Kamis, 03 Februari 2022

Pulih

Hai, kamu apakabar?
Semoga baik ya.
Gimana perasaannya?
Semoga cepat pulih ya.

Jujur, ini berat tapi harus dilalui.
Aku sedang tidak baik-baik saja.
Dan mungkin kamu pun demikian.
Tapi gapapa.

Pelan-pelan saja ya dicoba.
Aku terbiasa tanpamu di hidupku.
Dan semoga kamu juga.
Bisa terbiasa tanpaku di hidupmu.

Rabu, 02 Februari 2022

Singgah

Enam tahun bukan waktu yang singkat.
Untuk dilupakan sangatlah berat.
Dulu ku kira kamu adalah rumah.
Ternyata hanya sementara singgah.

Kini aku sampai di titik ini.
Pernah menjadi yang paling cemas.
Sebelum akhirnya menjadi yang paling ikhlas.
Hidup memang kadang sebercanda itu.
Tapi semoga setelah ini, tidak lagi seperti itu.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Hai, Agustus!

Agustus,
Bolehkah aku bercerita denganmu?
Hmm aku anggap jawabannya iya.
Tentu kau sudah dengar dari Juli tentang hari-hariku.
Lebih tepatnya hari-hariku bersamanya.

Agustus,
Tahukah kamu tentang makna cinta?
Hmm maksudku... cinta dalam diam?
Mungkin kau akan bertanya mengapa aku menanyakan hal itu padamu.
Jawabannya adalah karena saat ini ia sedang menguasai hatiku.
Ia yang aku cintai dalam diamku.
Ia yang aku sayangi dalam doaku.
Dan ia yang aku harapkan dalam anganku.

Agustus,
Aku harap kau tidak tertawa dengan kalimat terakhir yang ku tulis.
Cukup Juli saja yang menertawakanku tentang hal itu.
Jujur aku bingung dengan perasaanku.
Aku mulai merindukan hal yang jelas-jelas bukan milikku.
Aku mulai mengharapkan hal yang jelas-jelas belum pasti untukku.
Tetapi memang seperti itulah kenyataannya.
Menyedihkan, bukan? Ya aku tahu.

Agustus,
Aku tidak mengharapkan jawaban darimu secepatnya.
Karena dasarnya aku hanya sedang bercerita padamu.
Urusanku dengan cinta dalam diamku itu biar aku yang atasi.
Tugasmu hanya yakinkanku dalam segala hal yang akan aku hadapi.
Dan jadilah teman terbaikku selama tiga puluh satu hari yang kau miliki.


“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”
-Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.


“Tak peduli seberapa membahagiakan atau menyedihkan, hidup harus terus berlanjut. Waktulah yang selalu menepati janji dan berbaik hati mengobati segalanya.”
-Tere Liye, Sunset Bersama Rosie.

Sabtu, 02 Mei 2015

The Reason of Loneliness.

Loneliness can be happened
When you really love someone,
But you’re broken, maybe.

Loneliness can be happened
When you really believe someone,
But you’re lied, maybe.

The most important that we have to know is;

Loneliness is a freedom
You can do anything even crazy things,
Because nobody cares what do you do.

Loneliness is not always bad
Once you know how peaceful it is,
You don't want to deal with people.

Minggu, 26 April 2015

Janji-Nya

Manusia : Tuhan, aku ingin bertanya kepadaMu, bolehkah?

Tuhan : Tentu saja boleh, apa yang ingin kau tanyakan padaku?

Manusia : Kau tentu tahu bahwa belakangan ini aku sedang dekat dengan seorang lelaki dan Kau tentu tahu bahwa lelaki itu adalah orang yang sangat aku cintai, lalu mengapa Kau jauhkan kami?

Tuhan : Aku sangat tahu seberapa besar perasaanmu terhadapnya, aku menjauhkanmu dengannya karena alasanku sederhana, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.

Manusia : Bagiku bisa hidup bersamanya adalah hal yang terbaik untukku. Aku yakin aku akan bahagia bersamanya, Tuhan.

Tuhan : Apakah kau yakin dengan pernyataanmu itu?

Manusia : MaksudMu?

Tuhan : Sekarang aku ingin bertanya padamu, seberapa sering dia membuatmu menangis? Seberapa sering dia tidak mempedulikanmu? Seberapa sering dia bergonta-ganti pasangan? Seberapa sering dia memperkenalkan kekasih barunya kepadamu?

Manusia : Tetapi aku mencintainya, Tuhan,...

Tuhan : Apakah kau yakin akan mampu menjalani kehidupanmu dengannya dan bertahan hidup dengan lelaki yang tidak menempatkanmu di hatinya?

Manusia : Tetapi cinta dapat tumbuh seiring berjalannya waktu...

Tuhan : Apakah kau ingin diperlakukan seperti sebuah penutup luka olehnya, yang hanya dibutuhkan ketika lelaki itu terluka lalu dapat dibuang begitu saja ketika lukanya pulih? Lelaki seperti itukah yang kau inginkan untuk menjadi imam kehidupanmu kelak?

Manusia : ....lalu apa yang harus aku lakukan, Tuhan?

Tuhan : Teruslah perbaiki dirimu. Sesungguhnya dirimu adalah gambaran nyata jodoh yang akan mendampingimu kelak. Hambaku yang baik akan mendapatkan hambaku yang baik pula. Percayalah pada janjiku bahwa aku tidak akan pernah memberimu cinta yang salah.

Jumat, 06 Februari 2015

Salahkah?

Sudah lama aku mencintainya. Memendam perasaan ini hanya sendiri. Berjuang menyembunyikan luka yang begitu besar menyayat hati ini hanya sendiri.

Aku sangat yakin, jika dia mengetahui perasaanku. Sejak kedekatan itu, telah banyak sikap yang dia tunjukkan kepadaku bahwa dia pun memiliki perasaan yang sama denganku.

Dulu, aku merasa dunia hanya milik aku dan dia. Derasnya hujan, terasa manis jika aku melaluinya dengan dia. Teriknya matahari, terasa teduh jika aku menghabiskan waktuku dengan dia.

Hingga saat itu tiba. Dia menjauhiku. Menghapuskan semua harapan yang telah aku gantungkan kepadanya. Menghilangkan semua kenangan manis yang telah aku lalui bersamanya. Hanya sekejap, dia menghancurkan semuanya.

Aku sangat marah. Kecewa dengan semua sikapnya. Aku merasa menjadi perempuan yang paling bodoh saat itu. Aku merasa telah keliru mencintai seseorang. Entah merasa tertipu atau ditipu.

Akhirnya aku mengetahui alasan dia menjauhiku. Dia menjauhiku karena baginya aku terlalu sempurna. Hal ini terdengar begitu konyol bukan? Aku pun hanya bisa tertawa lirih mendengar alasan itu.

Selang beberapa waktu. Aku melihat dia bersama dengan temanku. Mereka mengatakan bahwa tidak ada ikatan diantara mereka. Tetapi, sikap keduanya cukup memberikan isyarat bahwa ada cinta diantara mereka. Sakit saat aku melihat kedekatan mereka dan hatiku berkata “...dulu aku pernah berada disampingmu seperti dia.”

Waktu pun bergulir. Mulutku selalu berkata bahwa aku telah melupakannya. Tetapi tidak dengan hatiku. Jauh di dalam lubuk hatiku, luka itu masih ada. Dia masih ada. Seolah terbelenggu di dalam hatiku.


Banyak hal yang tidak aku mengerti; mengapa anggapan “...dia terlalu sempurna untukku” menjadi alasan seseorang untuk menyakiti orang lain? Bukankah tidak ada manusia yang dilahirkan sempurna? Lalu mengapa kelebihan yang dimiliki seseorang disalah artikan sebagai sebuah kesempurnaan? Salahkah jika orang yang memiliki sebuah kelebihan juga ingin merasakan kebahagiaan? Salahkah jika aku yang dia anggap terlalu sempurna ini mencintainya? Atau alasan yang pernah dia ucapkan dulu hanyalah omong kosong belaka? Entah. Aku hanya tertawa jika mengingat itu semua.

Jumat, 02 Mei 2014

Terlambat

“Hai, aku ganggu kamu gak?”, tanya Randy memecah lamunan Caca.
“Eh, enggak kok. Maaf, ada apa ya?”, jawab Caca bingung.
“Gapapa, kenalin aku Randy anak Teknik”, ucap Randy.
“Oh, aku Shabil tapi kamu cukup panggil aku Caca”, balas Caca.

Sebulan sudah Caca berkenalan dengan Randy. Kini, mereka berteman cukup dekat. Dimana ada Caca, pasti ada Randy yang selalu menemaninya. Kebanyakan orang menganggap kedekatan mereka lebih dari kedekatan sebatas teman. Namun, Caca dan Randy tidak pernah menganggap serius pendapat-pendapat tersebut. Mereka hanya menganggapnya sebagai hembusan angin belaka.
Suatu hari, Caca dan Randy sedang menghabiskan weekend mereka di sebuah taman. Ya, mereka memang sudah merencanakan—jauh-jauh hari—akan pergi ke taman dekat komplek rumah Caca setelah ujian kampus selesai. Bukan hanya ingin melampiaskan kejenuhan mereka terhadap soal-soal ujian kampus, tetapi Caca dan Randy pun ingin hunting foto di taman tersebut. Kebetulan mereka mempunyai hobi yang sama; fotografi.
“Ca, liat deh foto ini. Bagus, kan?”, tanya Randy sambil menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan kumpulan anak kecil yang sedang tertawa lepas.
“Ya ampun, ini lucu banget, Ran. Kamu foto dimana?”, balas Caca sedikit penasaran.
“Itu disana, tadi ada kumpulan anak kecil yang lagi main balon sabun gitu.”, jawab Randy semangat.
“Ini emang lucu banget, tapi foto yang aku ambil ini juga pasti gak kalah lucu.”, ucap Caca sambil menunjukkan hasil hunting fotonya.
“Wah, foto kamu juga gak kalah bagus, Ca. Kelihatan hidup banget!”, balas Randy tidak kalah kagum.
“Iya dong! Tadi aku nemuin bunga sepatu ini. Yaudah karena warnanya lucu, aku foto deh.”, jelas Caca.
Hari ini sangat membuat mereka senang. Mereka bisa menghabiskan waktu berdua dan melampiaskan hobi fotografi mereka. Canda dan tawa pun tidak henti-hentinya terlontar dari mulut mereka. Mereka terlihat bahagia. Sangat bahagia. Setelah puas memotret banyak hal, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Tentu saja, Randy mengantar Caca pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, Caca menunggu Randy menjemput dirinya untuk berangkat ke kampus. Namun, sampai pukul 08.00 pun Randy tidak kunjung datang sampai akhirnya Randy memberi kabar bahwa dirinya tidak bisa menjemput Caca. Jelas saja hal ini membuat Caca kecewa dan kesal. Dengan berat hati, ia pun berangkat ke kampus seorang diri.
Setelah selesai mengikuti kelas di kampus, Caca mencari Randy. Namun, Caca tidak mendapati Randy dimana pun. Caca menghubungi Randy, namun, tidak aktif. Caca pun menyerah dan memutuskan untuk hunting foto di taman kampus. Setelah cukup lama hunting foto, Caca beristirahat sejenak sambil melihat-lihat hasil fotonya.
Namun, tiba-tiba Caca melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Ia melihat Randy bersama seorang perempuan. Dengan segera, Caca menghubungi Randy dan menanyakan sedang apa dan dimana Randy sekarang. Caca hanya ingin memastikan apakah laki-laki yang dilihatnya benar Randy atau bukan. Oleh karena itu, Caca berpura-pura tidak tahu dan menanyakan keberadaan Randy.
“Halo, Ran, kamu lagi dimana?”, tanya Caca tanpa melepaskan pandangannya dari sosok laki-laki yang berada jauh di depannya.
“Hai, Ca! Aku lagi di supermarket deket rumah, lagi anter Mama. Kenapa, Ca?”, jawab Randy.
“Lagi di supermarket, ya? Oh, yaudah gapapa, cuma nanya aja kok. Maaf ya kalo ganggu”, sambung Caca yang segera mematikan sambungan teleponnya.
Kecewa. Seperti itulah perasaan Caca kini. Ia tidak menyangka kalau Randy bisa berbohong kepadanya. Jelas-jelas kini ia melihat Randy berada di tempat yang sama dengan dirinya. Namun, Randy malah berbohong kepada dirinya. Bukan hanya kecewa karena merasa telah dibohongi, Caca pun kecewa karena Randy diam-diam pergi dengan perempuan lain. Caca pun pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau balau.
Sesampainya di rumah, tidak ada satupun pesan atau telepon masuk dari Randy. Padahal Caca sangat mengharapkan semua itu. Akhirnya, Caca memberanikan diri untuk menghubungi Randy terlebih dahulu. Namun sayangnya tidak aktif. Sebenarnya kenapa Randy berubah seperti ini? Dan siapa perempuan itu? Kenapa pula Randy tidak menceritakan tentang perempuan itu kepada dirinya?
Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Caca. Pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh Randy. Perasaan Caca semakin tidak menentu. Ia pun bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Apakah ini hanya perasaan kecewa karena telah dibohongi oleh seorang teman? Atau ia merasa kesal karena melihat Randy pergi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan dirinya? Entah. Caca pun masih mencari-cari jawaban yang tepat.
Setelah tiga hari menghilang dan tidak ada kabar, Randy akhirnya menjemput Caca untuk berangkat ke kampus. Caca merasa terkejut karena melihat Randy sudah ada di depan rumahnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Randy. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun. Caca dan Randy pun berangkat bersama ke kampus.
“Ca, aku lagi seneng banget nih sekarang. Kamu mau dengerin ceritaku gak?”, ucap Randy bersemangat.
“Oh, ya? Nanti aja deh, masih pagi juga kan. Hari ini aku ada ujian, nanti kalau denger cerita kamu malah gak konsen ujiannya”, jawab Caca.
“Hemm, yaudah, nanti aku tunggu kamu di kantin, ya”, lanjut Randy sedikit kecewa.
Sebenarnya, Caca sangat penasaran dengan cerita Randy. Mungkin saja Randy ingin jujur kepada dirinya tentang kejadian tiga hari lalu, atau mungkin saja ia ingin menjelaskan alasannya kepada Caca, kemana ia selama tiga hari kemarin. Namun, Caca berusaha untuk terlihat biasa saja di hadapan Randy.
Setelah selesai ujian, Caca segera menemui Randy di kantin. Ia ingin segera mendengar cerita Randy. Akhirnya, Caca pun mendapati Randy disana. Namun, Randy tidak sendiri, ia bersama seorang perempuan. Lagi-lagi Caca melihat Randy bersama perempuan itu. Perempuan yang ia lihat bersama Randy tiga hari lalu di taman dekat kampus.
“Hai, Ca! Akhirnya kamu dateng juga”, teriak Randy yang segera menyuruh Caca duduk.
“Maaf ya kalo kelamaan, tadi dosennya lama di kelas jadi aku nunggu dulu deh. Ran, ini siapa?”, tanya Caca sambil melempar senyum ke arah perempuan itu.
“Iya, gapapa, Ca. Oh ini kenalin Sandra. Nah hal ini yang mau aku ceritain ke kamu, Ca”, jelas Randy.
“Hai, Caca. Salam kenal ya, aku Sandra”, ucap Sandra sambil menjabat tangan Caca.
“Jadi kamu mau cerita apa, Ran?”, tanya Caca penasaran.
“Jadi sebenernya Sandra ini pacar aku, Ca. Kami baru pacaran tiga hari lalu hehehe”, ucap Randy sambil menatap Sandra.
“Pacar kamu? Kok kamu gak pernah cerita sama aku, Ran? Curang deh”, balas Caca berusaha bersikap biasa saja.
“Maaf ya hehehe sebenernya udah lama banget aku deket sama Sandra, dan udah lama juga mau cerita ke kamu, tapi gak pernah ada waktu yang tepast buat cerita”, jelas Randy.
“Hemm, gapapa kali, Ran. Aku ikut seneng kok denger berita ini, selamat ya akhirnya ada juga perempuan yang mau sama kamu! Hahaha”, ucap Caca.
“Yaudah kamu mau makan apa? Kamu boleh pesen apa aja nanti biar aku yang bayar, ya sekalian pajak pacaran kami lah, ya kan, Sayang?”, tanya Randy kepada Sandra begitu mesra dengan panggilan sayang.
“Iya, Ca, kamu makan bareng aja. Mau pesen apa?”, balas Sandra.
“Ih kamu kayak sama siapa aja deh, Ran. Gak perlu lah, lagian aku juga masih ada urusan, jadi aku gak bisa lama-lama juga disini. Yaudah deh kalo gitu, aku duluan, ya!”, jelas Caca yang segera berpamitan kepada Randy dan Sandra.
Sepanjang perjalanan pulang, Caca hanya tersenyum kecil sambil menatap jalan raya di luar kaca jendela taksi yang ditumpanginya. Dia berusaha mengingat kembali semua ucapan Randy tadi. Kini, Randy, temannya, sudah memiliki kekasih. Caca sangat senang mendengar itu semua. Namun, tiba-tiba setetes air jatuh ke pangkuannya dan membuyarkan lamunan Caca.
Caca menangis? Apa maksudnya ini? Kenapa tiba-tiba Caca menangis? Semua pertanyaan itu muncul dalam benak Caca. Caca sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Ia benar-benar bingung mengapa ia bisa menangis? Padahal sebelumnya ia berpikiran kalau dirinya senang mendengar kabar pacaran Randy dan Sandra. Ia sangat bingung dengan perasaannya.
Beberapa hari berlalu, Caca berusaha untuk bersikap biasa saja jika bertemu Randy atau Sandra. Walaupun perasaannya hancur. Ya, Caca mulai merasa asing dengan perasaannya sendiri. Kini, Caca sering merasa rindu dengan Randy dan kesal jika mendapati Randy sedang berdua dengan kekasihnya. Caca mulai menyadari perasaannya. Ia mulai cemburu. Ia cinta kepada Randy.
Akhirnya Caca sadar dengan parasaannya terhadap Randy. Caca mulai merasakan seperti apa itu rindu, seperti apa itu cemburu, dan seperti apa nelangsanya diam-diam suka terhadap teman sendiri. Ia begitu menikmati semuanya, walaupun hatinya selalu bertanya tanpa tahu jawabannya, mengapa perasaan ini muncul setelah ia sudah milik orang lain? Apakah ini yang disebut cinta yang datang terlambat?





-kzp-