“Alhamdulillah sayang, kamu udah sadar”,
ucap Leni sambil mengucap syukur.
“Bun,
aku dimana? Kenapa gelap?”, tanya Mayna.
“Sayang,
kemarin kamu mengalami kecelakaan mobil. Tapi kamu gak usah khawatir ya, semua
baik-baik saja”, jawab Leni penuh hati-hati.
“Tapi
kenapa gelap, Bun? Aku gak bisa liat apa-apa, Bun”, ucap Mayna mulai ketakutan.
“Maafin
bunda sayang. Dokter bilang, kecelakaan kemarin membuat kornea kedua mata kamu
rusak. Dengan berat hati, kamu harus kehilangan penglihatan kamu, Sayang”,
jelas Leni sambil memeluk Mayna yang terpaku mendengar penjelasan bundanya.
“Aku
buta, Bun. Enggak mungkin, Bun. Aku gak mungkin buta, Bun. Enggaaaaaaaaak!”,
teriak Mayna sambil memukul-mukul ranjang rumah sakit.
***
Sejak
kecelakaan dua tahun lalu, Mayna berubah. Mayna menghabiskan hari-harinya hanya
di dalam kamar. Mengurung diri dan meratapi nasibnya. Jarang sekali Mayna
keluar dari kamarnya.
Kecelakaan
dua tahun lalu, tidak hanya merenggut penglihatan Mayna. Namun, juga sosok lama
Mayna. Mayna, gadis periang yang selalu bisa membuat orang lain tersenyum kini
sudah tidak ada. Yang ada kini, hanyalah Mayna yang pendiam dan sulit untuk
bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini tentu saja membuat Leni—bundanya
Mayna—merasa sangat menyesal. Leni menyesal, karena dialah yang menyetujui
tindakan operasi pengangkatan kornea mata Mayna dua tahun lalu. Namun, Leni
melakukan semua ini untuk menyelamatkan putrinya. Putri kesayangannya.
“Sayang,
kita makan dulu, ya. Nih, bunda bawain makanan kesukaan kamu. Opor ayam”, ucap
Leni memecah lamunan Mayna.
“Makasih,
Bun. Taruh aja di meja. Aku bisa makan sendiri”, jawab Mayna tanpa ekspresi.
Datar.
“Bunda
suapin aja ya, Sayang. Yuk, sini”, ucap Leni sambil memberikan sesendok makanan
ke mulut Mayna.
“Enggak,
Bun. Aku bisa sendiri. Taruh aja makanannya di meja”, ucap Mayna mulai
membentak bundanya.
“Yaudah,
bunda taruh di meja ya. Jangan sampe gak makan ya, Sayang”, jelas Leni sambil
mengecup kening Mayna dan segera berlalu keluar kamar.
Suasana
hening kembali terjadi setelah Leni menutup pintu kamar Mayna. Makanan yang
diberikan Leni untuk Mayna hanya di diamkan saja. Mayna sama sekali tidak
memakan makan siangnya. Bahkan, Mayna tidak menyentuhnya sedikit pun. Kini,
yang dilakukan Mayna hanya melamun dan melamun. Entah apa yang dipikirkannya.
Sore
harinya, Mayna dan bundanya pergi ke rumah sakit. Hari ini ada jadwal kontrol
mata Mayna di rumah sakit. Seperti biasa, awalnya Mayna tidak mau pergi ke
rumah sakit. Alasannya sederhana. Bagi Mayna, semua perawatan dan kontrol ke dokter
percuma dilakukan dan hanya akan membuang-buang biaya saja. Namun, Leni selalu berhasil
membujuk Mayna untuk pergi ke rumah sakit.
Sesampainya
di rumah sakit, Mayna dan Leni langsung menuju administrasi. Sementara Leni
mengurus administrasi dan menanyakan jadwal praktik dokter, Mayna hanya duduk
di ruang tunggu. Dalam pikirannya, Mayna membayangkan kalau saja dia tidak
buta, mungkin saat ini dia sedang membaca novel sambil mendengarkan lagu favoritnya
di I-phone. Tidak akan bosan seperti
sekarang. Seketika air mata Mayna jatuh. Namun, dengan cepat Mayna segera
menghapusnya.
Setelah
menunggu cukup lama, Mayna dan bundanya memasuki ruangan dokter. Disana, dokter
mulai memeriksa kondisi Mayna. Kondisi Mayna cukup baik. Walaupun, kini tubuh Mayna terlihat
lebih kurus dari beberapa hari sebelumnya. Setelah selesai melakukan
pemeriksaan dan memberikan resep obat, dokter mengizinkan Mayna untuk pulang.
Sementara
Leni menebus obat di apotek, Mayna menunggu di taman rumah sakit. Taman yang
tidak begitu luas itu cukup membuat hati Mayna tenang. Walaupun Mayna tidak
bisa melihat keindahan taman itu, namun, Mayna bisa merasakan kesejukan taman
kecil itu. Baru kali ini, Mayna bisa merasakan “nyamannya” kehidupan setelah
sekian lama dia kehilangan semangat hidupnya. Ya, Mayna bisa tersenyum kembali.
“Hai.
Aku ganggu kamu, gak?”, ucap seorang laki-laki memecah lamunan Mayna.
“Maaf,
kamu siapa?”, tanya Mayna ragu.
“Aku
Alvin. Kamu Mayna, kan?”, jawab laki-laki itu memperkenalkan diri.
“Kok
kamu tau nama aku? Apa sebelumnya kita pernah kenal?”, tanya Mayna penasaran.
“Kita
gak pernah kenal sebelumnya. Aku juga lagi perawatan di rumah sakit ini. Dan aku
udah tau kamu cukup lama. Kamu sering berobat juga kan disini? Emang kamu sakit
apa?”, jelas Alvin.
“Oh,
gitu. Salam kenal, ya. Ya, kamu bisa liat sendiri kan gimana kondisi aku. Aku
gak bisa lihat. Hehehe”, ucap Mayna berusaha untuk terlihat tegar di depan
Alvin.
“Gak
ada manusia yang sempurna kok, May. Walaupun kamu buta, tapi kamu masih
keliatan cantik kok”, ucap Alvin menghibur Mayna.
“Apaan
sih? Bisa aja kamu. By the way, kamu
sakit apa sampe harus ngejalanin pengobatan disini?”, tanya Mayna.
“Emm,
May, aku duluan ya? Mama aku udah selesai nebus obatnya. See ya!”, jawab Alvin tanpa menjawab pertanyaan Mayna dan segera
berlalu meninggalkan Mayna.
***
Semenjak
perkenalan singkat di rumah sakit beberapa waktu lalu, Mayna menjadi semakin
akrab dengan Alvin. Dimana ada Mayna, ada Alvin yang selalu menemaninya. Kini,
perlahan Mayna sudah bisa menerima kondisinya yang tidak bisa melihat. Mayna
sudah bisa tersenyum dan bahkan tertawa lepas. Kehadiran Alvin telah
mengembalikan sosok Mayna yang dulu.
Mayna
menjadi lebih semangat menjalani hari-harinya. Dia mulai terbuka dan
bersosialisasi dengan orang lain. Bagi Mayna, Alvin seperti malaikat dari
langit yang sengaja Tuhan kirimkan untuknya. Alvin bukan sekedar teman curhat Mayna. Namun, sudah menjadi
bagian dari diri Mayna. Perubahan positif Mayna kini, sangat membuat Leni
bahagia.
“Bun,
aku mau nanya sesuatu deh”, ucap Mayna.
“Kamu
mau nanya apa, sih? Serius banget kayaknya”, tanya Leni sambil memeluk Mayna.
“Kalo
aku buka panti asuhan khusus penderita tunanetra, gimana? Aku cuma mau berbagi
aja, Bun, sama mereka”, jawab Mayna.
“Ya
bagus dong. Bunda setuju banget kok, Sayang. Kapan kamu mau buka? Nanti bunda
bantuin deh”, ucap Leni bahagia.
“Makasih
banyak, ya Bun!”, ucap Mayna sambil memeluk erat bundanya.
Keesokan
harinya, Alvin menemani Mayna membeli kebutuhan untuk panti asuhan khusus tunanetra
miliknya. Sesampainya di pusat perbelanjaan, Mayna mulai memilih barang-barang
yang dibutuhkannya. Tentu dengan bantuan Alvin. Setelah mendapatkan semua
barang-barang yang dibutuhkan, Alvin mengantarkan Mayna pulang ke rumah. Namun,
sebelum itu, mereka pergi menuju sebuah taman dekat kompleks perumahan Mayna.
“Akhirnya,
semuanya udah dibeli ya, Vin”, ucap Mayna senang.
“Iya,
May. Aku seneng deh kalo bisa liat kamu senyum terus kayak gini”, balas Alvin
sambil mengelus lembut kepala Mayna.
“Makasih
ya, Vin, kamu udah mau nemenin aku selama ini. Tanpa kamu, aku gak akan bisa
seperti sekarang”, ucap Mayna sambil menggenggam tangan Alvin.
“Kamu
gak perlu berterima kasih gitu sama aku. Aku seneng kok bisa ngelakuin ini untuk kamu. Yang penting kamu bahagia,
May”, jelas Alvin membalas genggaman tangan Mayna.
“Vin,
kamu mau gak janji satu hal sama aku. Kalo aku udah bisa liat nanti, kamu harus
ada di samping aku, ya?”, tanya Mayna.
“Aku
janji, May. Aku akan terus ada di samping kamu sampai kapanpun. Aku sayang
banget sama kamu, May”, jawab Alvin.
“Makasih,
Vin. Aku juga sayang banget sama kamu”, balas Mayna sambil memeluk erat Alvin.
“Jadi,
sekarang kita.................pacaran?”, tanya Alvin bingung.
Mayna
tidak menjawab secara langsung pertanyaan klasik Alvin. Mayna malah memeluk
Alvin semakin erat. Tanpa jawaban yang pasti dari bibir Mayna pun Alvin sudah
tahu apa arti pelukan Mayna itu. Bagi Alvin, pelukan itu sudah mengartikan
segalanya. Lebih dari sekedar jawaban dari pertanyaannya.
Semenjak
kejadian di taman kemarin, Mayna menjadi lebih sering tersenyum. Lebih tepatnya
senyum-senyum sendiri. Baru kali ini, Mayna mulai mengenal cinta kembali
setelah kondisinya seperti saat ini. Bagi Mayna, Tuhan memang amat baik terhadap
dirinya. Terlalu baik bahkan. Dia menghadirkan bunda yang selalu ada untuk
dirinya. Dan Dia menghadirkan Alvin untuk melengkapi kebahagiannya.
“May,
makanan kamu udah siap, Sayang. Ayok, makan dulu!”, teriak Leni dari luar kamar
Mayna.
“Iya,
Bun. Sebentar lagi, ya. Tanggung nih sebentar lagi selesai”, jawab Mayna yang
sedang sibuk membereskan berbagai macam proposal pembangunan panti asuhan khusus
tunanetra miliknya.
Beberapa
lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Mayna. Tidak ada jawaban
dari dalam kamar. Dengan perlahan, Alvin membuka pintu kamar Mayna. Ya, tanpa
sepengetahuan Mayna, Alvin datang ke rumah Mayna. Alvin pun membawakan makanan
untuk Mayna. Setelah pintu terbuka, dilihatnya Mayna tertidur di meja
belajarnya yang penuh dengan berbagai macam proposal dan tumpukan kertas
(dengan huruf Braille) yang
bertebaran tidak teratur.
Tersenyum
dan menggelengkan kepala. Hanya itu reaksi Alvin setelah melihat kekasihnya.
Setelah meletakkan makanan untuk Mayna di meja yang lain, Alvin menggendong dan
memindahkan Mayna ke tempat tidur. Setelah itu, Alvin membereskan tumpukan
kertas yang bertebaran di meja belajar Mayna. Hal ini sudah menjadi kebiasaan
baru Alvin beberapa hari ini.
Proses
pembangunan panti asuhan khusus tunanetra milik Mayna akan segera rampung. Hal
ini membuat Mayna menjadi lebih sibuk dari biasanya. Mayna lebih sering
menghabiskan waktu di meja belajarnya. Dia sibuk memeriksa dan membereskan
proposal atau surat-surat penting yang berhubungan dengan pembangunan panti. Jadwal
istirahatnya pun sedikit terganggu.
Hal
ini menyebabkan Mayna sering tertidur di meja belajarnya dengan segala macam
tumpukan kertas yang berantakan. Alvin lah yang selalu berperan dalam hal ini.
Dia selalu memindahkan Mayna ke tempat tidur dan membereskan tumpukan kertas di
meja belajar Mayna. Bagi Alvin, hal ini bukan menjadi beban untuknya. Namun,
inilah bentuk nyata rasa sayang dirinya terhadap Mayna. Kekasihnya.
“Vin,
ada kamu, ya? Kamu ngapain, Sayang?”, ucap Mayna yang terbangun dari tidurnya.
“Hei.
Udah bangun kamu? Aku lagi beresin ini loh, tumpukan proposal. Berantakan
banget soalnya”, jawab Alvin sambil terus membereskan tumpukan proposal.
“Ya,
ampun. Kamu gak usah repot-repot, Vin. Nanti juga berantakan lagi. Soalnya aku
belum selesai baca semuanya”, ucap Mayna menghampiri Alvin.
“Gapapa,
Sayang. Lagian kamu juga keliatannya capek banget, jadi ya aku bantu kamu lah
sedikit. Hehehe”, balas Alvin sambil menggenggam tangan Mayna dan membantu
Mayna duduk di sampingnya.
“Makasih
ya, Vin. Kamu tuh emang paling bisa deh. Hehehe”, ucap Mayna manja.
“May,
aku punya sesuatu untuk kamu”, ucap Alvin sambil mengeluarkan sesuatu dari
dalam saku celananya dan memberikannya kepada Mayna.
“Ini
apa, Vin?”, tanya Mayna penasaran.
“Hemm,
itu surat pernyataan, May”, jawab Alvin sambil tersenyum.
“Surat
pernyataan? Surat...? Surat apa sih, maksud kamu?”, tanya Mayna masih dengan
rasa penasarannya.
“Itu
surat pernyataan dari rumah sakit tentang pendonor mata. Rumah sakit menyatakan
kalo mata yang mau pendonor berikan buat kamu cocok dan operasinya bisa segera
dilakukan”, jawab Alvin sambil menggenggam tangan Mayna.
“Hah?
Kamu serius, Vin? Alhamdulillah, akhirnya
ada juga pendonor yang hasil tesnya cocok sama aku”, balas Mayna sambil
menangis bahagia di pelukan Alvin.
“Iya,
Sayang. Pendonor itu sayang banget sama kamu”, ucap Alvin.
“Maksud
kamu, Vin? Apa pendonor itu orang yang aku kenal?”, tanya Mayna penasaran
dengan pernyataan Alvin.
“Emm...E...Enggak
kok. Maksud aku, siapapun pendonor itu, kamu harus berterima kasih sama dia.
Itu berarti secara gak langsung dia sayang dan peduli sama kamu”, ucap Alvin
hati-hati.
“Oh,
gitu. Iya, kalau nanti aku udah di operasi, aku harus ketemu dan ngucapin
makasih sama dia”, balas Mayna kembali memeluk erat Alvin.
***
Operasi
donor kornea mata untuk Mayna dua hari lagi akan dilaksanakan. Mayna begitu
bersemangat menyambut hari itu. Dua hari lagi, Mayna yang dulu akan kembali.
Mayna gadis cantik dengan mata yang indah akan kembali. Leni pun senang
mendengar kabar ini. Beberapa hari ini, Leni sibuk bolak-balik rumah sakit
untuk mengurusi persyaratan dan administrasi operasi mata Mayna.
Sudah
tiga hari ini, Mayna di opname di
rumah sakit. Mayna di rawat tentu sebagai salah satu persyaratan rumah sakit
sebelum tindakan operasi dilakukan. Malamnya, Alvin datang ke rumah sakit Mayna
di rawat. Malam ini malam minggu. Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu
berdua. Mayna begitu bersemangat menceritakan persiapannya untuk hari esok.
Hari dimana dirinya akan kembali bisa melihat.
“Vin,
kamu tau gak? Aku bahagia banget sama apa yang udah Allah kasih untuk aku.
Bunda, kamu, dan sekarang ada pendonor baik hati yang mau kasih “kehidupannya”
buat aku”, ucap Mayna.
“Iya,
Sayang. Aku juga seneng banget kok. Kamu harus terus bersyukur ya sama Allah”,
balas Alvin sambil membelai lembut kepala Mayna.
“Kalo
nanti aku bisa ngeliat lagi, aku janji, aku bakalan nemuin
pendonor itu dan bilang makasih sama dia”, sambung Mayna.
“May,
kamu harus percaya kalo Allah punya banyak cara-cara hebat untuk ngatur
kehidupan makhluk-Nya. Gak semua yang dianggap baik oleh kita, dianggap
baik juga sama Allah. Dan sekarang, terbukti kan, kalo kamu sabar menghadapi
hadiah dari-Nya, kamu bakalan dapet hadiah yang lebih indah”, jelas Alvin.
“Iya,
Vin. Aku nyesel banget dulu sempet
menyia-nyiakan hidup aku cuma untuk nangis dan meratapi kebutaan aku. Dan
sekarang, Allah denger semua harapan aku”, ucap Mayna.
“May,
sampai kapanpun kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri, ya. Jangan pernah
peduli sama omongan orang yang negatif untuk kamu”, balas Alvin.
“Iya,
Vin. Aku janji. Kamu juga janji, kan? Kalo kamu akan terus ada disamping aku
sampe operasi ini selesai? Aku udah gak sabar deh mau lihat kegantengan pacar
aku. Hehehe”, ucap Mayna sambil mengelitiki tubuh Alvin.
“Mulai
deh jailnya. Hahaha. Yaudah, kamu istirahat ya. Udah malem aku juga harus
pulang”, jawab Alvin.
“Tapi,
kamu janji, kan? Aku sayang sama kamu, Vin”, tanya Mayna sambil memegang tangan
Alvin.
“Iya,
aku juga. Aku janji”, balas Alvin sambil mencium kening Mayna dan segera berlalu
keluar kamar rawat Mayna.
Maafin aku, May. Aku
terpaksa bohong sama kamu.
Batin Alvin.
Keesokan
harinya, Mayna sudah bersiap untuk di operasi. Mayna akan menjalani operasi pukul
sembilan nanti. Di dalam kamar, dia terus menghubungi Alvin. Namun, sia-sia.
Ponsel Alvin tidak dapat dihubungi. Tidak aktif. Tidak ada kabar apapun. Hal
ini membuat Mayna kecewa. Walaupun tahu tindakannya percuma. Namun, Mayna terus
berusaha menghubungi Alvin.
Tepat
pukul sembilan, Mayna memasuki ruang operasi. Sampai Mayna masuk ruang operasi
pun, Alvin tidak menampakkan diri. Hanya Leni, bundanya yang terus menemani
Mayna. Kecewa jelas terlihat di wajah Mayna. Namun, dia tetap yakin kalau Alvin
akan datang. Mayna percaya, Alvin tidak akan ingkar janji.
Setelah
pintu operasi di tutup, lampu merah di depan ruang operasi pun menyala.
Pertanda bahwa operasi sedang dilakukan. Di luar ruangan, Leni menunggu dengan
penuh harapan. Dia terus berdoa kepada Tuhan memohon perlindungan dan
keselamatan untuk anaknya. Leni sangat berharap operasi ini bisa mengembalikan
Mayna yang dulu.
Enam
jam berlalu. Lampu merah di depan ruang operasi pun telah mati. Pertanda bahwa
operasi telah selesai dilakukan. Leni semakin takut dan penasaran dengan
kondisi putrinya, Mayna. Tidak lama kemudian, seorang dokter dan perawat keluar
dari ruang operasi. Mengetahui hal tersebut, Leni segera menghampiri mereka.
“Bagaimana
keadaan anak saya, Dok?”, tanya Leni sedikit khawatir.
“Alhamdulillah, Bu. Operasi berjalan
lancar. Dan kondisi Mayna sejauh ini dalam keadaan stabil”, jawab Dokter Feby.
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Dok.
Terima kasih”, balas Leni terharu. Sangat terharu.
“Ini
semua berkat doa dari Ibu juga”, ucap Dokter Feby.
“Lalu,
Dok, gimana dengan kondisi pendonor mata Mayna? Apa dia baik-baik saja?”, tanya
Leni.
“Maaf,
Bu. Pendonor itu mengalami pendarahan yang cukup hebat. Kami sudah berusaha
semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain”, jawab Dokter Feby.
“Innalillahi wainnalillahi roji’un. Kalau
begitu, bolehkan saya melihat pendonor itu, Dok? Saya ingin tahu seperti apa
malaikat yang sudah menolong anak saya”, ucap Leni sedikit memohon.
“Baik,
Bu. Ada sesuatu pula yang ingin disampaikan oleh pihak keluarga pendonor”,
jawab Dokter Feby.
Setelah
tindakan operasi tiga jam lalu, kini Mayna sudah dipindahkan ke kamar rawat
inap biasa. Keadaan Mayna semakin membaik. Tekanan darah, detak jantung, dan
pernapasannya pun sudah stabil. Namun, Mayna masih belum sadarkan diri. Obat
bius pasca operasi masih bekerja.
Perlahan,
Leni memasuki kamar rawat Mayna. Terkejut. Itu lah yang kini dirasakan Leni.
Bukan terkejut karena kondisi Mayna. Namun, ada hal lain yang membuat Leni
rapuh dan menangis seperti saat ini. Dengan sebuah kotak berwarna merah di
tangannya, Leni masuk ke kamar rawat Mayna. Dilihatnya, Mayna sedang tertidur
di ranjangnya. Leni meletakkan kotak itu di meja, dan duduk di samping ranjang
Mayna. Leni pun mulai memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Mayna.
Perlahan
Mayna menggerakkan tangannya. Mayna sudah siuman. Hal ini tentu membangunkan
Leni dari tidurnya. Leni sangat senang Mayna sudah siuman. Dengan cepat, Leni
memanggil dokter dan perawat dengan menggunakan tombol khusus di samping
ranjang Mayna. Tidak butuh waktu lama, dokter dan perawat pun datang untuk
memeriksa kondisi Mayna.
Tujuh
hari berlalu. Kini, Mayna sudah bisa bangun dari tempat tidur dan berjalan.
Namun, perban yang menutupi matanya masih belum bisa dibuka. Jahitan akibat
operasi beberapa hari lalu masih basah dan belum boleh dibuka. Rencananya, besok
perban tersebut baru akan dibuka. Mayna sangat tidak sabar menunggu hari esok.
Namun,
dibalik kesenangannya ada hal lain yang mengganggu pikiran Mayna. Ya, Alvin.
Mayna masih memikirkan kekasihnya itu. Jujur, Mayna kecewa dengan Alvin. Sangat
kecewa. Beraninya, Alvin mengingkari janjinya. Beraninya, Alvin tidak menemani
dirinya. Namun, Mayna tetap tidak bisa membohongi perasaannya. Dia masih sangat
mengharapkan kehadiran Alvin di sisinya.
Selama
tujuh hari Mayna menunggu kehadiran Alvin. Setiap orang yang masuk ke kamar
rawatnya dikira Alvin. Namun, lagi lagi itu hanya harapan semu. Alvin tidak
pernah datang. Mayna terus-menerus berusaha menghubungi Alvin. Namun, hasilnya
nihil. Tidak ada kabar apapun tentang Alvin. Alvin seolah hilang bak di telan bumi. Hal ini membuat Leni sedih.
Akhirnya
hari pelepasan perban pun tiba. Dokter dibantu dengan dua perawat menghampiri
Mayna di kamar rawatnya. Sebelum melepaskan perban yang menutupi mata Mayna,
dokter terlebih dahulu memeriksa kondisi Mayna. Setelah dilakukan beberapa
pemeriksaan, pelepasan perban pun dilakukan.
Setelah
perban dilepas, perlahan Mayna membuka kedua matanya. Samar-samar Mayna mulai
bisa merasakan cahaya lampu di kamar rawatnya. Setelah melihat cahaya lampu
dengan jelas, Mayna mulai mencari orang yang selama ini menemaninya. Mayna
mencari bundanya, Leni. Setelah menemukan orang yang dicari, Mayna tersenyum
dan memeluk bundanya. Ya, Mayna bisa melihat bundanya kembali. Mayna sudah bisa
melihat kembali.
Mayna
memeluk erat bundanya. Mayna dan Leni hanyut dalam kebahagiaan mereka. Keduanya
menangis bahagia bersama. Meluapkan semua kesenangan mereka dalam pelukan. Leni
sangat bersyukur, putrinya telah “kembali”. Mayna pun sangat senang karena kini
dirinya sudah bisa melihat kembali. Semua “kehidupannya” telah kembali.
“Bun,
aku bisa ngeliat lagi, Bun! Alhamdulillah, Bun”, ucap Mayna sambil terus memeluk bundanya.
“Iya,
Sayang. Kamu harus bersyukur, ya. Allah sayang sama kamu”, balas Leni membalas
pelukan Mayna.
“Terima
kasih ya, Dok. Berkat bantuan dokter, aku bisa kayak sekarang”, ucap Mayna kepada
Dokter Feby.
“Sama-sama,
Mayna. Ini juga berkat doa dan perjuangan kamu. Yasudah kalau begitu, saya
permisi ya. Masih banyak pasien yang harus saya tangani”, pamit Dokter Feby
sambil berlalu dan keluar dari kamar rawat Mayna. Diikuti oleh dua perawat.
“Terima
kasih banyak, Dok”, ucap Leni.
***
Sebulan
berlalu. Kini, Mayna di sibukkan dengan kegiatan mengurus panti asuhan khusus
penderita tunanetra miliknya. Ya, seminggu yang lalu panti tersebut resmi
dibuka. Dengan penglihatan yang kini dimilikinya, Mayna bisa bebas melakukan
apapun yang dia inginkan. Tanpa harus merepotkan orang lain, termasuk bundanya.
Mayna ingin mandiri.
Suatu
hari, Leni menghampiri Mayna yang tengah sibuk di kamarnya. Leni membawa kotak
berwarna merah yang dulu sempat dia sembunyikan dari Mayna. Kini, Leni sadar.
Sudah saatnya, Mayna mengetahui suatu hal. Hal penting yang berhubugan dengan
Alvin. Ya, Alvin, kekasih Mayna.
“Sayang,
kamu lagi sibuk, ya?”, tanya Leni sambil memasuki kamar Mayna.
“Enggak
kok, Bun. Ini cuma lagi ngerapihin
lemari buku aja. Kenapa, Bun?”, tanya Mayna tanpa melepaskan pandangannya dari
tumpukan surat dan majalah lama.
“Ini.
Bunda cuma mau kasih ini aja kok. Yaudah, bunda tinggal ya, Sayang”, balas
Leni.
Belum
sempat Mayna menanyakan tentang kotak pemberian bundanya, Leni sudah terlanjur
keluar kamar meninggalkan Mayna. Awalnya, Mayna ragu membuka kotak itu. Entah
kenapa, firasat Mayna mengatakan bahwa kotak berwarna merah itu ada hubungannya
dengan Alvin, kekasihnya. Namun, rasa penasaran Mayna mengalahkan rasa
takutnya. Mayna mengambil dan membuka kotak itu.
Sambil
duduk di dekat jendela kamarnya, Mayna perlahan membuka kotak itu. Di dalam
kotak itu, terlihat sekumpulan kertas yang terlipat rapi, sebuah cincin dan
sebuah foto. Mayna semakin yakin dengan apa yang dilihatnya. Kotak ini pasti
dari Alvin. Muncul berbagai macam pertanyaan dalam benak Mayna. Apa maksud
Alvin memberikan kotak ini? Dan dimana dia sekarang?
Perlahan,
Mayna mengeluarkan satu per satu isi kotak merah tersebut. Cincin dan
sekumpulan kertas sudah dikeluarkan Mayna dari kotak. Seketika Mayna menatap
cincin yang berasal dari kotak itu. Ada tulisan “Mayna” di dalam lingkar cincin
itu. Tanpa disadari, air mata Mayna pun jatuh. Mayna mulai menangis. Setelah
cincin, kini, Mayna beralih ke kumpulan surat. Ada dua pucuk surat dari dalam
kotak itu. Perlahan, Mayna mulai membuka surat pertama.
Betapa
terkejutnya Mayna setelah mengetahui apa isi surat itu. Surat dengan kop surat bertuliskan Rumah Sakit Permata itu membuat
dada Mayna sesak. Dalam surat itu, dijelaskan secara rinci tentang penyakit
kanker otak. Yang lebih membuat Mayna terkejut adalah tertera “Nama Penderita: Alvin
Putra” dalam surat itu. Mayna sangat mengetahui apa maksud dari isi surat itu. Pertanyaan-pertanyaan
pun semakin muncul dalam pikiran Mayna. Tangis Mayna pun pecah saat dia mulai
membuka surat kedua. Mayna berusaha untuk kuat membaca isi surat itu.
Hai, Sayang.
Selamat ya untuk
keberhasilan operasi donor matanya. Aku turut bahagia kok. Oh, iya gimana sama
cincin nya? Kamu suka, kan? Aku sempet beli cincin itu waktu dulu aku nemenin
kamu belanja untuk keperluan panti. Kamu ingat, kan? Maaf ya kalo jelek. Aku
emang gak terlalu jago milih barang yang kamu suka. Hehehe. Maafin ya, May. Aku
gak bisa nemenin kamu selama kamu operasi. Kamu berhak marah dan kecewa sama
aku. Aku terima. Tapi aku gak bisa terima kalo setelah kamu menerima kotak ini,
kamu marah sama diri kamu sendiri dan menyesal dengan apa yang udah terjadi
sama kamu. Aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu, May. Aku gak pernah
ingkar janji untuk nemenin kamu, May. Justru sekarang aku bisa selalu nemenin
kamu. Dengan mata aku yang sekarang ada di tubuh kamu, aku akan selalu
melindungi dan mengawasi kamu kapanpun dan dimanapun kamu berada. Jaga diri
baik-baik ya, Sayang. Everybody needs somebody to love and I choose you.
Your big fans.
Tangisan
Mayna semakin tidak terbendung setelah membaca seluruh isi surat dari Alvin.
Mayna baru mengetahui siapa pendonor baik hati yang rela memberikan “kehidupan”
untuk Mayna. Orang yang selama ini selalu dianggap malaikat oleh Mayna. Orang
yang selama ini sangat ingin Mayna temui. Orang yang selama ini sangat ingin
Mayna ucapkan terima kasih. Hati Mayna hancur setelah mengetahui kenyataan
sebenarnya. Kenyataan bahwa malaikat itu adalah Alvin. Kekasihnya sendiri.
Mayna semakin terpuruk dengan kesedihannya setelah melihat foto dirinya dengan
seorang laki-laki tampan di sebelahnya.
Mayna
sangat yakin siapa laki-laki itu. Sangat terlihat jelas di foto itu. Laki-laki
itu mencintai Mayna dengan tulus. Dia sangat ingin menjaga Mayna sampai
kapanpun. Alvin. Dia adalah Alvin. Dan Mayna baru bisa melihat Alvin justru
hanya melalui sebuah foto kenangan dirinya dengan Alvin. Remuk hati Mayna
melihat foto itu. Semua air mata yang keluar dari matanya tidak akan mungkin
mengembalikan Alvin. Mayna sangat sadar akan hal itu. Setelah puas mengeluarkan
semua perasaannya melalui tangisan, Mayna akhirnya tertidur. Melepaskan
sementara, semua kenyataan pahit yang baru di ketahuinya.
Setahun
berlalu. Kini, Mayna sudah bisa menerima kenyataan pahit tentang Alvin. Mayna
berusaha bangkit demi membuktikan kepada Alvin bahwa dirinya bisa mandiri.
Perlahan Mayna mulai menata kehidupannya yang baru. Dia semakin bersemangat
mengelola panti asuhan miliknya. Mayna tidak akan pernah bisa melupakan sosok
Alvin dalam hidupnya. Bagi Mayna, Alvin lebih dari sekedar kekasih untuknya.
Alvin memang malaikat yang Tuhan kirimkan dalam kehidupannya. Mayna berjanji
pada dirinya sendiri bahwa dia akan lebih menghargai kehidupannya yang dulu
sempat “hilang”.
Aku janji, Vin. Aku akan
jadi diri aku sendiri dan menjaga mata ini untuk kamu. Sampai ketemu di
surga-Nya ya, Sayang. Batin Mayna.
-kzp-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar