Sabtu, 06 Juli 2013

Tambatan Hati Itu.... Sahabatku

Aduh! Penuh banget sih!  batin Kania.
Bagi Kania, pagi ini adalah hari terburuknya. Mengapa? Karena, pertama Kania telat bangun dan tidak sempat sarapan dan alasan kedua dia harus berangkat ke sekolah sendiri karena papanya udah berangkat duluan. Dengan terpaksa, Kania harus naik angkutan umum (re: bis kota).
Naik bis yang penuh sesak adalah pengalaman yang paling buruk untuk Kania. Bis itu tidak hanya berisi orang-orang, namun juga menciptakan aroma-aroma aneh yang membuat hidung Kania sakit. Mulai dari aroma ketiak orang yang bercampur dengan keringat sampai aroma perfume murahan yang biasa dijual di pasar tradisional. Sungguh, ini membuat Kania mual. Sangat mual.
 Setelah bersusah payah menahan untuk gak mencium ribuan aroma aneh itu, akhirnya Kania sampai di depan sekolahnya. Dengan sangat gesit, Kania turun dari bis itu. Sambil mengambil napas, Kania segera berlari masuk menuju sekolahnya.

*****

Lengkap sudah penderitaan Kania. Setelah peristiwa telat bangun dan naik bis yang penuh sesak, kini Kania pun terlambat masuk sekolah. Akibatnya, dia dihukum oleh guru piket. Hukumannya adalah Kania tidak boleh mengikuti dua jam pelajaran pertama dan ditambah dengan lari keliling lapangan sebanyak 20 kali. Hal ini membuat tenaga Kania terkuras habis.
Hukuman tadi pagi masih membuat Kania capek. Catatan matematika di papan tulis pun sama sekali belum dia catat. Jika Bu Sandra—guru matematika—sedang menulis di papan tulis, Kania segera menidurkan kepalanya di meja. Tidak lama setelah Kania menidurkan kepalanya, bel istirahat berbunyi. Rupanya dewi fortuna sedang berpihak pada Kania. Seketika rasa kantuk Kania pun hilang. Dia segera menuju kantin sekolah.
“Hei, Kan, tadi kenapa telat? Nih, buat lo”, tanya Valdo yang membawakan Kania sebuah minuman.
“Hemm, thanks, Val. Hari ini tuh gue sial banget. Udah telat bangun terus harus naik bis yang penuh banget pula. Yaudah deh, gue jadi telat”, jawab Kania lemas.
“Loh, emang papa lo kemana? Tumben banget, lo mau naik bis. Hahaha”, ejek Valdo.
“Papa gue udah berangkat duluan, jadi ya terpaksa gue harus berangkat sendiri. Pokoknya badmood  banget gue! Eh, tapi kok lo tau gue telat?”, ucap Kania.
“Gue tadi liat lo lari di lapangan. Yaudah jangan bete dong. Makan tuh bakso lo. Ntar dingin, gak enak”, jawab Valdo.
Kania memang sudah berteman sejak lama dengan Valdo. Mereka mulai berteman sejak kelas 2 SMP sampai sekarang kelas 10 SMA. Jadi, bisa dibilang Kania dan Valdo sudah dekat banget. Bahkan mereka sudah tahu sisi baik-buruknya masing-masing.
Sepulang sekolah rencananya, Kania dan Valdo ingin pergi ke toko buku. Ada novel teenlit  terbitan terbaru yang ingin dibeli Kania. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Kania pun segera membereskan buku-buku di atas mejanya dan bergegas menuju kelasnya Valdo.
“Val, jadi kan nemenin gue?”, tanya Kania.
“Iye, iye, jadi. Udah, yuk! Ambil motor, terus kita caww”, ajak Valdo.
Selesainya Valdo membereskan buku-buku pelajarannya, Kania dan Valdo pun segera keluar kelas. Kania sudah tidak sabar ingin membeli novel favoritnya. Namun, sebelum sempat sampai di parkiran sekolah ada seseorang yang memanggil nama Kania. Hal ini membuat Kania dan Valdo menghentikan langkah mereka.
“Kan, Kania! Kania!”, teriak Rico—cowok idola Kania—
“Eh, Rico. Kenapa, Ric?”, jawab Kania gugup.
“Hah? Kenapa? Lo lupa? Hari ini kita kan ada janji sama Bu Fidya buat ngomongin pensi kelas”, ucap Rico.
“Ya ampun! Aduh, maaf gue lupa banget”, jawab Kania sambil menepuk kecil jidatnya.
“Yaudah, yuk! Udah ditunggu Bu Fidya nih di ruang guru”, ajak Rico.
“Tapi, Ric. Gue udah ada janji sama Valdo. Emang gak bisa ya kalo gue ijin. Kali ini aja, deh”, ucap Kania memelas.
“Aduh, gak bisa, Kan. Kita kan udah lama buat janji sama Bu Fidya. Ini juga mumpung Bu Fidya bisa. Udah, ayo! Cepetan!”, jawab Rico tegas.
“Yaudah, Kan. Gue gapapa kok. Udah sana lo pergi aja sama Rico”, ucap Valdo berusaha menetralkan suasana.
“Emm, maaf ya, Val. Ditunda dulu acara jalan-nya”, jawab Kania merasa gak enak dengan Valdo.
“Iya, gapapa”, jawab Valdo.
Perasaan itu selalu muncul dalam benak Valdo. Perasaan aneh yang membuat dia marah jika melihat Kania jalan dengan cowok lain. Walaupun, itu Rico. Cowok yang memang ditaksir Kania.
Ah, udahlah. Lo harus rela, Val!  batin Valdo.

Kejadian kemarin siang masih terngiang dalam ingatan Kania. Dia gak bisa melupakan momen langka itu. Momen dimana Kania bisa bersama Rico, cowok impiannya sejak dulu. Ya, walaupun untuk membicarakan masalah pensi dengan Bu Fidya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal pikiran Kania. Dia masih merasa gak enak hati dengan Valdo, sahabatnya.
Sejak kejadian kemarin siang, Valdo sama sekali gak menghubungi Kania. Bahkan, sms dan telepon dari Kania gak ada balasan dari Valdo. Valdo seolah menghilang begitu saja. Hal inilah yang membuat Kania yakin kalau Valdo marah dengannya. Begitu bel istirahat berbunyi, Kania langsung ke kelas Valdo. Dia ingin minta maaf dengan Valdo.
“Val, gue ganggu gak?”, tanya Kania.
“Emm, gak kok. Tumben, kenapa lo kesini?”, jawab Valdo bingung.
“Lo marah ya sama gue karena kejadian kemaren?”, tanya Kania to the point.
“Marah? Siapa juga yang marah sama lo? Ge-er banget sih lo. Hahaha”, jawab Valdo.
“Serius nih gak marah? Uuuuww, lo emang sahabat gue yang paling baik deh, Val”, ucap Kania.
“Iya. Lagian apa alasan gue buat marah coba? Udah sana balik ke kelas, udah mau masuk nih”, ucap Valdo.
“Ngusir nih ceritanya? Yaudah deh, gue balik ke kelas ya. Oh iya, gue pinjem catatan fisika lo dong. Besok mau ulangan nih. Yayaya?”, pinta Kania.
“Dasar, kebiasaan banget deh. Yaudah, nih!”, jawab Valdo yang langsung memberikan buku catatan fisikanya.
“Makasih, kakak Valdo. Eh, nanti pulang bareng ya temenin gue ke toko buku. Ya, itung-itung ganti rugi karena kemaren gak jadi. Oke? Bye, Val”, ucap Kania.
Valdo hanya tersenyum simpul melihat tingkah Kania. Gadis itu memang pintar mengambil hatinya. Valdo memang sempat kesal karena kejadian kemarin. Namun, rasa kesalnya hilang setelah melihat tingkah Kania tadi. Valdo semakin menyayangi Kania, lebih dari seorang sahabat.

*****

Sebenarnya malam ini, Kania ingin melampiaskan rasa lelahnya dengan tidur secepat mungkin. Namun, ulangan fisika besok membuat rencana Kania itu hilang begitu saja. Dengan terpaksa, dia harus menyalin catatan fisika Valdo ke dalam buku catatan fisikanya. Dengan lemas, Kania mengambil buku catatan fisika Valdo dari dalam tasnya.
Perlahan Kania mulai membuka lembaran buku catatan fisika Valdo. Buku itu berwarna coklat dengan tulisan “Valdo Aldiansyah – Catatan Fisika” pada bagian depan buku. Melihat tulisan pada bagian depan buku itu saja Kania sudah gak bersemangat. Jujur, fisika bukan pelajaran yang disukai Kania. Terlalu ribet dengan ribuan teori dan prakteknya.
Namun, seketika lamunan Kania buyar setelah dia melihat sepucuk surat jatuh dari dalam buku catatan fisika Valdo. Surat dengan amplop biru itu membuat Kania sangat penasaran. Dia ingin sekali tahu apa isi surat itu, tapi Kania sadar kalau surat itu bukan haknya. Kania segera mengambil surat itu dan kembali meletakkan surat itu ke dalam buku.
Kania kembali terkejut ketika membaca tulisan pada bagian depan surat itu. Sebuah tulisan “Untuk Kania” tertulis rapi pada bagian depan surat itu. Namun, satu hal yang membuat Kania bingung. Tulisan itu adalah tulisan Valdo. Berbagai macam pertanyaan muncul di pikiran Kania. Jika Valdo ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, mengapa harus melalui surat ini?
Cukup lama Kania memandangi surat itu. Dia masih mencoba menghubungkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya dengan surat itu. Perlahan Kania membuka surat itu. Tulisan “Untuk Kania” pada surat itu yang membuatnya yakin, kalau surat itu memang untuk dirinya. Kania membaca isi surat itu dengan seksama. Dia membaca tulisan Valdo.
Satu per satu semua terungkap melalui surat itu. Surat itu berisi tentang bagaimana perasaan Valdo kepada Kania. Kania sangat terkejut dengan isi surat itu. Air matanya pun jatuh begitu saja. Hal ini seperti tamparan untuk Kania. Dia baru mengetahui kalau Valdo, sahabatnya sejak SMP jatuh cinta kepadanya.

Dear Kania,
Mungkin lo akan ketawa kalo baca isi surat ini. Tapi, terserah lo mau anggap gue sahabat macam apa. Jujur gue suka sama lo. Gue sayang sama lo lebih dari rasa sayang sama seorang sahabat. Mungkin buat lo ini konyol. Tapi, itu perasaan gue yang sebenarnya ke lo.
Jujur, gue sakit hati waktu ngeliat kedekatan lo sama Rico. Tapi, gue berusaha untuk nahan semua perasaan gue, karena gue tau lo suka sama Rico sejak lama. Gue gak akan maksa lo buat sayang sama gue. Gue cuma mau lo tau kalo sampe kapanpun gue akan tetep sayang sama lo.
Gue rela ngeliat lo bahagia. Walaupun kebahagiaan lo bukan buat gue. Gue akan ikhlasin lo dengan Rico, karena gue tau cuma Rico yang bisa buat lo bahagia. Gue janji, gue gak akan ganggu lo dengan Rico. Gue akan berusaha menyayangi lo sebagai sahabat gue. Gak lebih.


Valdo

Kania gak nyangka kalau Valdo menyayangi dia lebih dari seorang sahabat. Kania merasa bersalah, karena selama ini dia sudah menyia-nyiakan perasaan Valdo. Seseorang yang Kania anggap sebagai sahabat ternyata mempunyai perasaan khusus kepadanya. Air mata pun gak berhenti jatuh membasahi pipi Kania. Kania sangat terkejut membaca isi surat itu.
Sahabat yang selama ini selalu menemani hari-hari Kania, kini menjelma menjadi seseorang yang diam-diam menyimpan perasaan kepada dirinya. Dan, bodohnya selama ini Kania gak pernah menyadari hal itu. Dia justru memamerkan kebahagiaan bersama cowok lain—Rico—di depan Valdo. Malam itu, Kania merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Penuh penyesalan.
Valdo harus jelasin semuanya!  batin Kania.

*****

Setelah bel istirahat berbunyi, Kania segera pergi menuju kelas Valdo. Selain untuk mengembalikan buku catatan fisika milik Valdo, ada hal lain yang lebih penting yang harus dia tanyakan pada Valdo. Ya, tentu saja tentang isi dari surat amplop biru itu. Kania sudah gak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari Valdo. Baginya, ini masalah serius. Sangat serius.
Sesampainya di depan kelas Valdo, entah kenapa langkah Kania terhenti begitu saja. Mungkin karena sekarang keadaannya berbeda. Kini Kania sudah mengetahui perasaan Valdo. Kania merasa ada sesuatu yang menahannya. Ada jarak antara dia dengan Valdo. Akhirnya dengan berat hati, Kania masuk ke kelas itu dan menemui Valdo. Cowok itu sedang mengobrol dengan teman-temannya.
“Hai, Kan. Ada apa? Lo sakit?” tanya Valdo ketika mendapati sahabatnya itu berdiri dihadapannya dengan tatapan dingin.
“Gue cuma mau balikin buku catatan lo aja. Thanks”, jawab Kania dingin dan langsung berlari keluar kelas.
Suara Valdo yang terus-terusan meneriaki namanya sama sekali gak menghentikan langkah Kania. Dia terus berlari meninggalkan Valdo yang masih bingung dengan perubahan sikap Kania. Sambil terus mengusap air mata di pipinya, Kania berlari menuju kamar mandi sekolah, satu-satunya tempat yang dia percaya bisa menenangkan hatinya.
Disana, Kania menangis sejadi-jadinya. Dia meluapkan semua perasaannya. Kania sendiri gak mengerti, mengapa dia tidak menanyakan hal itu pada Valdo? Mengapa dia malah berlari menghindari Valdo? Entahlah, butuh waktu agar Kania bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang dibutuhkan Kania saat ini hanyalah  tempat yang sangat sepi untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Hanya itu.
Di tempat berbeda, Valdo masih bingung dengan sikap aneh Kania. Dia sangat khawatir sama cewek yang sangat disayanginya itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kania? Kesalahan apa yang sudah dia lakukan pada Kania, sampai Kania seolah-olah menjauhinya? Pertanyaan-pertanyaan itu kini bermunculan dalam pikiran Valdo.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Koridor sekolah mulai dipenuhi anak-anak yang baru saja keluar dari kelas masing-masing, termasuk Kania. Peristiwa di jam istirahat tadi masih terngiang di pikirannya. Ingin sekali Kania menghampiri Valdo dan meminta penjelasan. Tapi, lagi-lagi perasaan bersalah Kania menahan keinginannya itu. Kania pun pulang sendiri dengan perasaan yang masih kacau.
Diam-diam Valdo memperhatikan Kania. Dia sangat penasaran dengan perubahan sikap Kania. Valdo ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Dia pun mengikuti Kania sampai pulang. Sepanjang perjalanan, Valdo mendapati Kania melamun. Ingin sekali Valdo menghampiri Kania. Namun, dia mengurungkan niatnya. Valdo yakin Kania masih butuh waktu untuk sendiri. Setelah melihat Kania sudah masuk ke dalam rumahnya, Valdo pergi dari tempat persembunyiannya.
Sesampainya di rumah, Kania masih saja memikirkan Valdo. Dia ingin sekali mendengar penjelasan dari Valdo. Namun, lagi-lagi perasaan itu kembali menahannya. Perasaan bersalah pada Valdo. Untuk beberapa waktu ini, akhirnya Kania memutuskan untuk menghindari Valdo. Hal ini dilakukan Kania, untuk menenangkan pikirannya.

Tok...tok...tok!
Suara ketukan pintu mengagetkan Kania. Sebenarnya Kania malas sekali membukakan pintu kamarnya itu. Namun, suara Mamanya dari luar pintu memaksa Kania untuk membuka pintu kamarnya.
“Kamu kenapa sih sayang? Lagi berantem ya sama Valdo?”, tanya Mama Kania.
“Ehm, apaan sih Mah. Enggak kok”, jawab Kania datar.
“Yaudah kalo gitu. Kalo kamu ada masalah, selesain dengan baik-baik. Oh, iya ini ada surat dari Valdo”, ucap Mama Kania sambil memberikan sepucuk surat dari Valdo.
“Surat? Kapan Valdo kasih surat ini ke Mamah?”, tanya Kania agak sedikit bingung.
“Kemarin Mamah gak sengaja ngeliat dia di depan rumah. Mamah suruh masuk, tapi dia gak mau dan dia malah kasih surat ini. Katanya untuk kamu. Yaudah deh, Mamah keluar dulu ya. Jangan galau lagi”, ucap Mama Kania yang berlalu keluar kamar Kania.

Valdo ngasih gue surat? Apa sih maksudnya? batin Kania.
Setelah Mamanya keluar dari kamar, Kania kembali memandangi surat dari Valdo. Surat beramplop biru itu sangat membuat Kania penasaran. Sebenarnya apa isi dari surat itu? Tanpa pikir panjang, Kania segera membaca isi surat itu.

Dear Kania,
Gue tau alasan kenapa lo ngejauhin gue, Kan. Waktu lo ngembaliin buku catatan gue, gak sengaja gue nemuin surat yang gue tulis buat lo dari dalam buku itu. Gue minta maaf sama lo karena selama ini gue gak jujur sama lo. Tapi, gue janji gue akan ngejelasin semuanya besok sore di taman komplek. Please, Kan, kali ini lo mau ya denger semua penjelasan gue. Gue berharap banget lo dateng.


Valdo

Ternyata benar dugaan Kania. Valdo udah tahu tentang surat yang dia temukan dalam buku catatan fisika Valdo. Kania ingin sekali mendengar semua penjelasan Valdo. Dia ingin tahu sebenarnya sudah berapa lama Valdo memiliki perasaan terhadap dirinya. Ya, Kania sudah memutuskan. Besok, dia harus menemui Valdo di taman. Valdo harus menjelaskan semuanya.

*****

Keesokan harinya, Kania segera menuju taman dekat komplek rumahnya untuk menemui Valdo. Dia tidak ingin terlambat datang kesana. Rasa penasaran membunuh semua perasaan bersalah Kania. Jujur, Kania sebenarnya sudah mulai rindu dengan sahabatnya itu. Entah, rasa rindu sebagai seorang sahabat atau rasa rindu terhadap seseorang yang mulai punya tempat khusus di hatinya.
Sesampainya disana, Kania melihat Valdo sedang duduk di bangku taman. Sudah pasti Valdo sedang menunggu dirinya. Dengan langkah yang ragu dan jantung yang berdegup kencang, Kania menghampiri Valdo. Sebelum memanggil Valdo yang memunggungi dirinya, Kania mengambil napas yang cukup panjang.
“Valdo..,” panggil Kania sambil menyentuh pundak Valdo.
“Kania, sini Kan, duduk sebelah gue”, jawab Valdo.
Seketika suasana di taman itu sangat sunyi. Baik Kania maupun Valdo tidak ada yang memulai percakapan. Keduanya diam. Mereka ikut hanyut dengan suasana taman yang sepi. Mereka saling berpikir tentang kata-kata apa yang harus mereka ucapkan. Sampai akhirnya, suara Valdo memecah keheningan di taman itu.
“Kita ini udah lumayan lama ya jadi sahabat. Dari jamannya kita masih SMP sampe sekarang udah SMA kayak gini. Kalo boleh jujur ya, Kan. Gue udah mulai suka sama lo sejak awal kita ketemu. Waktu lo minta bantuan gue buat ngasih buku ke Bu Lina, lo inget kan? Sejak itu gue mulai suka sama lo”, ucap Valdo.
“Tapi kenapa, Val? Kenapa lo gak pernah bilang sama gue? Kenapa lo gak jujur sama perasaan lo?”, tanya Kania.
“Gue gak mau kalo nantinya lo ngejauhin gue setelah tau perasaan gue yang sebenarnya ke lo. Gue cuma gak mau lo jauh dari gue dan gak mau jadi sahabat gue, Kan”, jawab Valdo sambil memandangi wajah manis Kania.
“Lo salah, Val. Gue gak mungkin ngejauhin lo kalo seandainya lo jujur dari dulu sama gue”, ucap Kania.
“Tapi gue yakin, lo gak akan mau nerima cinta gue, Kan. Karena gue tau, dari dulu lo cuma suka sama Rico bukan gue. Makanya gue gak pernah mau jujur, karena gue gak mau ngerusak kebahagiaan lo sama Rico”, ucap Valdo berusaha menjelaskan alasannya.
“Maafin gue, Val. Maafin karena selama ini gue gak pernah peka sama perasaan lo. Beberapa hari yang lalu gue ngejauhin lo itu karena gue ngerasa bersalah banget sama lo. Gue ngerasa jadi orang yang jahat banget sama lo”, tegas Kania yang akhirnya tidak bisa menahan air matanya.
“Lo gak salah, Kan. Gue yang salah karena udah berani suka sama sahabat gue sendiri. Gue gak akan maksa lo buat bales perasaan gue, Kan. Lo tenang aja, kita masih bisa jadi sahabat. Anggap aja gak pernah terjadi apa-apa ya. Gue sayang sama lo sampai kapanpun”, ucap Valdo sambil mengecup kening Kania dan berlalu meninggalkan taman.
“Valdo! Gue sayang sama lo dan gue gak mau kehilangan lo. Please, jangan tinggalin gue, Val”, teriak Kania. Teriakan ini membuat langkah Valdo terhenti.
“Gue emang bodoh, Val. Gue baru sadar, kalo selama ini rasa sayang gue udah lebih dari rasa sayang ke sahabatnya sendiri. Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Maafin gue”, ucap Kania lirih dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Kania menangis.
“Kan, lo gak perlu minta maaf. Makasih karena lo udah jujur sama perasaan lo. Gue sayang banget sama lo”, jawab Valdo yang segera menghampiri dan memeluk Kania.
“Gue janji Val, gue akan jadi pacar yang baik buat lo. Gue akan berusaha sayang dan cinta yang tulus sama lo. Gue janji”, ucap Kania.
“Lo gak perlu berubah jadi apapun, Kan. Gue sayang sama Kania yang apa adanya. Kania yang cerewet, jutek, nyebelin tapi ngangenin hehehe. Eh, tapi kalo kita jadian, Rico gimana?”, tanya Valdo agak sedikit meledek.
“Ih, pokoknya gue maunya sama lo, Val. Gue sayang bangetnya sama lo”, jawab Kania cemberut.

Valdo tersenyum mendengar jawaban Kania. Ciuman Valdo di kening Kania udah menjadi bukti rasa sayang Valdo untuk Kania. Seketika suasana di taman itu menjadi indah. Angin bertiup lembut, seolah ikut merasakan kebahagiaan Kania dan Valdo. Akhirnya Kania mendapatkan kebahagiaannya. Dia telah menemukan tambatan hatinya. Dan tambatan hati itu sahabatnya, Valdo.






-kzp-

Rabu, 03 Juli 2013

Saat Keabnormalan Mempersatukan Kami



#crazystyle1: Gaya Bebas



#crazystyle2: Ala-Ala Chibi



#crazystyle3: Muka Tablo



#crazystyle4: Versi Resmi



#crazystyle5: Alay Bareng



#crazystyle6: Senyuuuum



#crazystyle7: Gaya Normal



#crazystyle8: Ciis...Ciiiisss

Mereka itu temen.
Mereka itu sahabat.
Mereka itu keluarga.
Mereka baik.
Mereka itu gila.
Mereka itu gokil.
Mereka itu asik.
Mereka itu kocak.
Mereka itu abnormal.
Mereka itu seru.
Mereka itu bully-ers.
Mereka itu ekspresif.
Mereka itu segalanya.


Makasih untuk semua lawakannya selama ini. Lagi dan lagi kalian mengisi liburan aku dengan penuh tawa ngakak. Makasih buat ke-tidaknormal-an kalian. Laffumoreguys