Rabu, 19 Februari 2014

Kunci dan Gembok

Suatu hari, hiduplah sebuah gembok dan kuncinya. Awalnya, si gembok sudah memiliki kunci lama. Namun, suatu ketika kunci lama si gembok hilang entah kemana. Akhirnya, si gembok bertemu dengan si kunci baru. Sejak itu, mereka selalu bersama. Kebersamaan mereka pun ibarat perangko dengan amplop surat. Tidak terpisahkan. Panas dan hujan mereka lalui bersama. Siang dan malam mereka hadapi bersama. Si kunci selalu setia menemani si gembok. Awalnya, kebersamaan mereka sama seperti kebersamaan-kebersamaan sebelumnya. Tidak ada yang berbeda. Namun, semakin lama mereka menghabiskan waktu bersama, semakin hati si kunci berkata yang lain. Sampai suatu ketika si kunci bertanya kepada si gembok, “........sebenarnya kita itu apa sih? Teman atau.....?”. Si gembok pun selalu menjawab dengan jawaban yang sama, “Entah, jalanin dulu aja”.
Si kunci berusaha untuk mengerti si gembok dan tidak membahas masalah itu lagi. Suatu ketika, si kunci mengalami kerusakan sehingga harus diperbaiki dan berpisah beberapa hari dari si gembok. Si kunci merasa sangat sedih harus meninggalkan si gembok. Si gembok pun berusaha dewasa dan meyakinkan si kunci untuk tidak khawatir, “Kamu tidak perlu bersedih, aku akan menunggu kamu disini. Cepat pulang ya”. Si kunci pun akhirnya pergi. Selama berpisah dengan si gembok, si kunci selalu merasa sedih dan kesepian. Dia mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan perasaan dirinya terhadap si gembok. Si kunci amat tahu seperti apa perasaannya kini. Si kunci rindu dengan si gembok. Ya, dia mulai menyukai si gembok.
Beberapa hari kemudian, si kunci kembali. Dia sangat bahagia karena itu berarti dia bisa bertemu dengan si gembok. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan rencananya. Si kunci melihat si gembok sudah memiliki kunci yang baru. Kunci yang jauh lebih bagus dan menarik. Si kunci sangat sedih dan kecewa melihat kebersamaan si gembok dengan kunci yang baru. Dia tidak menyangka kalau si gembok secepat itu melupakan dirinya. Dia pun merasakan apa yang dialami ribuan kunci lama yang dulu ditinggalkan si gembok. Si kunci amat tahu kalau tidak mudah bagi dirinya menjadi satu-satunya kunci untuk si gembok.  Hati si kunci pun mulai bertanya, mengapa disaat dia mulai bisa merasa nyaman dan berharap dengan si gembok, dia malah dibuang seolah tidak pernah ada dalam kehidupan si gembok sebelumnya? Sakit yang dialami si kunci sama seperti saat diajak terbang menjauhi bumi lalu tiba-tiba dihempas begitu saja ke dasar bumi. Akhirnya, si kunci pun pergi dan tidak pernah kembali.






-kzp-

Sabtu, 15 Februari 2014

Dia.

Dia yang tulus mencintai adalah dia yang selalu menemani dalam keadaan apapun. Dia yang selalu memberi tanpa syarat. Dia yang selalu mengerti tanpa penjelasan. Dia yang selalu sabar. Dia yang bersikap dewasa. Dia yang menerima kekurangan bukan kelebihan. Dan dia yang rela menjadi gila hanya untuk satu orang.

..........................sayangnya, dia itu bukan kamu.