Sudah
lama aku mencintainya. Memendam perasaan ini hanya sendiri. Berjuang menyembunyikan
luka yang begitu besar menyayat hati ini hanya sendiri.
Aku
sangat yakin, jika dia mengetahui perasaanku. Sejak kedekatan itu, telah banyak
sikap yang dia tunjukkan kepadaku bahwa dia pun memiliki perasaan yang sama
denganku.
Dulu,
aku merasa dunia hanya milik aku dan dia. Derasnya hujan, terasa manis jika aku
melaluinya dengan dia. Teriknya matahari, terasa teduh jika aku menghabiskan
waktuku dengan dia.
Hingga
saat itu tiba. Dia menjauhiku. Menghapuskan semua harapan yang telah aku
gantungkan kepadanya. Menghilangkan semua kenangan manis yang telah aku lalui
bersamanya. Hanya sekejap, dia menghancurkan semuanya.
Aku
sangat marah. Kecewa dengan semua sikapnya. Aku merasa menjadi perempuan yang
paling bodoh saat itu. Aku merasa telah keliru mencintai seseorang. Entah merasa
tertipu atau ditipu.
Akhirnya
aku mengetahui alasan dia menjauhiku. Dia menjauhiku karena baginya aku terlalu
sempurna. Hal ini terdengar begitu konyol bukan? Aku pun hanya bisa tertawa
lirih mendengar alasan itu.
Selang
beberapa waktu. Aku melihat dia bersama dengan temanku. Mereka mengatakan bahwa
tidak ada ikatan diantara mereka. Tetapi, sikap keduanya cukup memberikan
isyarat bahwa ada cinta diantara mereka. Sakit saat aku melihat kedekatan
mereka dan hatiku berkata “...dulu aku pernah berada disampingmu seperti dia.”
Waktu
pun bergulir. Mulutku selalu berkata bahwa aku telah melupakannya. Tetapi tidak
dengan hatiku. Jauh di dalam lubuk hatiku, luka itu masih ada. Dia masih ada.
Seolah terbelenggu di dalam hatiku.
Banyak
hal yang tidak aku mengerti; mengapa anggapan “...dia terlalu sempurna untukku”
menjadi alasan seseorang untuk menyakiti orang lain? Bukankah tidak ada manusia
yang dilahirkan sempurna? Lalu mengapa kelebihan yang dimiliki seseorang disalah
artikan sebagai sebuah kesempurnaan? Salahkah jika orang yang memiliki sebuah
kelebihan juga ingin merasakan kebahagiaan? Salahkah jika aku yang dia anggap
terlalu sempurna ini mencintainya? Atau alasan yang pernah dia ucapkan dulu
hanyalah omong kosong belaka? Entah. Aku hanya tertawa jika mengingat itu
semua.