Selasa, 25 Februari 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Kunci dan Gembok
Suatu hari, hiduplah sebuah
gembok dan kuncinya. Awalnya, si gembok sudah memiliki kunci lama. Namun, suatu
ketika kunci lama si gembok hilang entah kemana. Akhirnya, si gembok bertemu
dengan si kunci baru. Sejak itu, mereka selalu bersama. Kebersamaan mereka pun ibarat
perangko dengan amplop surat. Tidak terpisahkan. Panas dan hujan mereka lalui
bersama. Siang dan malam mereka hadapi bersama. Si kunci selalu setia menemani
si gembok. Awalnya, kebersamaan mereka sama seperti kebersamaan-kebersamaan
sebelumnya. Tidak ada yang berbeda. Namun, semakin lama mereka menghabiskan
waktu bersama, semakin hati si kunci berkata yang lain. Sampai suatu ketika si
kunci bertanya kepada si gembok, “........sebenarnya kita itu apa sih? Teman
atau.....?”. Si gembok pun selalu menjawab dengan jawaban yang sama, “Entah,
jalanin dulu aja”.
Si kunci berusaha untuk
mengerti si gembok dan tidak membahas masalah itu lagi. Suatu ketika, si kunci
mengalami kerusakan sehingga harus diperbaiki dan berpisah beberapa hari dari
si gembok. Si kunci merasa sangat sedih harus meninggalkan si gembok. Si gembok
pun berusaha dewasa dan meyakinkan si kunci untuk tidak khawatir, “Kamu tidak
perlu bersedih, aku akan menunggu kamu disini. Cepat pulang ya”. Si kunci pun
akhirnya pergi. Selama berpisah dengan si gembok, si kunci selalu merasa sedih
dan kesepian. Dia mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan perasaan dirinya
terhadap si gembok. Si kunci amat tahu seperti apa perasaannya kini. Si kunci
rindu dengan si gembok. Ya, dia mulai menyukai si gembok.
Beberapa hari kemudian, si
kunci kembali. Dia sangat bahagia karena itu berarti dia bisa bertemu dengan si
gembok. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan rencananya. Si kunci melihat si
gembok sudah memiliki kunci yang baru. Kunci yang jauh lebih bagus dan menarik.
Si kunci sangat sedih dan kecewa melihat kebersamaan si gembok dengan kunci
yang baru. Dia tidak menyangka kalau si gembok secepat itu melupakan dirinya. Dia
pun merasakan apa yang dialami ribuan kunci lama yang dulu ditinggalkan si
gembok. Si kunci amat tahu kalau tidak mudah bagi dirinya menjadi satu-satunya
kunci untuk si gembok. Hati si kunci pun
mulai bertanya, mengapa disaat dia mulai bisa merasa nyaman dan berharap dengan
si gembok, dia malah dibuang seolah tidak pernah ada dalam kehidupan si gembok
sebelumnya? Sakit yang dialami si kunci sama seperti saat diajak terbang menjauhi
bumi lalu tiba-tiba dihempas begitu saja ke dasar bumi. Akhirnya, si kunci pun
pergi dan tidak pernah kembali.
-kzp-
Sabtu, 15 Februari 2014
Dia.
Dia yang tulus mencintai
adalah dia yang selalu menemani dalam keadaan apapun. Dia yang selalu memberi
tanpa syarat. Dia yang selalu mengerti tanpa penjelasan. Dia yang selalu sabar.
Dia yang bersikap dewasa. Dia yang menerima kekurangan bukan kelebihan. Dan dia
yang rela menjadi gila hanya untuk satu orang.
..........................sayangnya,
dia itu bukan kamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
