Minggu, 29 Desember 2013

Pakebon's Gathering

Hari Rabu (25/12) dan Kamis (26/12) kemarin, aku dan keluarga besar berlibur bersama ke Cianjur. Tepatnya masih di sekitar Kabupaten Cisarua, Puncak. Liburan ini memang sudah di rencanakan jauh-jauh hari. Kebetulan juga saudaraku ada yang merayakan Natal. Sudah menjadi kebiasaan tiap tahun kami selalu berpartisipasi memeriahkan acara. Di sana, kami menginap di villa Zeid Riyal, Desa Batu Layang, Kabupaten Cisarua, Puncak.


Villa Zeid Riyal....

Rombongan aku dan keluarga besar berangkat pagi-pagi sekali dari rumah. Setelah subuh kami mulai meninggalkan rumah. Kami sengaja berangkat pagi supaya terhindar dari macet dan tutup jalur (di daerah Puncak biasanya diberlakukan sistem buka tutup jalan). Perjalanan dari rumahku ke villa menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam. Kami berangkat dari rumah pukul 05.30 dan sampai di villa sekitar pukul 07.00. Alhamdulillah  kami tidak terkena macet. Walaupun kondisi jalan sempat padat merayap.
Setelah cukup lama mencari lokasi villa yang cukup terpencil. Akhirnya, kami sampai di tempat tujuan. Sesampainya disana, suasana villa masih sepi. Rupanya saudara-saudaraku yang lain belum sampai. Baru ada dua rombongan yang touchdown di villa, yaitu rombongan keluargaku dan keluarga Om Ogi. Setelah mendapatkan kunci villa dari penjaga villa, kami segera masuk ke dalam villa. Perasaan antusias sangat aku rasakan saat memasuki villa. Jujur, villa dan suasana di sekitarnya LUAR BIASA BANGET! KEREN! Maaf ya kalau sedikit lebay. Tapi, memang keren banget kok. Gak pake bohong deh.



Villa Zeid Riyal Tampak Depan

Setelah menurunkan barang-barang dari mobil, aku langsung menikmati suasana villa. Dingin dan sejuk. Itulah yang aku rasakan. Oh iya, villa ini gak hanya menyediakan sebatas kamar dan ruangan untuk santai saja. Tapi ada fasilitas lain yang gak kalah bagus. Ada kolam renang, taman bermain untuk anak-anak, musholla, dan lapangan olahraga. Bangunan villa ini juga gak biasa. Ya, villa dengan dua lantai ini dibangun menyerupai rumah panggung yang hampir seluruh dinding dan lantainya terbuat dari kayu. Hayooo bisa dibayangkan kan kayak apa kerennya. Hehehe.
Setelah menunggu cukup lama, satu per satu rombongan keluargaku datang. Mulai dari rombongan keluarga Mbak Meilda, lalu disusul dengan rombongan Tante Wie, rombongan Tante Isma, rombongan Tante Merry, rombongan Om Aji & Om Onu, lalu rombongan Mbak Puri, rombongan Mas Teguh & Mas Bowo, sampai rombongan terakhir, yaitu rombongan Bude Ade dan Mbak Ajeng. Oh iya, masih ada satu rombongan lagi, yaitu rombongan Mbak Anthie. Tapi, mereka sore hari baru berangkat menuju villa. Katanya, ada acara dulu di Senayan, Jakarta. Banyak juga, ya. Namanya juga keluarga besar. Hehehe.




Setelah semua membereskan barang-barang bawaan ke dalam kamar (yang telah ditentukan) masing-masing, kami berkumpul di ruang tengah/ruang keluarga (di lantai satu). Sekitar pukul 14.00 (setelah solat dan makan siang) acara inti pun dimulai. Sebelum menuju ke acara games, ada sambutan (pembukaan acara) dahulu, yang dibawakan oleh Mas Dola. Lalu acara games  gokil pertama pun dimulai. Kami bermain Indonesia Pintar Eat Bulaga. Tahu, kan? Ituloh permainan tebak-tebakan yang lagi booming  banget. Demi apapun, ini lebih kocak daripada yang ada di televisi. Ditambah gak hanya anak-anak mudanya saja yang bermain. Namun, orang dewasa (Bude, Pakde, Tante, dan Om) pun ikut main. Lucu banget liat ekspresi mereka saat berusaha menebak atau pun saat memberikan kata-kata YA, TIDAK, dan BISA JADI. Aku pun menjadi peserta lomba berpasangan dengan Mas Anggar. Acara pertama pun selesai. Lalu dilanjut dengan games  kedua.





Games kedua, yaitu permainan bicara cepat tepat. Jadi tiap peserta lomba di kelompokkan menjadi beberapa grup. Masing-masing grup terdiri dari 3-4 orang dan memiliki kata unik yang berbeda (masing-masing grup). Contoh kata-katanya seperti 1 biru, 2 biru, dan seterusnya sampai 10 biru. Dan kata-kata itu harus diucapkan secara cepat dan tepat. Aku termasuk ke dalam grup dua. Aku sekelompok dengan Dendy dan Dinta, sepupu-sepupuku. Kata cepat tepat yang harus kami ucapkan adalah Satu Sate Tujuh Tusuk sebanyak sepuluh kali. Susah, kan? Awalnya memang susah banget tapi akhirnya aku bisa juga ngucapin kata-kata itu. Walaupun gak terlalu lancar. Hehehe. Selain kata-kata itu, ada kata-kata lain seperti Kecoak Kuaci Cakwe yang juga diucapkan sepuluh kali. Lalu ada juga Kepala Digaruk Kelapa Diparut. Rata-rata karena semua bicaranya terlalu cepat jadi terbalik pengucapannya. Lucu banget loh. Apalagi ada saudaraku yang cadel juga. Hahaha.
Sekitar pukul 16.00 acara break sebentar untuk solat dan bersih-bersih diri (mandi). Karena hujan sudah reda, gak sedikit juga ada yang berenang. Sementara para ibu (Bude, Tante, Mbak, dan sepupu-sepupu lainnya) kumpul di gazebo dekat kolam renang. Sumpaaaaaaaaaaah. Ini seru banget! Sekitar pukul 19.00 acara games selanjutnya dimulai. Games selanjutnya ini khusus untuk para pasutri alias pasangan suami istri. Aku jelas saja bukan peserta dari games ini. Ya iyalah jombs. Hahaha. Mulai dari Mas Agung dan Mbak Echa yang baru married  sampe pasangan Bude Sri sama Pakde Toyo yang bisa dibilang paling sepuh (usia pernikahannya). Hehehe. Permainannya mudah. Para suami dan istri ditempatkan di tempat yang berbeda. Lalu diberikan sepuluh pertanyaan yang harus dijawab bersamaan, kayak hobi, makanan kesukaan, nomor sepatu, ukuran baju, dan sebagainya.
Awalnya sih mungkin gampang, tapiiiiiii setelah di cek jawabannya satu sama lain, banyak yang beda juga ternyata. Ayah dan Ibuku hanya betul enam dari sepuluh pertanyaan. Hemmm, ya lumayan lah. Hehehe. Suasana saat itu makin ramai terutama saat pembacaan jawaban oleh anak-anak mudanya (aku dan sepupu-sepupuku). Ada yang jawabannya ngelantur tapi gak sedikit juga yang jawabannya cocok. Semua tertawa lepas saat mendengar jawaban yang gak cocok. Suasana villa pun makin malam malah makin rame. Hahaha.
Oh iya, sebelum pelaksanaan permainan pasutri, ada acara tiup lilin sejenak dulu nih. Karena lumayan banyak yang berulang-tahun di bulan Desember, jadi diselipkan juga acara kecil ini. Ada Dhanes yang ulang tahun tanggal 21 Desember. Lalu ada Tante Merry-Om Ahmad dan Bude Anna-Pakde Sar yang wedding annive tanggal 14 Desember. Disusul Mbak Anthie-Mas Sunu tanggal 17 Desember. Dan terakhir, Ayah dan Ibu tanggal 18 Desember. Banyak juga, ya. Hehehe.


Setelah permainan pasutri  selesai, acara selanjutnya yaitu acara makan malam dan acara bebas/santai. Selama disana, porsi makan aku kayaknya mulai kalap. Buanyaaaaak banget makanan disana. Gak berhenti ngunyah. Duh kok jadi curhat pribadi, ya? Maaf. Maaf. Oke, tengah malam sudah mulai tumbang. Tapi, ada yang masih asik karaokean (Om Ogi, Tante Isma, Bude Anna, dan Ayah). Ada yang sibuk pesta barbeque-an di gazebo dekat kolam renang (Mas Hans, Mas Bowo, Mas Teguh, Dendy, Rama, Luki, Mas Dola, Mas Dyas, dan sebagainya yang kebanyakan anak-anak cowok). Kalau aku sih nimbrung bantuin makan yang barbeque-an sebentar terus masuk ke kamar deh. Tumbang juga akhirnya.
Keesokan harinya, aku sibuk ngebantuin  para Bude dan Tante nyiapin makanan untuk sarapan. Bolak-balik dari dapur ke gazebo dekat kolam renang. Ya, rencananya memang sarapan di gazebo. Tapi, sebelum sarapan, ada acara yang gak kalah seru, yaitu senam gokil! Hahaha. Senam aerobik gitu sih sebenarnya. Tapi, untuk aku sih lebih ke senam gokil. Soalnya lebih banyak gerakan lucunya daripada gerakan yang benar-benar senam. Hehehe. Tante Isma menjadi instruktur senam kami. Sebelum senam, kami sempat mengambil foto bersama dulu. Oh, iya supaya tambah terlihat kompak, aku dan keluarga besar mengenakan kaos yang seragam loh. Yang perempuan kaos warna merah. Sedangkan, para laki-laki kaos warna hitam. Untuk anak-anak di bawah sepuluh tahun mengenakan kaos warna putih.
Setelah selesai senam dan sarapan, ada acara games (lagi). Ya, kali ini permainan bakiak. Awalnya sih ini permainan yang wajib diikuti para pasutri. Tapi anak-anak muda juga boleh ikutan. Aku pun juga mencoba permainan ini. Walaupun kalah dan kaki terluka sih. Hiks. Setelah itu, ada permainan khusus untuk para anak kecil dibawah sepuluh tahun dan balita. Permainan Kumpul Bola Kumpul Bocah. Permainan ini dilaksanakan di kolam renang. Sistem permainannya, memindahkan/mengambil bola yang ada di kolam renang ke pinggir kolam renang secara cepat. Lucu banget liat tingkah laku keponakan dan sepupuku. Semuanya sangat bersemangat mengambil dan memindahkan bola.



Setelah semua permainan selesai, kami pun siap-siap untuk pulang ke rumah. Semuanya saling berkemas barang-barang bawaan pribadi. Sebelum berkemas, ada pembagian hadiah untuk para pemenang lomba. Selain itu, ada pembagian hadiah natal juga (tradisi tiap tahun keluarga Mbak Ajeng kalau natal). Sebenarnya masih kurang banget liburan disana. Hiks. Masih mau kumpul beberapa hari lagi disana. Tapi apa daya......... #lebay. Sekitar pukul 14.00 (setelah zuhur dan makan siang), kami kembali ke rumah masing-masing. Satu per satu rombongan keluarga berpamitan pulang.




Hemmmmm. Makasih untuk semuanya, dear Pakebon. Makasih untuk Mbak Ajeng dan Om Ruby yang udah rela jadi pembawa acara selama lomba-lomba berlangsung. Makasih untuk Tante Wie yang udah mau survey villa ditengah banyaknya pasien yang harus Tante tangani..... #iniapa. Makasih untuk Bude, Pakde, Tante, Om, Mbak, Mas, Sepupu, dan Keponakan yang udah meramaikan acara gathering  ini. Thanks a lot for a fabulous two days-nya!

Senin, 23 Desember 2013

Kekasihku Malaikatku.

Alhamdulillah sayang, kamu udah sadar”, ucap Leni sambil mengucap syukur.
“Bun, aku dimana? Kenapa gelap?”, tanya Mayna.
“Sayang, kemarin kamu mengalami kecelakaan mobil. Tapi kamu gak usah khawatir ya, semua baik-baik saja”, jawab Leni penuh hati-hati.
“Tapi kenapa gelap, Bun? Aku gak bisa liat apa-apa, Bun”, ucap Mayna mulai ketakutan.
“Maafin bunda sayang. Dokter bilang, kecelakaan kemarin membuat kornea kedua mata kamu rusak. Dengan berat hati, kamu harus kehilangan penglihatan kamu, Sayang”, jelas Leni sambil memeluk Mayna yang terpaku mendengar penjelasan bundanya.
“Aku buta, Bun. Enggak mungkin, Bun. Aku gak mungkin buta, Bun. Enggaaaaaaaaak!”, teriak Mayna sambil memukul-mukul ranjang rumah sakit.

***

Sejak kecelakaan dua tahun lalu, Mayna berubah. Mayna menghabiskan hari-harinya hanya di dalam kamar. Mengurung diri dan meratapi nasibnya. Jarang sekali Mayna keluar dari kamarnya.
Kecelakaan dua tahun lalu, tidak hanya merenggut penglihatan Mayna. Namun, juga sosok lama Mayna. Mayna, gadis periang yang selalu bisa membuat orang lain tersenyum kini sudah tidak ada. Yang ada kini, hanyalah Mayna yang pendiam dan sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini tentu saja membuat Leni—bundanya Mayna—merasa sangat menyesal. Leni menyesal, karena dialah yang menyetujui tindakan operasi pengangkatan kornea mata Mayna dua tahun lalu. Namun, Leni melakukan semua ini untuk menyelamatkan putrinya. Putri kesayangannya.
“Sayang, kita makan dulu, ya. Nih, bunda bawain makanan kesukaan kamu. Opor ayam”, ucap Leni memecah lamunan Mayna.
“Makasih, Bun. Taruh aja di meja. Aku bisa makan sendiri”, jawab Mayna tanpa ekspresi. Datar.
“Bunda suapin aja ya, Sayang. Yuk, sini”, ucap Leni sambil memberikan sesendok makanan ke mulut Mayna.
“Enggak, Bun. Aku bisa sendiri. Taruh aja makanannya di meja”, ucap Mayna mulai membentak bundanya.
“Yaudah, bunda taruh di meja ya. Jangan sampe gak makan ya, Sayang”, jelas Leni sambil mengecup kening Mayna dan segera berlalu keluar kamar.
Suasana hening kembali terjadi setelah Leni menutup pintu kamar Mayna. Makanan yang diberikan Leni untuk Mayna hanya di diamkan saja. Mayna sama sekali tidak memakan makan siangnya. Bahkan, Mayna tidak menyentuhnya sedikit pun. Kini, yang dilakukan Mayna hanya melamun dan melamun. Entah apa yang dipikirkannya.
Sore harinya, Mayna dan bundanya pergi ke rumah sakit. Hari ini ada jadwal kontrol mata Mayna di rumah sakit. Seperti biasa, awalnya Mayna tidak mau pergi ke rumah sakit. Alasannya sederhana. Bagi Mayna, semua perawatan dan kontrol ke dokter percuma dilakukan dan hanya akan membuang-buang biaya saja. Namun, Leni selalu berhasil membujuk Mayna untuk pergi ke rumah sakit.  
Sesampainya di rumah sakit, Mayna dan Leni langsung menuju administrasi. Sementara Leni mengurus administrasi dan menanyakan jadwal praktik dokter, Mayna hanya duduk di ruang tunggu. Dalam pikirannya, Mayna membayangkan kalau saja dia tidak buta, mungkin saat ini dia sedang membaca novel sambil mendengarkan lagu favoritnya di I-phone. Tidak akan bosan seperti sekarang. Seketika air mata Mayna jatuh. Namun, dengan cepat Mayna segera menghapusnya.
Setelah menunggu cukup lama, Mayna dan bundanya memasuki ruangan dokter. Disana, dokter mulai memeriksa kondisi Mayna. Kondisi Mayna cukup  baik. Walaupun, kini tubuh Mayna terlihat lebih kurus dari beberapa hari sebelumnya. Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan memberikan resep obat, dokter mengizinkan Mayna untuk pulang.
Sementara Leni menebus obat di apotek, Mayna menunggu di taman rumah sakit. Taman yang tidak begitu luas itu cukup membuat hati Mayna tenang. Walaupun Mayna tidak bisa melihat keindahan taman itu, namun, Mayna bisa merasakan kesejukan taman kecil itu. Baru kali ini, Mayna bisa merasakan “nyamannya” kehidupan setelah sekian lama dia kehilangan semangat hidupnya. Ya, Mayna bisa tersenyum kembali.
“Hai. Aku ganggu kamu, gak?”, ucap seorang laki-laki memecah lamunan Mayna.
“Maaf, kamu siapa?”, tanya Mayna ragu.
“Aku Alvin. Kamu Mayna, kan?”, jawab laki-laki itu memperkenalkan diri.
“Kok kamu tau nama aku? Apa sebelumnya kita pernah kenal?”, tanya Mayna penasaran.
“Kita gak pernah kenal sebelumnya. Aku juga lagi perawatan di rumah sakit ini. Dan aku udah tau kamu cukup lama. Kamu sering berobat juga kan disini? Emang kamu sakit apa?”, jelas Alvin.
“Oh, gitu. Salam kenal, ya. Ya, kamu bisa liat sendiri kan gimana kondisi aku. Aku gak bisa lihat. Hehehe”, ucap Mayna berusaha untuk terlihat tegar di depan Alvin.
“Gak ada manusia yang sempurna kok, May. Walaupun kamu buta, tapi kamu masih keliatan cantik kok”, ucap Alvin menghibur Mayna.
“Apaan sih? Bisa aja kamu. By the way, kamu sakit apa sampe harus ngejalanin  pengobatan disini?”, tanya Mayna.
“Emm, May, aku duluan ya? Mama aku udah selesai nebus obatnya. See ya!”, jawab Alvin tanpa menjawab pertanyaan Mayna dan segera berlalu meninggalkan Mayna.

***

Semenjak perkenalan singkat di rumah sakit beberapa waktu lalu, Mayna menjadi semakin akrab dengan Alvin. Dimana ada Mayna, ada Alvin yang selalu menemaninya. Kini, perlahan Mayna sudah bisa menerima kondisinya yang tidak bisa melihat. Mayna sudah bisa tersenyum dan bahkan tertawa lepas. Kehadiran Alvin telah mengembalikan sosok Mayna yang dulu.
Mayna menjadi lebih semangat menjalani hari-harinya. Dia mulai terbuka dan bersosialisasi dengan orang lain. Bagi Mayna, Alvin seperti malaikat dari langit yang sengaja Tuhan kirimkan untuknya. Alvin bukan sekedar teman curhat Mayna. Namun, sudah menjadi bagian dari diri Mayna. Perubahan positif Mayna kini, sangat membuat Leni bahagia.
“Bun, aku mau nanya sesuatu deh”, ucap Mayna.
“Kamu mau nanya apa, sih? Serius banget kayaknya”, tanya Leni sambil memeluk Mayna.
“Kalo aku buka panti asuhan khusus penderita tunanetra, gimana? Aku cuma mau berbagi aja, Bun, sama mereka”, jawab Mayna.
“Ya bagus dong. Bunda setuju banget kok, Sayang. Kapan kamu mau buka? Nanti bunda bantuin deh”, ucap Leni bahagia.
“Makasih banyak, ya Bun!”, ucap Mayna sambil memeluk erat bundanya.
Keesokan harinya, Alvin menemani Mayna membeli kebutuhan untuk panti asuhan khusus tunanetra miliknya. Sesampainya di pusat perbelanjaan, Mayna mulai memilih barang-barang yang dibutuhkannya. Tentu dengan bantuan Alvin. Setelah mendapatkan semua barang-barang yang dibutuhkan, Alvin mengantarkan Mayna pulang ke rumah. Namun, sebelum itu, mereka pergi menuju sebuah taman dekat kompleks perumahan Mayna.
“Akhirnya, semuanya udah dibeli ya, Vin”, ucap Mayna senang.
“Iya, May. Aku seneng deh kalo bisa liat kamu senyum terus kayak gini”, balas Alvin sambil mengelus lembut kepala Mayna.
“Makasih ya, Vin, kamu udah mau nemenin aku selama ini. Tanpa kamu, aku gak akan bisa seperti sekarang”, ucap Mayna sambil menggenggam tangan Alvin.
“Kamu gak perlu berterima kasih gitu sama aku. Aku seneng kok bisa ngelakuin  ini untuk kamu. Yang penting kamu bahagia, May”, jelas Alvin membalas genggaman tangan Mayna.
“Vin, kamu mau gak janji satu hal sama aku. Kalo aku udah bisa liat nanti, kamu harus ada di samping aku, ya?”, tanya Mayna.
“Aku janji, May. Aku akan terus ada di samping kamu sampai kapanpun. Aku sayang banget sama kamu, May”, jawab Alvin.
“Makasih, Vin. Aku juga sayang banget sama kamu”, balas Mayna sambil memeluk erat Alvin.
“Jadi, sekarang kita.................pacaran?”, tanya Alvin bingung.
Mayna tidak menjawab secara langsung pertanyaan klasik Alvin. Mayna malah memeluk Alvin semakin erat. Tanpa jawaban yang pasti dari bibir Mayna pun Alvin sudah tahu apa arti pelukan Mayna itu. Bagi Alvin, pelukan itu sudah mengartikan segalanya. Lebih dari sekedar jawaban dari pertanyaannya.
Semenjak kejadian di taman kemarin, Mayna menjadi lebih sering tersenyum. Lebih tepatnya senyum-senyum sendiri. Baru kali ini, Mayna mulai mengenal cinta kembali setelah kondisinya seperti saat ini. Bagi Mayna, Tuhan memang amat baik terhadap dirinya. Terlalu baik bahkan. Dia menghadirkan bunda yang selalu ada untuk dirinya. Dan Dia menghadirkan Alvin untuk melengkapi kebahagiannya.
“May, makanan kamu udah siap, Sayang. Ayok, makan dulu!”, teriak Leni dari luar kamar Mayna.
“Iya, Bun. Sebentar lagi, ya. Tanggung nih sebentar lagi selesai”, jawab Mayna yang sedang sibuk membereskan berbagai macam proposal pembangunan panti asuhan khusus tunanetra miliknya.
Beberapa lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Mayna. Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Dengan perlahan, Alvin membuka pintu kamar Mayna. Ya, tanpa sepengetahuan Mayna, Alvin datang ke rumah Mayna. Alvin pun membawakan makanan untuk Mayna. Setelah pintu terbuka, dilihatnya Mayna tertidur di meja belajarnya yang penuh dengan berbagai macam proposal dan tumpukan kertas (dengan huruf Braille) yang bertebaran tidak teratur.
Tersenyum dan menggelengkan kepala. Hanya itu reaksi Alvin setelah melihat kekasihnya. Setelah meletakkan makanan untuk Mayna di meja yang lain, Alvin menggendong dan memindahkan Mayna ke tempat tidur. Setelah itu, Alvin membereskan tumpukan kertas yang bertebaran di meja belajar Mayna. Hal ini sudah menjadi kebiasaan baru Alvin beberapa hari ini.
Proses pembangunan panti asuhan khusus tunanetra milik Mayna akan segera rampung. Hal ini membuat Mayna menjadi lebih sibuk dari biasanya. Mayna lebih sering menghabiskan waktu di meja belajarnya. Dia sibuk memeriksa dan membereskan proposal atau surat-surat penting yang berhubungan dengan pembangunan panti. Jadwal istirahatnya pun sedikit terganggu.
Hal ini menyebabkan Mayna sering tertidur di meja belajarnya dengan segala macam tumpukan kertas yang berantakan. Alvin lah yang selalu berperan dalam hal ini. Dia selalu memindahkan Mayna ke tempat tidur dan membereskan tumpukan kertas di meja belajar Mayna. Bagi Alvin, hal ini bukan menjadi beban untuknya. Namun, inilah bentuk nyata rasa sayang dirinya terhadap Mayna. Kekasihnya.
“Vin, ada kamu, ya? Kamu ngapain, Sayang?”, ucap Mayna yang terbangun dari tidurnya.
“Hei. Udah bangun kamu? Aku lagi beresin ini loh, tumpukan proposal. Berantakan banget soalnya”, jawab Alvin sambil terus membereskan tumpukan proposal.
“Ya, ampun. Kamu gak usah repot-repot, Vin. Nanti juga berantakan lagi. Soalnya aku belum selesai baca semuanya”, ucap Mayna menghampiri Alvin.
“Gapapa, Sayang. Lagian kamu juga keliatannya capek banget, jadi ya aku bantu kamu lah sedikit. Hehehe”, balas Alvin sambil menggenggam tangan Mayna dan membantu Mayna duduk di sampingnya.
“Makasih ya, Vin. Kamu tuh emang paling bisa deh. Hehehe”, ucap Mayna manja.
“May, aku punya sesuatu untuk kamu”, ucap Alvin sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan memberikannya kepada Mayna.
“Ini apa, Vin?”, tanya Mayna penasaran.
“Hemm, itu surat pernyataan, May”, jawab Alvin sambil tersenyum.
“Surat pernyataan? Surat...? Surat apa sih, maksud kamu?”, tanya Mayna masih dengan rasa penasarannya.
“Itu surat pernyataan dari rumah sakit tentang pendonor mata. Rumah sakit menyatakan kalo mata yang mau pendonor berikan buat kamu cocok dan operasinya bisa segera dilakukan”, jawab Alvin sambil menggenggam tangan Mayna.
“Hah? Kamu serius, Vin? Alhamdulillah, akhirnya ada juga pendonor yang hasil tesnya cocok sama aku”, balas Mayna sambil menangis bahagia di pelukan Alvin.
“Iya, Sayang. Pendonor itu sayang banget sama kamu”, ucap Alvin.
“Maksud kamu, Vin? Apa pendonor itu orang yang aku kenal?”, tanya Mayna penasaran dengan pernyataan Alvin.
“Emm...E...Enggak kok. Maksud aku, siapapun pendonor itu, kamu harus berterima kasih sama dia. Itu berarti secara gak langsung dia sayang dan peduli sama kamu”, ucap Alvin hati-hati.
“Oh, gitu. Iya, kalau nanti aku udah di operasi, aku harus ketemu dan ngucapin  makasih sama dia”, balas Mayna kembali memeluk erat Alvin.

***

Operasi donor kornea mata untuk Mayna dua hari lagi akan dilaksanakan. Mayna begitu bersemangat menyambut hari itu. Dua hari lagi, Mayna yang dulu akan kembali. Mayna gadis cantik dengan mata yang indah akan kembali. Leni pun senang mendengar kabar ini. Beberapa hari ini, Leni sibuk bolak-balik rumah sakit untuk mengurusi persyaratan dan administrasi operasi mata Mayna.
Sudah tiga hari ini, Mayna di opname di rumah sakit. Mayna di rawat tentu sebagai salah satu persyaratan rumah sakit sebelum tindakan operasi dilakukan. Malamnya, Alvin datang ke rumah sakit Mayna di rawat. Malam ini malam minggu. Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu berdua. Mayna begitu bersemangat menceritakan persiapannya untuk hari esok. Hari dimana dirinya akan kembali bisa melihat.
“Vin, kamu tau gak? Aku bahagia banget sama apa yang udah Allah kasih untuk aku. Bunda, kamu, dan sekarang ada pendonor baik hati yang mau kasih “kehidupannya” buat aku”, ucap Mayna.
“Iya, Sayang. Aku juga seneng banget kok. Kamu harus terus bersyukur ya sama Allah”, balas Alvin sambil membelai lembut kepala Mayna.
“Kalo nanti aku bisa ngeliat  lagi, aku janji, aku bakalan nemuin  pendonor itu dan bilang makasih sama dia”, sambung Mayna.
“May, kamu harus percaya kalo Allah punya banyak cara-cara hebat untuk ngatur  kehidupan makhluk-Nya. Gak semua yang dianggap baik oleh kita, dianggap baik juga sama Allah. Dan sekarang, terbukti kan, kalo kamu sabar menghadapi hadiah dari-Nya, kamu bakalan dapet hadiah yang lebih indah”, jelas Alvin.
“Iya, Vin. Aku nyesel banget dulu sempet menyia-nyiakan hidup aku cuma untuk nangis dan meratapi kebutaan aku. Dan sekarang, Allah denger semua harapan aku”, ucap Mayna.
“May, sampai kapanpun kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri, ya. Jangan pernah peduli sama omongan orang yang negatif untuk kamu”, balas Alvin.
“Iya, Vin. Aku janji. Kamu juga janji, kan? Kalo kamu akan terus ada disamping aku sampe operasi ini selesai? Aku udah gak sabar deh mau lihat kegantengan pacar aku. Hehehe”, ucap Mayna sambil mengelitiki tubuh Alvin.
“Mulai deh jailnya. Hahaha. Yaudah, kamu istirahat ya. Udah malem aku juga harus pulang”, jawab Alvin.
“Tapi, kamu janji, kan? Aku sayang sama kamu, Vin”, tanya Mayna sambil memegang tangan Alvin.
“Iya, aku juga. Aku janji”, balas Alvin sambil mencium kening Mayna dan segera berlalu keluar kamar rawat Mayna.
Maafin aku, May. Aku terpaksa bohong sama kamu. Batin Alvin.

Keesokan harinya, Mayna sudah bersiap untuk di operasi. Mayna akan menjalani operasi pukul sembilan nanti. Di dalam kamar, dia terus menghubungi Alvin. Namun, sia-sia. Ponsel Alvin tidak dapat dihubungi. Tidak aktif. Tidak ada kabar apapun. Hal ini membuat Mayna kecewa. Walaupun tahu tindakannya percuma. Namun, Mayna terus berusaha menghubungi Alvin.
Tepat pukul sembilan, Mayna memasuki ruang operasi. Sampai Mayna masuk ruang operasi pun, Alvin tidak menampakkan diri. Hanya Leni, bundanya yang terus menemani Mayna. Kecewa jelas terlihat di wajah Mayna. Namun, dia tetap yakin kalau Alvin akan datang. Mayna percaya, Alvin tidak akan ingkar janji.
Setelah pintu operasi di tutup, lampu merah di depan ruang operasi pun menyala. Pertanda bahwa operasi sedang dilakukan. Di luar ruangan, Leni menunggu dengan penuh harapan. Dia terus berdoa kepada Tuhan memohon perlindungan dan keselamatan untuk anaknya. Leni sangat berharap operasi ini bisa mengembalikan Mayna yang dulu.
Enam jam berlalu. Lampu merah di depan ruang operasi pun telah mati. Pertanda bahwa operasi telah selesai dilakukan. Leni semakin takut dan penasaran dengan kondisi putrinya, Mayna. Tidak lama kemudian, seorang dokter dan perawat keluar dari ruang operasi. Mengetahui hal tersebut, Leni segera menghampiri mereka.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”, tanya Leni sedikit khawatir.
Alhamdulillah, Bu. Operasi berjalan lancar. Dan kondisi Mayna sejauh ini dalam keadaan stabil”, jawab Dokter Feby.
Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih”, balas Leni terharu. Sangat terharu.
“Ini semua berkat doa dari Ibu juga”, ucap Dokter Feby.
“Lalu, Dok, gimana dengan kondisi pendonor mata Mayna? Apa dia baik-baik saja?”, tanya Leni.
“Maaf, Bu. Pendonor itu mengalami pendarahan yang cukup hebat. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain”, jawab Dokter Feby.
Innalillahi wainnalillahi roji’un. Kalau begitu, bolehkan saya melihat pendonor itu, Dok? Saya ingin tahu seperti apa malaikat yang sudah menolong anak saya”, ucap Leni sedikit memohon.
“Baik, Bu. Ada sesuatu pula yang ingin disampaikan oleh pihak keluarga pendonor”, jawab Dokter Feby.
Setelah tindakan operasi tiga jam lalu, kini Mayna sudah dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Keadaan Mayna semakin membaik. Tekanan darah, detak jantung, dan pernapasannya pun sudah stabil. Namun, Mayna masih belum sadarkan diri. Obat bius pasca operasi masih bekerja.
Perlahan, Leni memasuki kamar rawat Mayna. Terkejut. Itu lah yang kini dirasakan Leni. Bukan terkejut karena kondisi Mayna. Namun, ada hal lain yang membuat Leni rapuh dan menangis seperti saat ini. Dengan sebuah kotak berwarna merah di tangannya, Leni masuk ke kamar rawat Mayna. Dilihatnya, Mayna sedang tertidur di ranjangnya. Leni meletakkan kotak itu di meja, dan duduk di samping ranjang Mayna. Leni pun mulai memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Mayna.
Perlahan Mayna menggerakkan tangannya. Mayna sudah siuman. Hal ini tentu membangunkan Leni dari tidurnya. Leni sangat senang Mayna sudah siuman. Dengan cepat, Leni memanggil dokter dan perawat dengan menggunakan tombol khusus di samping ranjang Mayna. Tidak butuh waktu lama, dokter dan perawat pun datang untuk memeriksa kondisi Mayna.
Tujuh hari berlalu. Kini, Mayna sudah bisa bangun dari tempat tidur dan berjalan. Namun, perban yang menutupi matanya masih belum bisa dibuka. Jahitan akibat operasi beberapa hari lalu masih basah dan belum boleh dibuka. Rencananya, besok perban tersebut baru akan dibuka. Mayna sangat tidak sabar menunggu hari esok.
Namun, dibalik kesenangannya ada hal lain yang mengganggu pikiran Mayna. Ya, Alvin. Mayna masih memikirkan kekasihnya itu. Jujur, Mayna kecewa dengan Alvin. Sangat kecewa. Beraninya, Alvin mengingkari janjinya. Beraninya, Alvin tidak menemani dirinya. Namun, Mayna tetap tidak bisa membohongi perasaannya. Dia masih sangat mengharapkan kehadiran Alvin di sisinya.
Selama tujuh hari Mayna menunggu kehadiran Alvin. Setiap orang yang masuk ke kamar rawatnya dikira Alvin. Namun, lagi lagi itu hanya harapan semu. Alvin tidak pernah datang. Mayna terus-menerus berusaha menghubungi Alvin. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada kabar apapun tentang Alvin. Alvin seolah hilang bak  di telan bumi. Hal ini membuat Leni sedih.
Akhirnya hari pelepasan perban pun tiba. Dokter dibantu dengan dua perawat menghampiri Mayna di kamar rawatnya. Sebelum melepaskan perban yang menutupi mata Mayna, dokter terlebih dahulu memeriksa kondisi Mayna. Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan, pelepasan perban pun dilakukan.
Setelah perban dilepas, perlahan Mayna membuka kedua matanya. Samar-samar Mayna mulai bisa merasakan cahaya lampu di kamar rawatnya. Setelah melihat cahaya lampu dengan jelas, Mayna mulai mencari orang yang selama ini menemaninya. Mayna mencari bundanya, Leni. Setelah menemukan orang yang dicari, Mayna tersenyum dan memeluk bundanya. Ya, Mayna bisa melihat bundanya kembali. Mayna sudah bisa melihat kembali.
Mayna memeluk erat bundanya. Mayna dan Leni hanyut dalam kebahagiaan mereka. Keduanya menangis bahagia bersama. Meluapkan semua kesenangan mereka dalam pelukan. Leni sangat bersyukur, putrinya telah “kembali”. Mayna pun sangat senang karena kini dirinya sudah bisa melihat kembali. Semua “kehidupannya” telah kembali.
“Bun, aku bisa ngeliat  lagi, Bun! Alhamdulillah, Bun”, ucap Mayna sambil terus  memeluk bundanya.
“Iya, Sayang. Kamu harus bersyukur, ya. Allah sayang sama kamu”, balas Leni membalas pelukan Mayna.
“Terima kasih ya, Dok. Berkat bantuan dokter, aku bisa kayak sekarang”, ucap Mayna kepada Dokter Feby.
“Sama-sama, Mayna. Ini juga berkat doa dan perjuangan kamu. Yasudah kalau begitu, saya permisi ya. Masih banyak pasien yang harus saya tangani”, pamit Dokter Feby sambil berlalu dan keluar dari kamar rawat Mayna. Diikuti oleh dua perawat.
“Terima kasih banyak, Dok”, ucap Leni.

***

Sebulan berlalu. Kini, Mayna di sibukkan dengan kegiatan mengurus panti asuhan khusus penderita tunanetra miliknya. Ya, seminggu yang lalu panti tersebut resmi dibuka. Dengan penglihatan yang kini dimilikinya, Mayna bisa bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Tanpa harus merepotkan orang lain, termasuk bundanya. Mayna ingin mandiri.
Suatu hari, Leni menghampiri Mayna yang tengah sibuk di kamarnya. Leni membawa kotak berwarna merah yang dulu sempat dia sembunyikan dari Mayna. Kini, Leni sadar. Sudah saatnya, Mayna mengetahui suatu hal. Hal penting yang berhubugan dengan Alvin. Ya, Alvin, kekasih Mayna.
“Sayang, kamu lagi sibuk, ya?”, tanya Leni sambil memasuki kamar Mayna.
“Enggak kok, Bun. Ini cuma lagi ngerapihin lemari buku aja. Kenapa, Bun?”, tanya Mayna tanpa melepaskan pandangannya dari tumpukan surat dan majalah lama.
“Ini. Bunda cuma mau kasih ini aja kok. Yaudah, bunda tinggal ya, Sayang”, balas Leni.
Belum sempat Mayna menanyakan tentang kotak pemberian bundanya, Leni sudah terlanjur keluar kamar meninggalkan Mayna. Awalnya, Mayna ragu membuka kotak itu. Entah kenapa, firasat Mayna mengatakan bahwa kotak berwarna merah itu ada hubungannya dengan Alvin, kekasihnya. Namun, rasa penasaran Mayna mengalahkan rasa takutnya. Mayna mengambil dan membuka kotak itu.
Sambil duduk di dekat jendela kamarnya, Mayna perlahan membuka kotak itu. Di dalam kotak itu, terlihat sekumpulan kertas yang terlipat rapi, sebuah cincin dan sebuah foto. Mayna semakin yakin dengan apa yang dilihatnya. Kotak ini pasti dari Alvin. Muncul berbagai macam pertanyaan dalam benak Mayna. Apa maksud Alvin memberikan kotak ini? Dan dimana dia sekarang?
Perlahan, Mayna mengeluarkan satu per satu isi kotak merah tersebut. Cincin dan sekumpulan kertas sudah dikeluarkan Mayna dari kotak. Seketika Mayna menatap cincin yang berasal dari kotak itu. Ada tulisan “Mayna” di dalam lingkar cincin itu. Tanpa disadari, air mata Mayna pun jatuh. Mayna mulai menangis. Setelah cincin, kini, Mayna beralih ke kumpulan surat. Ada dua pucuk surat dari dalam kotak itu. Perlahan, Mayna mulai membuka surat pertama.
Betapa terkejutnya Mayna setelah mengetahui apa isi surat itu. Surat dengan kop surat  bertuliskan Rumah Sakit Permata itu membuat dada Mayna sesak. Dalam surat itu, dijelaskan secara rinci tentang penyakit kanker otak. Yang lebih membuat Mayna terkejut adalah tertera “Nama Penderita: Alvin Putra” dalam surat itu. Mayna sangat mengetahui apa maksud dari isi surat itu. Pertanyaan-pertanyaan pun semakin muncul dalam pikiran Mayna. Tangis Mayna pun pecah saat dia mulai membuka surat kedua. Mayna berusaha untuk kuat membaca isi surat itu.

Hai, Sayang.
Selamat ya untuk keberhasilan operasi donor matanya. Aku turut bahagia kok. Oh, iya gimana sama cincin nya? Kamu suka, kan? Aku sempet beli cincin itu waktu dulu aku nemenin kamu belanja untuk keperluan panti. Kamu ingat, kan? Maaf ya kalo jelek. Aku emang gak terlalu jago milih barang yang kamu suka. Hehehe. Maafin ya, May. Aku gak bisa nemenin kamu selama kamu operasi. Kamu berhak marah dan kecewa sama aku. Aku terima. Tapi aku gak bisa terima kalo setelah kamu menerima kotak ini, kamu marah sama diri kamu sendiri dan menyesal dengan apa yang udah terjadi sama kamu. Aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu, May. Aku gak pernah ingkar janji untuk nemenin kamu, May. Justru sekarang aku bisa selalu nemenin kamu. Dengan mata aku yang sekarang ada di tubuh kamu, aku akan selalu melindungi dan mengawasi kamu kapanpun dan dimanapun kamu berada. Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Everybody needs somebody to love and I choose you.


Your big fans.


Tangisan Mayna semakin tidak terbendung setelah membaca seluruh isi surat dari Alvin. Mayna baru mengetahui siapa pendonor baik hati yang rela memberikan “kehidupan” untuk Mayna. Orang yang selama ini selalu dianggap malaikat oleh Mayna. Orang yang selama ini sangat ingin Mayna temui. Orang yang selama ini sangat ingin Mayna ucapkan terima kasih. Hati Mayna hancur setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Kenyataan bahwa malaikat itu adalah Alvin. Kekasihnya sendiri. Mayna semakin terpuruk dengan kesedihannya setelah melihat foto dirinya dengan seorang laki-laki tampan di sebelahnya.
Mayna sangat yakin siapa laki-laki itu. Sangat terlihat jelas di foto itu. Laki-laki itu mencintai Mayna dengan tulus. Dia sangat ingin menjaga Mayna sampai kapanpun. Alvin. Dia adalah Alvin. Dan Mayna baru bisa melihat Alvin justru hanya melalui sebuah foto kenangan dirinya dengan Alvin. Remuk hati Mayna melihat foto itu. Semua air mata yang keluar dari matanya tidak akan mungkin mengembalikan Alvin. Mayna sangat sadar akan hal itu. Setelah puas mengeluarkan semua perasaannya melalui tangisan, Mayna akhirnya tertidur. Melepaskan sementara, semua kenyataan pahit yang baru di ketahuinya.
Setahun berlalu. Kini, Mayna sudah bisa menerima kenyataan pahit tentang Alvin. Mayna berusaha bangkit demi membuktikan kepada Alvin bahwa dirinya bisa mandiri. Perlahan Mayna mulai menata kehidupannya yang baru. Dia semakin bersemangat mengelola panti asuhan miliknya. Mayna tidak akan pernah bisa melupakan sosok Alvin dalam hidupnya. Bagi Mayna, Alvin lebih dari sekedar kekasih untuknya. Alvin memang malaikat yang Tuhan kirimkan dalam kehidupannya. Mayna berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan lebih menghargai kehidupannya yang dulu sempat “hilang”.

Aku janji, Vin. Aku akan jadi diri aku sendiri dan menjaga mata ini untuk kamu. Sampai ketemu di surga-Nya ya, Sayang.  Batin Mayna.






-kzp-

Jumat, 20 Desember 2013

19th




18 Desember 1994...
Ayah meminang Ibu dengan penuh cinta dan harapan. Disaksikan oleh banyak pasang mata, Ayah dan Ibu mengucap janji. Dengan lantang Ayah mantap mengucapkan janji suci. Begitu banyak doa dan harapan yang terucap dari para hadirin yang saat itu ikut menyaksikan sakralnya pernikahan Ayah dan Ibu. Sampai akhirnya, Allah memberikan anugerah terindah untuk Ayah dan Ibu. Tujuh belas tahun lalu, Allah menganugerahi aku lalu disusul dengan kehadiran Rama setahun kemudian.

Sembilan belas tahun telah berlalu. Banyak hal yang telah Ayah dan Ibu lalui. Suka—suka, suka, suka, suka, suka, ......—dan duka telah Ayah dan Ibu lewati. Ayah dan Ibu bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga kecil yang luar biasa indahnya. Bersama-sama berjuang membesarkan serta mendidik aku dan Rama hingga saat ini. Terima kasih untuk semua cinta, kasih, dan sayang untuk kami. Terima kasih untuk kesabaran Ayah dan Ibu menghadapi tingkah-tingkah menyebalkan kami. Terima kasih karena Ayah dan Ibu selalu ada untuk mendengar keluh kesah kami. Terima kasih telah menjadi orang tua yang luar biasa hebat untuk kami. Semoga Ayah dan Ibu bisa terus menjadi pasangan yang bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Sekali lagi, selamat 19 tahun pernikahan untuk Ayah dan Ibu. Love you both.

Rindu.

Kata orang, rindu adalah sejenis mantra yang bisa membius seseorang yang sedang tersihir olehnya. Katanya.
Kata orang, rindu adalah sejenis ekspresi terpendam yang sulit untuk diungkapkan seperti apa rasanya. Katanya.
Kata orang, rindu adalah sejenis kata ajaib yang bisa membuat seseorang berani berbuat gila. Katanya.
Kata orang, rindu adalah saat seseorang sudah mulai mengenal cinta dalam hidupnya. Katanya.
Kata orang, rindu adalah saat seseorang mulai kehilangan waktu bersama penyemangat hidupnya. Katanya.
Kata orang, rindu adalah saat seseorang sulit bertemu “sesuatu” yang membuat dirinya nyaman. Katanya.

Rindu adalah saat aku dan kamu tidak bisa menghabiskan waktu berdua untuk beberapa waktu. Kataku, rindu itu kamu.


Minggu, 15 Desember 2013

Sederhana Menjadi Luar Biasa

“Saat takdir mempertemukan kita satu tahun lalu”
“Saat aku atau kamu, menjadi kita”
“Saat keabnormalan mempersatukan kita”
“Saat XI IPA 1 menjadi XII IPA 1”

Pagi itu, kami berencana untuk melakukan “refreshing sesaat” setelah seminggu sebelumnya, kami harus berjuang mati-matian menghadapi perang.......UAS. Yaps, hari Sabtu, 14 Desember 2013, kami berangkat ke Ancol. Ceritanya sih, kami kesana untuk prosesi foto butah (buku tahunan). Tau kan buku tahunan itu apa? Itu loh, semacam buku kenang-kenangan kalo udah lulus nanti. Tapiiiiiiiii kalo boleh jujur, sebenarnya, gak mudah bagi kami menentukan tanggal 14 untuk prosesi foto butah. Sempet ada jatuh bangunnya (kebanyakan jatuhnya sih......) dulu, sebelum kami fix sama tanggal 14. Mau diceritain sih, tapiiiii nanti aja deh, ceritanya terlalu panjang dan agak complicated  hehehe. H-1, kami sempet ngumpul sebentar untuk ngomongin masalah buku tahunan, tapi gak terlalu lama. Soalnya, yang lain udah pada buete dan capek setelah seharian ngerjain soal TO Simulasi UN.....4 MATA PELAJARAN SEKALIGUS!J Jadi ya, cuma ngomongin hal-hal seperlunya aja terus pulang deh.
Keesokan paginya, jam 06.00 kami udah kumpul di depan sekolah (ya walaupun gak semuanya on time sih hehehe). Waktu sampe di sekolah, lumayan rame. Ternyata, gak cuma kelas kami aja yang punya rencana mau foto butah, tapi ada “tetangga” juga (re: A3) disana. Setelah sibuk missed call dan sms-in yang belum dateng alias yang agak ngaret, akhirnya sekitar jam 07.00 (padahal rencana awal berangkat jam 06.30 –“), kami berangkat ke Ancol. Yeay. Kami menggunakan perahu (darat) alias bis kesana. Perjalanan kami ditemani oleh wali kelas kami (tentunya), Bu Dian, dua mas-mas agensi yang “lumayan” (katanya), satu supir lengkap dengan satu kondektur alias kenek, dan masing-masing pasangan....(?) #salahfokus. Hahaha. Enggak deng, bercandaaaaaaa. Sepanjang perjalanan, kami coba buat menghibur diri, apalagi para jombs HIKS. Anak-anak cowok yang mulai bertingkah autis dengan bernyanyi lagu hasil ciptaan mereka sendiri atau ngeluarin kata-kata konyol yang seketika bisa buat ngakak. Kalo anak-anak ceweknya sih lebih banyak jaim-nya, ada yang dengerin musik dengan headset, ada yang ngobrol sama temen satu bangku, dan ada juga yang sibuk vermak muka dengan make-up. Tapiiii kebanyakan sih pada mampir sebentar ke pulau mimpi hehehe.
Sekitar jam 09.00, kami sampai di Ancol. Suasana di dalam bis mulai gak karuan. Anak-anak cowok yang makin autis dengan segala macam jurus lawakan mereka dan anak-anak cewek yang makin ganas mempercantik diri. Setelah survey tempat yang cocok untuk prosesi foto, akhirnya, kami diperbolehkan turun dari bis. Anak-anak cowok langsung turun dengan membawa barang-barang pribadi mereka. Sedangkan, anak-anak cewek masih rusuh ganti baju dan dandan. Setelah semua selesai bersiap diri, prosesi foto pun dimulai. Suasana Ancol saat itu, sangat ramai pengunjung dengan cuaca yang sangat-amat-terik-sekali. Dandanan kami semua hampir hancuwrw lebuwrw (pake logat cadelnya Faris). Tapi tetep aja, cuaca tidak mengahalangi kami untuk berpose hehehe. Prosesi foto butah kami terdiri dari dua sesi foto.
Sesi pertama adalah foto bareng-bareng dengan wali kelas. Kami mengenakan pakaian semi formal putih saat sesi pertama. Jujur, semua terlihat beda. Anak-anak cowok jadi lebih rapi dan makin ganteng. Sedangkan, anak-anak cewek makin cantik dengan sapuan make-up. Dan saat sesi kedua, kami menggunakan pakaian bebas sesuai dengan kebijakan dari masing-masing kelompok. Anak-anak cowok lebih banyak yang menggunakan T-shirt  atau kaos, sedangkan, anak-anak cewek lebih bervariasi. Ada yang mengenakan baju kemeja dibalut dengan rok dan ada juga yang mengenakan T-shirt dengan celana. Sesi pertama pun dimulai. Kami harus susah payah berpose dengan cuaca yang kurang mendukung (re: sangat panas). Dan “kesenangan” kami pun makin indah, karena agensi yang selalu mengulang prosesi foto. Mungkin, mas-mas agensi ketagihan dengan senyum dan pose kami. Hehehe.
Setelah selesai sesi foto pertama, kami melanjutkan sesi foto kedua. Sebelumnya, kami sempet melakukan breaktime solat dan makan siang. Satu per satu, tiap kelompok berpose dan melempar senyum ke arah kamera. Walaupun, sempet tertunda karena turun hujan, tapi tetep gak menghilangkan semangat kami. Tiap kelompok menentukan sendiri tempat mana yang menjadi tempat foto mereka. Kebanyakan tiap kelompok memilih tempat yang berbeda satu sama lain. Namun, ada juga yang memilih tempat yang sama. Ada yang foto dengan tema bermain pasir, di jembatan kayu, dan masih banyak lagi. Akhirnya sekitar jam 19.30, prosesi foto butah kami pun selesai. Kami bersiap-siap kembali ke rumah masing-masing. Suasana di dalam bis gak serame saat kami berangkat. Mungkin, karena udah malam dan kondisi kami udah lelah dengan aktivitas “pemotretan” yang cukup padat dari pagi hari. Akhirnya, kebanyakan dari kami tidur di dalam bis, ya walaupun ada sebagian anak-anak cowok yang batrainya masih full  terus mereka bernyanyi konyol (lagi). Perjalanan pulang cukup lama, karena kondisi jalanan yang padat merayap. Namanya juga Jakarta J. Akhirnya, sekitar jam 21.00 kami sampe di sekolah. Setelah pamitan dengan wali kelas, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Ada yang dijemput dan ada pula yang mandiri alias memilih untuk pulang sendiri.
HUWAAAAAAAA AKHIRNYA PROSESI FOTO BUTAH KITA SELESAI JUGA, GUYS! Semuanya udah se-le-sai. Walaupun turun hujan dan ada beberapa “masalah kecil” yang akhirnya bisa diatasi. Pokoknya, terimakasih sekali untuk semuanya. Makasih untuk Bu Dian, yang udah nyempetin waktu untuk kami. Makasih untuk dua mas-mas agensi yang udah sabar banget ngadepin pose-pose dan permintaan-permintaan aneh kami. Makasih untuk bapak supir dan mas kenek-nya yang udah “sabaaaaaaaaaaaaaaar” banget nungguin kami sampe acara selesai. Makasih untuk semua panitia buku tahunan kelas. Makasih untuk Farras yang udah rela-relain repot dan pusing dengan tanggung jawab luarrrr biasa banget. Makasih untuk Firman yang dari awal sampe di Ancol udah rela bantuin Farras ngurus acara sampe selesai. Makasih untuk Shabrina yang udah mau ribet bantuin Firman buat nagih uang butah ke anak-anak. Makasih untuk Osi, Sifa, Adel, dan Findya yang udah mau repot ngebantuin anak-anak cewek mempercantik diri. Makasih untuk semua anak cowok yang selalu menghibur dengan berbagai macam jurus lawak selama perjalanan. Makasih untuk semua anak cewek yang udah bahu-membahu saling mem-vermak penampilan. Makasih semuanya yang udah rela waktu malam-mingguan-nya sama keluarga atau pacar diambil cuma untuk foto butah. Sekali lagi, makasih untuk semua (gak bisa disebutin satu per satu) yang udah terlibat dalam prosesi foto buku tahunan XII IPA1. Maaf, kalo selama ini, dari panitia buku tahunan kelas atau dari yang lain, ada kata-kata yang gak berkenan. Semoga hasil foto butah bagus dan maksimal daaaan sukses untuk UN dan PTN-nya scornerz!

“Hal sederhana bisa menjadi sangat luar biasa"