Jumat, 02 Mei 2014

Terlambat

“Hai, aku ganggu kamu gak?”, tanya Randy memecah lamunan Caca.
“Eh, enggak kok. Maaf, ada apa ya?”, jawab Caca bingung.
“Gapapa, kenalin aku Randy anak Teknik”, ucap Randy.
“Oh, aku Shabil tapi kamu cukup panggil aku Caca”, balas Caca.

Sebulan sudah Caca berkenalan dengan Randy. Kini, mereka berteman cukup dekat. Dimana ada Caca, pasti ada Randy yang selalu menemaninya. Kebanyakan orang menganggap kedekatan mereka lebih dari kedekatan sebatas teman. Namun, Caca dan Randy tidak pernah menganggap serius pendapat-pendapat tersebut. Mereka hanya menganggapnya sebagai hembusan angin belaka.
Suatu hari, Caca dan Randy sedang menghabiskan weekend mereka di sebuah taman. Ya, mereka memang sudah merencanakan—jauh-jauh hari—akan pergi ke taman dekat komplek rumah Caca setelah ujian kampus selesai. Bukan hanya ingin melampiaskan kejenuhan mereka terhadap soal-soal ujian kampus, tetapi Caca dan Randy pun ingin hunting foto di taman tersebut. Kebetulan mereka mempunyai hobi yang sama; fotografi.
“Ca, liat deh foto ini. Bagus, kan?”, tanya Randy sambil menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan kumpulan anak kecil yang sedang tertawa lepas.
“Ya ampun, ini lucu banget, Ran. Kamu foto dimana?”, balas Caca sedikit penasaran.
“Itu disana, tadi ada kumpulan anak kecil yang lagi main balon sabun gitu.”, jawab Randy semangat.
“Ini emang lucu banget, tapi foto yang aku ambil ini juga pasti gak kalah lucu.”, ucap Caca sambil menunjukkan hasil hunting fotonya.
“Wah, foto kamu juga gak kalah bagus, Ca. Kelihatan hidup banget!”, balas Randy tidak kalah kagum.
“Iya dong! Tadi aku nemuin bunga sepatu ini. Yaudah karena warnanya lucu, aku foto deh.”, jelas Caca.
Hari ini sangat membuat mereka senang. Mereka bisa menghabiskan waktu berdua dan melampiaskan hobi fotografi mereka. Canda dan tawa pun tidak henti-hentinya terlontar dari mulut mereka. Mereka terlihat bahagia. Sangat bahagia. Setelah puas memotret banyak hal, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Tentu saja, Randy mengantar Caca pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, Caca menunggu Randy menjemput dirinya untuk berangkat ke kampus. Namun, sampai pukul 08.00 pun Randy tidak kunjung datang sampai akhirnya Randy memberi kabar bahwa dirinya tidak bisa menjemput Caca. Jelas saja hal ini membuat Caca kecewa dan kesal. Dengan berat hati, ia pun berangkat ke kampus seorang diri.
Setelah selesai mengikuti kelas di kampus, Caca mencari Randy. Namun, Caca tidak mendapati Randy dimana pun. Caca menghubungi Randy, namun, tidak aktif. Caca pun menyerah dan memutuskan untuk hunting foto di taman kampus. Setelah cukup lama hunting foto, Caca beristirahat sejenak sambil melihat-lihat hasil fotonya.
Namun, tiba-tiba Caca melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Ia melihat Randy bersama seorang perempuan. Dengan segera, Caca menghubungi Randy dan menanyakan sedang apa dan dimana Randy sekarang. Caca hanya ingin memastikan apakah laki-laki yang dilihatnya benar Randy atau bukan. Oleh karena itu, Caca berpura-pura tidak tahu dan menanyakan keberadaan Randy.
“Halo, Ran, kamu lagi dimana?”, tanya Caca tanpa melepaskan pandangannya dari sosok laki-laki yang berada jauh di depannya.
“Hai, Ca! Aku lagi di supermarket deket rumah, lagi anter Mama. Kenapa, Ca?”, jawab Randy.
“Lagi di supermarket, ya? Oh, yaudah gapapa, cuma nanya aja kok. Maaf ya kalo ganggu”, sambung Caca yang segera mematikan sambungan teleponnya.
Kecewa. Seperti itulah perasaan Caca kini. Ia tidak menyangka kalau Randy bisa berbohong kepadanya. Jelas-jelas kini ia melihat Randy berada di tempat yang sama dengan dirinya. Namun, Randy malah berbohong kepada dirinya. Bukan hanya kecewa karena merasa telah dibohongi, Caca pun kecewa karena Randy diam-diam pergi dengan perempuan lain. Caca pun pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau balau.
Sesampainya di rumah, tidak ada satupun pesan atau telepon masuk dari Randy. Padahal Caca sangat mengharapkan semua itu. Akhirnya, Caca memberanikan diri untuk menghubungi Randy terlebih dahulu. Namun sayangnya tidak aktif. Sebenarnya kenapa Randy berubah seperti ini? Dan siapa perempuan itu? Kenapa pula Randy tidak menceritakan tentang perempuan itu kepada dirinya?
Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Caca. Pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh Randy. Perasaan Caca semakin tidak menentu. Ia pun bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Apakah ini hanya perasaan kecewa karena telah dibohongi oleh seorang teman? Atau ia merasa kesal karena melihat Randy pergi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan dirinya? Entah. Caca pun masih mencari-cari jawaban yang tepat.
Setelah tiga hari menghilang dan tidak ada kabar, Randy akhirnya menjemput Caca untuk berangkat ke kampus. Caca merasa terkejut karena melihat Randy sudah ada di depan rumahnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Randy. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun. Caca dan Randy pun berangkat bersama ke kampus.
“Ca, aku lagi seneng banget nih sekarang. Kamu mau dengerin ceritaku gak?”, ucap Randy bersemangat.
“Oh, ya? Nanti aja deh, masih pagi juga kan. Hari ini aku ada ujian, nanti kalau denger cerita kamu malah gak konsen ujiannya”, jawab Caca.
“Hemm, yaudah, nanti aku tunggu kamu di kantin, ya”, lanjut Randy sedikit kecewa.
Sebenarnya, Caca sangat penasaran dengan cerita Randy. Mungkin saja Randy ingin jujur kepada dirinya tentang kejadian tiga hari lalu, atau mungkin saja ia ingin menjelaskan alasannya kepada Caca, kemana ia selama tiga hari kemarin. Namun, Caca berusaha untuk terlihat biasa saja di hadapan Randy.
Setelah selesai ujian, Caca segera menemui Randy di kantin. Ia ingin segera mendengar cerita Randy. Akhirnya, Caca pun mendapati Randy disana. Namun, Randy tidak sendiri, ia bersama seorang perempuan. Lagi-lagi Caca melihat Randy bersama perempuan itu. Perempuan yang ia lihat bersama Randy tiga hari lalu di taman dekat kampus.
“Hai, Ca! Akhirnya kamu dateng juga”, teriak Randy yang segera menyuruh Caca duduk.
“Maaf ya kalo kelamaan, tadi dosennya lama di kelas jadi aku nunggu dulu deh. Ran, ini siapa?”, tanya Caca sambil melempar senyum ke arah perempuan itu.
“Iya, gapapa, Ca. Oh ini kenalin Sandra. Nah hal ini yang mau aku ceritain ke kamu, Ca”, jelas Randy.
“Hai, Caca. Salam kenal ya, aku Sandra”, ucap Sandra sambil menjabat tangan Caca.
“Jadi kamu mau cerita apa, Ran?”, tanya Caca penasaran.
“Jadi sebenernya Sandra ini pacar aku, Ca. Kami baru pacaran tiga hari lalu hehehe”, ucap Randy sambil menatap Sandra.
“Pacar kamu? Kok kamu gak pernah cerita sama aku, Ran? Curang deh”, balas Caca berusaha bersikap biasa saja.
“Maaf ya hehehe sebenernya udah lama banget aku deket sama Sandra, dan udah lama juga mau cerita ke kamu, tapi gak pernah ada waktu yang tepast buat cerita”, jelas Randy.
“Hemm, gapapa kali, Ran. Aku ikut seneng kok denger berita ini, selamat ya akhirnya ada juga perempuan yang mau sama kamu! Hahaha”, ucap Caca.
“Yaudah kamu mau makan apa? Kamu boleh pesen apa aja nanti biar aku yang bayar, ya sekalian pajak pacaran kami lah, ya kan, Sayang?”, tanya Randy kepada Sandra begitu mesra dengan panggilan sayang.
“Iya, Ca, kamu makan bareng aja. Mau pesen apa?”, balas Sandra.
“Ih kamu kayak sama siapa aja deh, Ran. Gak perlu lah, lagian aku juga masih ada urusan, jadi aku gak bisa lama-lama juga disini. Yaudah deh kalo gitu, aku duluan, ya!”, jelas Caca yang segera berpamitan kepada Randy dan Sandra.
Sepanjang perjalanan pulang, Caca hanya tersenyum kecil sambil menatap jalan raya di luar kaca jendela taksi yang ditumpanginya. Dia berusaha mengingat kembali semua ucapan Randy tadi. Kini, Randy, temannya, sudah memiliki kekasih. Caca sangat senang mendengar itu semua. Namun, tiba-tiba setetes air jatuh ke pangkuannya dan membuyarkan lamunan Caca.
Caca menangis? Apa maksudnya ini? Kenapa tiba-tiba Caca menangis? Semua pertanyaan itu muncul dalam benak Caca. Caca sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Ia benar-benar bingung mengapa ia bisa menangis? Padahal sebelumnya ia berpikiran kalau dirinya senang mendengar kabar pacaran Randy dan Sandra. Ia sangat bingung dengan perasaannya.
Beberapa hari berlalu, Caca berusaha untuk bersikap biasa saja jika bertemu Randy atau Sandra. Walaupun perasaannya hancur. Ya, Caca mulai merasa asing dengan perasaannya sendiri. Kini, Caca sering merasa rindu dengan Randy dan kesal jika mendapati Randy sedang berdua dengan kekasihnya. Caca mulai menyadari perasaannya. Ia mulai cemburu. Ia cinta kepada Randy.
Akhirnya Caca sadar dengan parasaannya terhadap Randy. Caca mulai merasakan seperti apa itu rindu, seperti apa itu cemburu, dan seperti apa nelangsanya diam-diam suka terhadap teman sendiri. Ia begitu menikmati semuanya, walaupun hatinya selalu bertanya tanpa tahu jawabannya, mengapa perasaan ini muncul setelah ia sudah milik orang lain? Apakah ini yang disebut cinta yang datang terlambat?





-kzp-

Minggu, 20 April 2014

Alone.

Loneliness.

One thing we, human being, most afraid of is end up alone. Having no one to rely on. Not knowing who's gonna be our shoulder to cry on, or even worse, who's gonna be feel our happiness. We need someone, other human being to share everything we had in our lives. Because we hate feeling alone. Hate to face the fact that no one cares.

We want that attention.

Just a little attention to make us realize that we're not alone. There is someone out there that take time to notice us. Because all of us what to leave trace in someone's mind and heart.

I took this text from a someone who has a lot of fabulous texts, yeah one of them is it. I don't know why but I really like this text, it's as a complaint of many teens in the world, likes me maybe. LOL. This text tells us that loneliness has a very deep meaning not just the usual complaint. Happy enjoy your loneliness time, everyone!




Sabtu, 19 April 2014

A Fabulous Second Family

Because chance we met.

Because choice we became family.

Hari ini tepat H+3 UN. Huft, agak sedih sih kalau ingat tentang UN. Ya, disaat kamu sudah mantap dengan semua materi UN yang dipelajari dari SKL (Standar Kompetensi Lulus) UN tahun sebelumnya, ternyata materi UN tahun ini—lebih menantang, lebih gila, lebih sulit—jauh diluar ekspektasi kamu. Ya sudahlah aku gak mau membahasnya lagi, yang lalu biarkanlah berlalu. Aku berusaha menganut prinsip kerjakan, tinggalkan, lupakan, tawakal saja J
Hai, blogger! Sudah lama gak cerita disini. Sekarang aku lagi mau cerita tentang kelas aku nih. Padahal baru tiga hari gak ketemu mereka, tapi sudah kangen banget. Serius deh otot-otot wajah langsung mengendur karena tiga hari gak senam wajah (read: ngakak) bareng. Kangen mereka yang rusuh kalau gak ada guru. Kangen mereka yang (berusaha) biasa aja kalau besoknya ada TO. Kangen mereka yang jadi mood booster. Hah, kangen semua keabnormalan mereka!


Created by Nitut

Kangen Adel yang selalu polos minta ajarin atau jelasin ini itu. Kangen Adji yang selalu he’eh-in kegajean aku (biasanya berhubungan sama tingkah anehnya Topa). Kangen Aidha yang selalu jadi partner heboh gosip secret couple di kelas. Kangen Andhika yang selalu jaim walaupun aku sudah ngelawak. Kangen Anggara yang selalu melantunkan lagu Heaven (sampe bosan dengarnya). Kangen Nitut yang selalu nyolek dagu aku sambil panggil nama “...khansyaa”. Kangen Cibi yang selalu teriak-teriak nyuruh piket. Kangen Shab yang selalu pasang muka galak anytime. Kangen Ninis yang tiap pagi bersin (...hatchiii!) terus.
Kangen Bocil yang kadang panik kalau ada materi yang gak ngerti. Kangen Riri yang selalu kepo-in apa aja. Kangen Daniel yang selalu berhasil buat melt  dengan petikan gitarnya. Kangen Destry yang selalu malu-malu kucing kalau diledekin sama Topa. Kangen Dedep yang selalu jail matiin lampu kelas atau teriak “...shuuttt” tiba-tiba. Kangen Dimas yang jarang banget senyum apalagi komentar walaupun diledekin. Kangen Vira yang selalu panik dan cerewet hal apapun. Kangen Kades yang manja dan sering ngelendotan sama aku. Kangen Faris yang suaranya cempreng kalau nyuruh baca al-quran. Kangen Feb yang tiba-tiba suka nimbrung sama anak cewek dan sering banget freak.
Kangen Findy yang selalu ngomong “...ciriiii!” agak-agak genit. Kangen Firman yang sering jambak rambut aku sambil ngomong “...heh apaan?” kalau dia mulai gak ngerti omongan aku. Kangen Mpit yang kadang suka loading lama kalau lagi gosip sama anak cewek. Kangen Gress yang pelor (nempel molor) dimanapun dan kapanpun. Kangen Topa yang nyebelin kalau sudah teriak “...ehem!”. Kangen Keket yang kalau ngomong imut kayak anak kecil. Kangen Lungit yang sering teriak “...everybody!”. Kangen Maula yang selalu duduk ngangkang dengan kaki dilipat dan dinaikkan keatas bangku. Kangen Meutia yang ketawanya buat kelas gempar dan selalu teriak “...my baby Jojo” ke Farras. Kangen Farras yang nyebelin kalau sudah nyontohin wajah tablo (tampang bloon) aku.
Kangen Mustika yang suka rusuh tiba-tiba. Kangen Nadya yang selalu manggil aku dengan sebutan Haji Duloh. Kangen Yenty yang kalau ketawa suaranya gak kalah nyaring sama Meutia. Kangen Okta yang suka teriak “...eh temen-temen” kalau mau ngomong sesuatu. Kangen Osi yang biasanya pinjam rautan pensil selama ujian. Kangen Putri A. Yang ketawanya suka rusuh kalau sudah ngakak bareng Findy, Nitut, dan Keket. Kangen Putdut yang suka ngeluarin kata-kata galau dan puitis. Kangen Ita yang jarang banget marah walaupun sering jadi korbannya Dedep. Kangen Alfa dan semua peralatan make up-nya. Kangen Sanyori yang nyebelin kalau sudah debat saat presentasi. Kangen Bastian yang selalu mojok bareng geng “Lisa”. Kangen Sekar yang selalu ngingetin tentang jodoh dan masa depan. Kangen Sifa yang kadang teriak-teriak gak jelas kalau sudah bercanda sama Gress.
Kangen IPA1. Kangen suasananya. Kangen semua penghuninya. Kangen Bu Dian. Kangen guru-guru yang setia ngajar—Mam Elis, Pak Ucup, Bu Fitri Agama, Bu Kania, Bu Agustin, Bunda Siti, Lausse Rini, Mutter Lies, Bu Fitri Komputer, Bu Surawi, Bu Eka, Pak Gatot, Bu Isti, Bu Ana, Pak Jae—di kelas IPA1. Kangen kakak-kakak dari CC (Cahaya Cendekia). Kangen bimbel pagi (jam 0). Kangen kantin sekolah. Kangen kopsis sekolah. Kangen musholla sekolah. Kangen ruang BK. Kangen musholla lanta tiga. Kangen Lab. Bahasa dan Komputer. Kangen lapangan sekolah. Kangen Jogja. Kangen Taman Mini. Kangen Cibodas. Kangen Ancol.
HAAAAHHHH! Pokoknya kangen semuanya, terutama anak-anak IPA1. Gak terasa ya kita sudah UN tinggal tunggu pengumuman kelulusan, pengumuman SNMPTN, perpisahan sekolah, perpisahan kelas, SBMPTN,............aaaaak setelah itu sudah pisah dan jarang ketemu kalian. Banyak hal yang mau aku bilang, makasih untuk dua tahun yang amat luar biasa! Makasih untuk kekonyolan kalian. Makasih untuk keegoisan kalian. Makasih untuk kebaikan kalian. Makasih untuk kerja sama (positif dan negatifnya) kalian. Makasih untuk semua kenangan yang sudah kita buat bersama. Semoga IPA1 dan teman-teman lain bisa sukses ya! And the last, how lucky I am because I met you, guys!

Beberapa kebersamaan dan keabnormalan kita.
  














-kzp-

Rabu, 09 April 2014

17+

Awalnya masih mau memungkiri ke-tujuhbelastahun-an ini. Aku masih belum percaya, kalau telah memasuki usia matang. Tetapi, hari ini untuk pertama kalinya aku bangga telah berusia tujuh belas tahun. Mengapa? Yaps, karena hari ini aku telah menjadi pemilih pemula. Hari ini, 9 April 2014, aku telah ikut (sedikit) berkontribusi dalam dunia politik. Aku sudah memberikan hak suara dalam pemilihan anggota legislatif, yaitu DPRD kabupaten, DPRD provinsi, DPD, dan DPR RI.



HAAAH! Bangga sekali rasanya, karena untuk pertama kalinya aku bisa menyumbangkan suaraku untuk masa depan bangsa. Walaupun agak sedikit bingung dengan begitu banyaknya calon legislatif, tapi bismillah aku mencoblos yang (menurutku) terbaik. Semoga para caleg yang terpilih, bisa menjadi penyambung lidah rakyat yang amanah, ya! J

Rabu, 19 Februari 2014

Kunci dan Gembok

Suatu hari, hiduplah sebuah gembok dan kuncinya. Awalnya, si gembok sudah memiliki kunci lama. Namun, suatu ketika kunci lama si gembok hilang entah kemana. Akhirnya, si gembok bertemu dengan si kunci baru. Sejak itu, mereka selalu bersama. Kebersamaan mereka pun ibarat perangko dengan amplop surat. Tidak terpisahkan. Panas dan hujan mereka lalui bersama. Siang dan malam mereka hadapi bersama. Si kunci selalu setia menemani si gembok. Awalnya, kebersamaan mereka sama seperti kebersamaan-kebersamaan sebelumnya. Tidak ada yang berbeda. Namun, semakin lama mereka menghabiskan waktu bersama, semakin hati si kunci berkata yang lain. Sampai suatu ketika si kunci bertanya kepada si gembok, “........sebenarnya kita itu apa sih? Teman atau.....?”. Si gembok pun selalu menjawab dengan jawaban yang sama, “Entah, jalanin dulu aja”.
Si kunci berusaha untuk mengerti si gembok dan tidak membahas masalah itu lagi. Suatu ketika, si kunci mengalami kerusakan sehingga harus diperbaiki dan berpisah beberapa hari dari si gembok. Si kunci merasa sangat sedih harus meninggalkan si gembok. Si gembok pun berusaha dewasa dan meyakinkan si kunci untuk tidak khawatir, “Kamu tidak perlu bersedih, aku akan menunggu kamu disini. Cepat pulang ya”. Si kunci pun akhirnya pergi. Selama berpisah dengan si gembok, si kunci selalu merasa sedih dan kesepian. Dia mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan perasaan dirinya terhadap si gembok. Si kunci amat tahu seperti apa perasaannya kini. Si kunci rindu dengan si gembok. Ya, dia mulai menyukai si gembok.
Beberapa hari kemudian, si kunci kembali. Dia sangat bahagia karena itu berarti dia bisa bertemu dengan si gembok. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan rencananya. Si kunci melihat si gembok sudah memiliki kunci yang baru. Kunci yang jauh lebih bagus dan menarik. Si kunci sangat sedih dan kecewa melihat kebersamaan si gembok dengan kunci yang baru. Dia tidak menyangka kalau si gembok secepat itu melupakan dirinya. Dia pun merasakan apa yang dialami ribuan kunci lama yang dulu ditinggalkan si gembok. Si kunci amat tahu kalau tidak mudah bagi dirinya menjadi satu-satunya kunci untuk si gembok.  Hati si kunci pun mulai bertanya, mengapa disaat dia mulai bisa merasa nyaman dan berharap dengan si gembok, dia malah dibuang seolah tidak pernah ada dalam kehidupan si gembok sebelumnya? Sakit yang dialami si kunci sama seperti saat diajak terbang menjauhi bumi lalu tiba-tiba dihempas begitu saja ke dasar bumi. Akhirnya, si kunci pun pergi dan tidak pernah kembali.






-kzp-

Sabtu, 15 Februari 2014

Dia.

Dia yang tulus mencintai adalah dia yang selalu menemani dalam keadaan apapun. Dia yang selalu memberi tanpa syarat. Dia yang selalu mengerti tanpa penjelasan. Dia yang selalu sabar. Dia yang bersikap dewasa. Dia yang menerima kekurangan bukan kelebihan. Dan dia yang rela menjadi gila hanya untuk satu orang.

..........................sayangnya, dia itu bukan kamu.

Sabtu, 25 Januari 2014

Blablabla.

Manusia itu dilahirkan memang untuk menghadapi suatu permasalahan. Allah memang Maha Adil. Tidak hanya kebahagiaan yang Dia berikan untuk mereka. Namun, ada saatnya mereka harus merasakan kesedihan. Sebenarnya, Allah memang memiliki banyak kejutan dalam mengatur hidup manusia. Ada kejutan yang bisa diterima dan tidak oleh mereka. Sebagian dari mereka ada yang menganggap kejutan itu sebagai suatu permasalahan atau benalu. Misalnya, ada yang harus kehilangan orang yang disayangi. Ada pula yang gagal mendapatkan impian atau kesuksesan. Dan ada yang keinginannya tidak sesuai dengan kenyataan.
Mengeluh. Pasti hanya itu yang bisa dilakukan mereka. Ada yang masih mengingat-Nya dengan terus berdoa dan berharap. Namun, tidak sedikit pula yang marah dan khilaf  meninggalkan-Nya. Miris, bukan? Sayang sekali. Tetapi memang seperti itu kenyataannya. Disaat seperti inilah Allah menguji kedewasaan manusia. Dia hanya ingin tahu, sudah sejauh mana kesabaran manusia dalam menanggapi kejutan-Nya. Hebat, bagi mereka yang masih bisa berdiri tegak dan tertawa. Dan payah bagi mereka yang masih menangisi serta meratapi nasibnya tanpa ada usaha untuk melakukan perubahan.
Kini, saya pun sedang melewati tahap itu. Saya sedang dihadapkan pada suatu pilihan yang tergolong sulit. Pilihan yang nantinya akan menentukan masa depan saya. Saya tidak ingin dibilang sok tahu atau sok suci karena saya bukanlah seorang malaikat. Saya pun hanya manusia biasa yang tidak lepas dari rasa mengeluh menghadapi permasalahan dalam hidup. Tetapi, hebatnya saya adalah saya tidak pernah melupakan-Nya dan selalu berusaha untuk berani menghadapi benalu-benalu itu. Dan saya berharap, diluar sana masih banyak manusia-manusia yang siap bertemu kejutan-kejutan dari Allah. Someone said, that we should be able to face the problems in our life and catch our dream with our own hand. Just as simple as that.

Sabtu, 04 Januari 2014

The Old Maxim


When your heart doesn’t give you the motivation, the maxim is the best motivator. I don’t know why, but I always believe with the old maxim that said “If there is a will, there is a way”. Nothing is impossible in this world if you want to keep prayer and strive. And the last, you don’t look perfection, look for progress. When you make progress in everyday, you will make a perfection. Bismillah.

Rabu, 01 Januari 2014

Craziest Post✌


Sometimes I feel bored with my days as a student of high school. Sometimes I am made stressful by a lot of tasks. Sometimes I am made crazy by many exams. If it was like this, create a crazy pose was the best drug for me. Seriously, do not be afraid to be crazy for a fabulous thing. Conquered the world with your unique behavior.