya. Kania sendiri gak mengerti,
mengapa dia tidak menanyakan hal itu pada Valdo? Mengapa dia malah berlari
menghindari Valdo? Entahlah, butuh waktu agar Kania bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu. Yang dibutuhkan Kania saat ini hanyalah tempat yang sangat sepi untuk menenangkan
pikirannya yang sedang kacau. Hanya itu.
Di tempat berbeda, Valdo
masih bingung dengan sikap aneh Kania. Dia sangat khawatir sama cewek yang
sangat disayanginya itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kania? Kesalahan
apa yang sudah dia lakukan pada Kania, sampai Kania seolah-olah menjauhinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini bermunculan dalam pikiran Valdo.
Bel pulang sekolah telah
berbunyi. Koridor sekolah mulai dipenuhi anak-anak yang baru saja keluar dari
kelas masing-masing, termasuk Kania. Peristiwa di jam istirahat tadi masih
terngiang di pikirannya. Ingin sekali Kania menghampiri Valdo dan meminta
penjelasan. Tapi, lagi-lagi perasaan bersalah Kania menahan keinginannya itu.
Kania pun pulang sendiri dengan perasaan yang masih kacau.
Diam-diam Valdo
memperhatikan Kania. Dia sangat penasaran dengan perubahan sikap Kania. Valdo
ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Dia pun
mengikuti Kania sampai pulang. Sepanjang perjalanan, Valdo mendapati Kania
melamun. Ingin sekali Valdo menghampiri Kania. Namun, dia mengurungkan niatnya.
Valdo yakin Kania masih butuh waktu untuk sendiri. Setelah melihat Kania sudah
masuk ke dalam rumahnya, Valdo pergi dari tempat persembunyiannya.
Sesampainya di rumah, Kania
masih saja memikirkan Valdo. Dia ingin sekali mendengar penjelasan dari Valdo.
Namun, lagi-lagi perasaan itu kembali menahannya. Perasaan bersalah pada Valdo.
Untuk beberapa waktu ini, akhirnya Kania memutuskan untuk menghindari Valdo.
Hal ini dilakukan Kania, untuk menenangkan pikirannya.
Tok...tok...tok!
Suara ketukan pintu
mengagetkan Kania. Sebenarnya Kania malas sekali membukakan pintu kamarnya itu.
Namun, suara Mamanya dari luar pintu memaksa Kania untuk membuka pintu
kamarnya.
“Kamu kenapa sih sayang?
Lagi berantem ya sama Valdo?”, tanya Mama Kania.
“Ehm, apaan sih Mah. Enggak
kok”, jawab Kania datar.
“Yaudah kalo gitu. Kalo
kamu ada masalah, selesain dengan baik-baik. Oh, iya ini ada surat dari Valdo”,
ucap Mama Kania sambil memberikan sepucuk surat dari Valdo.
“Surat? Kapan Valdo kasih
surat ini ke Mamah?”, tanya Kania agak sedikit bingung.
“Kemarin Mamah gak sengaja
ngeliat dia di depan rumah. Mamah suruh masuk, tapi dia gak mau dan dia malah
kasih surat ini. Katanya untuk kamu. Yaudah deh, Mamah keluar dulu ya. Jangan
galau lagi”, ucap Mama Kania yang berlalu keluar kamar Kania.
Valdo
ngasih gue surat? Apa sih maksudnya? batin
Kania.
Setelah Mamanya keluar dari
kamar, Kania kembali memandangi surat dari Valdo. Surat beramplop biru itu
sangat membuat Kania penasaran. Sebenarnya apa isi dari surat itu? Tanpa pikir
panjang, Kania segera membaca isi surat itu.
Dear
Kania,
Gue
tau alasan kenapa lo ngejauhin gue, Kan. Waktu lo ngembaliin buku catatan gue,
gak sengaja gue nemuin surat yang gue tulis buat lo dari dalam buku itu. Gue
minta maaf sama lo karena selama ini gue gak jujur sama lo. Tapi, gue janji gue
akan ngejelasin semuanya besok sore di taman komplek. Please, Kan, kali ini lo
mau ya denger semua penjelasan gue. Gue berharap banget lo dateng.
Valdo
Ternyata benar dugaan
Kania. Valdo udah tahu tentang surat yang dia temukan dalam buku catatan fisika
Valdo. Kania ingin sekali mendengar semua penjelasan Valdo. Dia ingin tahu
sebenarnya sudah berapa lama Valdo memiliki perasaan terhadap dirinya. Ya,
Kania sudah memutuskan. Besok, dia harus menemui Valdo di taman. Valdo harus
menjelaskan semuanya.
*****
Keesokan harinya, Kania
segera menuju taman dekat komplek rumahnya untuk menemui Valdo. Dia tidak ingin
terlambat datang kesana. Rasa penasaran membunuh semua perasaan bersalah Kania.
Jujur, Kania sebenarnya sudah mulai rindu dengan sahabatnya itu. Entah, rasa
rindu sebagai seorang sahabat atau rasa rindu terhadap seseorang yang mulai
punya tempat khusus di hatinya.
Sesampainya disana, Kania
melihat Valdo sedang duduk di bangku taman. Sudah pasti Valdo sedang menunggu
dirinya. Dengan langkah yang ragu dan jantung yang berdegup kencang, Kania
menghampiri Valdo. Sebelum memanggil Valdo yang memunggungi dirinya, Kania
mengambil napas yang cukup panjang.
“Valdo..,” panggil Kania
sambil menyentuh pundak Valdo.
“Kania, sini Kan, duduk
sebelah gue”, jawab Valdo.
Seketika suasana di taman
itu sangat sunyi. Baik Kania maupun Valdo tidak ada yang memulai percakapan.
Keduanya diam. Mereka ikut hanyut dengan suasana taman yang sepi. Mereka saling
berpikir tentang kata-kata apa yang harus mereka ucapkan. Sampai akhirnya,
suara Valdo memecah keheningan di taman itu.
“Kita ini udah lumayan lama
ya jadi sahabat. Dari jamannya kita masih SMP sampe sekarang udah SMA kayak
gini. Kalo boleh jujur ya, Kan. Gue udah mulai suka sama lo sejak awal kita
ketemu. Waktu lo minta bantuan gue buat ngasih buku ke Bu Lina, lo inget kan? Sejak
itu gue mulai suka sama lo”, ucap Valdo.
“Tapi kenapa, Val? Kenapa
lo gak pernah bilang sama gue? Kenapa lo gak jujur sama perasaan lo?”, tanya
Kania.
“Gue gak mau kalo nantinya
lo ngejauhin gue setelah tau perasaan gue yang sebenarnya ke lo. Gue cuma gak
mau lo jauh dari gue dan gak mau jadi sahabat gue, Kan”, jawab Valdo sambil
memandangi wajah manis Kania.
“Lo salah, Val. Gue gak
mungkin ngejauhin lo kalo seandainya lo jujur dari dulu sama gue”, ucap Kania.
“Tapi gue yakin, lo gak
akan mau nerima cinta gue, Kan. Karena gue tau, dari dulu lo cuma suka sama
Rico bukan gue. Makanya gue gak pernah mau jujur, karena gue gak mau ngerusak
kebahagiaan lo sama Rico”, ucap Valdo berusaha menjelaskan alasannya.
“Maafin gue, Val. Maafin
karena selama ini gue gak pernah peka sama perasaan lo. Beberapa hari yang lalu
gue ngejauhin lo itu karena gue ngerasa bersalah banget sama lo. Gue ngerasa
jadi orang yang jahat banget sama lo”, tegas Kania yang akhirnya tidak bisa
menahan air matanya.
“Lo gak salah, Kan. Gue yang
salah karena udah berani suka sama sahabat gue sendiri. Gue gak akan maksa lo
buat bales perasaan gue, Kan. Lo tenang aja, kita masih bisa jadi sahabat.
Anggap aja gak pernah terjadi apa-apa ya. Gue sayang sama lo sampai kapanpun”,
ucap Valdo sambil mengecup kening Kania dan berlalu meninggalkan taman.
“Valdo! Gue sayang sama lo
dan gue gak mau kehilangan lo. Please, jangan
tinggalin gue, Val”, teriak Kania. Teriakan ini membuat langkah Valdo terhenti.
“Gue emang bodoh, Val. Gue
baru sadar, kalo selama ini rasa sayang gue udah lebih dari rasa sayang ke
sahabatnya sendiri. Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Maafin gue”, ucap
Kania lirih dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Kania menangis.
“Kan, lo gak perlu minta
maaf. Makasih karena lo udah jujur sama perasaan lo. Gue sayang banget sama lo”,
jawab Valdo yang segera menghampiri dan memeluk Kania.
“Gue janji Val, gue akan
jadi pacar yang baik buat lo. Gue akan berusaha sayang dan cinta yang tulus
sama lo. Gue janji”, ucap Kania.
“Lo gak perlu berubah jadi
apapun, Kan. Gue sayang sama Kania yang apa adanya. Kania yang cerewet, jutek,
nyebelin tapi ngangenin hehehe. Eh, tapi kalo kita jadian, Rico gimana?”, tanya Valdo agak sedikit meledek.
“Ih, pokoknya gue maunya sama lo, Val. Gue sayang bangetnya sama lo”, jawab Kania cemberut.
Valdo tersenyum mendengar jawaban Kania. Ciuman Valdo di kening Kania udah menjadi bukti rasa sayang Valdo untuk Kania. Seketika suasana di taman
itu menjadi indah. Angin bertiup lembut, seolah ikut merasakan kebahagiaan
Kania dan Valdo. Akhirnya Kania mendapatkan kebahagiaannya. Dia telah menemukan
tambatan hatinya. Dan tambatan hati itu sahabatnya, Valdo.
-kzp-