Selasa (pon) - 23 April 1996...
Hari itu, Allah SWT kembali
mengizinkan seorang bayi mungil lahir ke dunia. Tepat pada pukul 12.00 WIB,
suara tangisan seorang bayi seketika menghilangkan kekhawatiran sebuah keluarga
yang dari tadi sedang menunggu dengan was-was.
Kebahagiaan yang mereka tunggu selama 9 bulan 10 hari telah lahir dengan
selamat melalui persalinan normal. RS. Islam Jakarta pun yang pada siang itu
sepi, seketika menjadi sangat spesial dengan hadirnya bayi mungil itu. Bayi
mungil yang berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 2,6 kg dan panjang
badan 48 cm itu diberi nama Khansa Zera Putritama.
Inilah awal kehidupanku di
dunia. Dan ini pula halaman pertama dalam buku catatan kehidupanku di dunia.
Cerita tentang kehidupanku pun dimulai..
Khansa Zera Putritama....
Itulah namaku. Mungkin bagi
sebagian orang, namaku itu sama seperti nama-nama pada umumnya. Tidak spesial
dan bahkan saat ini sudah banyak yang menggunakan nama seperti itu. Namun, sebenarnya
aku sangat beruntung memiliki nama seindah itu. Mau tau kenapa??? Itu karena
kata orang tuaku, namaku itu memiliki arti yang luar biasa.
Khansa
: wanita pejuang muslim
Zera
: gabungan dari nama orang
tuaku
Putritama
: putri pertama
Menurutku nama ini bukan
hanya luar biasa tetapi sekaligus doa untukku. Semoga saja aku bisa mewujudkan
harapan dari orang tuaku melalui nama itu hihihi.
2000 - TK Islam Al-Hasanah
II...
Sekolah inilah yang menjadi
saksi bisu awal perjuanganku. Melalui bantuan dari para guru di taman
kanak-kanak inilah, aku bisa belajar membaca dan menulis. Mereka selalu sabar
dan telaten dalam mendidikku. Bu May
dan Bu Eulis adalah sebagian guru yang masih ku ingat sampai sekarang. Mereka sudah
aku anggap sebagai orang tua keduaku selain orang tua kandungku di rumah. Disini
pula aku mulai mengenal dunia luar dan belajar bersosialisasi. Aku mengenal apa
itu cara belajar, cara berkomunikasi dengan orang lain (selain orang tua dan
adikku), sampai cara berteman yang baik dengan teman-teman sebaya.
Aku punya 3 teman dekat saat
itu. Mereka adalah V, W, dan R. Kami duduk bersama selama belajar di sekolah.
Kami selalu bermain dan belajar bersama. Namun, ada salah satu diantara kami
(V) yang selalu “mengatur” kami. Jujur, aku sangat tidak suka dengan cara dia
memperlakukanku dan teman-teman yang lain seperti itu. Pertengkaran kecil pun
pernah terjadi diantara kami. Namun, permasalahan itu bisa diatasi. Dua tahun,
aku merasakan duduk di taman kanak-kanak ini. Sekitar tahun 2002, aku
melanjutkan ke sekolah dasar.
2002 – SDN Citeureup 02...
Aku masuk ke sekolah yang
lebih tinggi tingkatannya. Sekolah Dasar. Di sekolah ini, aku masuk di kelas
IA. Tidak jauh berbeda seperti saat masuk TK dahulu, aku pun mulai mengenal hal
baru. Pertama, aku mulai dibiasakan untuk mandiri, yaitu tidak diantar jemput
oleh orang tuaku. Ya, saat SD aku mulai menggunakan jemputan sekolah. Dan
kedua, aku mengenal teman-teman baru yang saat itu rumahnya banyak yang jauh
dari rumahku.
Puncak dari masa-masa
sekolah dasarku adalah saat aku duduk di kelas 6 SD. Saat itu, sudah bisa
dikatakan kalau aku sudah mulai mengalami pubertas. Aku pun mulai merasa suka
sama lawan jenisku. Sebut saja dia V. Sebenarnya, aku mengenal dia sudah lama.
Namun, rasa suka itu baru muncul saat aku kelas 6. Bisa dikatakan kalau rasa
sukaku saat itu seperti cinta monyet bahkan cinta
anak monyet hehehe. Mungkin bagi
sebagian orang ini lucu bahkan konyol,
karena seorang anak perempuan kelas 6 SD berumur 12 tahun, sudah mulai mengenal
“suka-sukaan”. Namun, inilah yang aku rasakan.
Aku dan dia pun menjadi
teman dekat. Kami bahkan duduk sebangku. Tapi, namanya juga masih SD ya cuma
sebatas pertemanan seperti biasa. Belajar, bermain, dan bercanda bareng. Namun,
pertemanan kami sempat hampir berakhir karena kami akan melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi. Banyak hal yang aku dan teman-temanku lalui di sekolah ini.
Akhirnya, tahun 2008 pun aku lulus dari sekolah dasar.
2008 – SMPN 1 Cibinong...
Setelah berkutat dengan
UASBN (Ujian Nasional tingkat SD saat itu), akhirnya aku bisa juga menggunakan
seragam putih biru. Aku sangat excited
menyambut hari itu. Hari dimana aku mulai belajar menjadi lebih dewasa. Dari
dulu, aku memang sudah bercita-cita untuk bersekolah di sekolah ini. Dan
alhamdulillah, Allah mengabulkannya. Setelah semua persyaratan pendaftaran
ulang telah rampung, aku pun mengikuti kegiatan MOPD terlebih dahulu.
Aku mengikuti kegiatan MOPD
selama 3 hari. Selama itu pula, jumlah teman-teman baruku bertambah. M adalah
teman yang pertama kali ku kenal di SMP. Aku dan dia pun saat itu berada dalam
satu gugus yang sama, gugus sembilan. Di gugus itu pula, aku mulai mengenal
para kakak kelas. Aku sangat menikmati masa masa MOPD itu.
Setelah selesai mengikuti
kegiatan MOPD, aku pun duduk di kelas 7-2. Suasana disana lumayan asik dan
nyaman. Namun, ada satu hal yang mengganjalku. Aku mempunyai seorang teman,
sebut saja dia I. Dia sebenarnya baik, namun ada beberapa sifatnya (yang tidak
bisa aku sebutkan) yang membuatku kadang-kadang jengkel. Namun, dia tetap
pernah menjadi teman terbaikku. Setahun berlalu dan aku naik ke kelas 8, dan
duduk di kelas 8-1. Aku beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk masuk
ke kelas ini. Kelas ini adalah satu-satunya kelas unggulan di sekolahku (untuk
satu angkatanku saja).
Entah kenapa, aku lebih merasa
nyaman berada di kelas ini. Mungkin karena suasananya yang sangat friendly terutama dari orang-orangnya.
Aku bisa langsung akrab dengan mereka. Bahkan sangat dekat. Saat kelas 9 pun,
aku tetap duduk di kelas ini (tentunya dengan status kelas 9-1). “Katanya”
karena kami anak-anak pilihan (amin), makanya tidak dipisah. Suasana di kelas
ini sangat membekas di ingatanku. Bagaimana tidak? Kami sudah melewati 2 tahun
sekelas bersama, suka duka bersama, sampai stress
bersama hehehe. Di kelas ini pun tak sedikit yang menjadi korban cinta lokasi alias cinlok. Ya, di SMP ini aku dan teman sebayaku mungkin lebih berani
dalam hal “suka-sukaan” ini. Tidak seperti saat SD, yang masih malu-malu.
Di SMP ini pun, bisa
dibilang aku sangat sibuk terutama dalam bidang organisasi. Aku mengikuti
kegiatan OSIS/MPK dan Paskibra. Alhamdulillah, di keduanya aku mendapat
kesempatan dan kepercayaan untuk memegang jabatan penting. Aku pernah menjabat
sebagai Ketua MPK. Untuk mendapatkan jabatan itu sangat tidak mudah. Banyak rintangan
yang harus aku hadapi. Mulai dari seleksi, presentasi + sesi tanya jawab,
sampai bina mental. Semuanya aku lalui secara perlahan. Sedangkan di Paskibra,
jabatan sebagai Wakil Paskibra pernah aku dapatkan. Sama halnya seperti di
OSIS/MPK, di paskib (sebutan akrab Paskibra) aku pun harus melewati banyak rintangan dahulu.
Namun, persyaratan di paskib ini tidak se-ribet
di OSIS/MPK hehehe. Walaupun begitu, keduanya tetap aku cintai dan tidak akan
pernah bisa aku lupakan.
Tidak hanya memberikan
pengalaman tentang pendidikan dan sosial. Namun, sekolah ini pun memberikanku
pengalaman yang sangat langka. Cinta. Itulah pengalaman “unik” ku hehehe. Sebut
saja dia A. Dia adalah kakak kelasku. Sebenarnya, aku sudah mengenal dia sejak
masa-masa MOPD. Dia adalah kakak kelas di gugusku dahulu. Awalnya, kami tidak
kenal sama sekali. Tapi melalui kegiatan
OSIS/MPK dan Paskibra inilah aku mulai mengenal dia lebih jauh. Mungkin karena
kami sering bertemu dan intens
berkomunikasi via sms, kami pun menjai
dekat. Setelah melalui masa pendekatan, kami akhirnya pacaran. Namun, pacaran
kami sama seperti teman biasa yang hanya menjadikan pacaran ini sebagai
motivasi untuk belajar. Tidak lebih.
Saat itu, aku duduk di
kelas 7. Sedangkan, dia duduk di kelas 8. Bagiku, dia sudah seperti kakakku
sendiri. Dia sangat baik dan memperlakukanku seperti adiknya sendiri. Setelah
lima bulan melalui masa itu, akhirnya hubungan kami berakhir. Sebenarnya banyak
kesempatan untuk kami kembali pacaran. Namun, aku tolak dengan alasan ingin
fokus ke sekolah. Ya, saat itu aku sudah duduk di kelas 8 dan dia kelas 9.
Sampai dia lulus pun, hubungan kami masih sama. Hanya teman biasa. Aku pun
sudah kelas 9. Aku lebih fokus belajar untuk menyambut UN SMP. Setelah lulus UN
SMP, aku melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.
2010 – SMAN 1 Cibinong...
Sebenarnya, sekolah ini
bukan menjadi tujuan utamaku. Aku sempat bercita-cita untuk masuk ke SMA negeri
terbaik di Kota Bogor. Namun, takdir Allah yang menggariskanku untuk bersekolah
disini. Awalnya aku sempat tidak percaya
diri karena ini untuk pertama kalinya aku gagal masuk ke sekolah impianku.
Namun, aku selalu berusaha bangkit dan akhirnya aku bisa buktikan itu.
Awal tahun di sekolah ini,
aku duduk di kelas X-8. Aku sama sekali canggung dengan teman-teman baru
disini. Setelah berjalannya waktu, aku bisa beradaptasi dengan suasana kelas
ini. S, A, N, So, B, I, dan W adalah teman dekatku selama aku duduk di kelas
ini. Kami pun menamai diri kami dengan sebutan Hujan Badai. Nama Hujan Badai
itu berarti kami akan selalu ada satu sama lain walaupun banyak rintangan
dan permasalahan yang akan kami hadapi nanti. Itu harapan kami hehehe.
Di kelas ini, aku tidak
memiliki kisah cinta lokasi. Ya,
setelah lulus SMP aku kembali mempunyai hubungan dengan A, kakak kelasku dulu
di SMP. Aku dan dia kembali pacaran dengan jangka waktu yang cukup lama.
Makanya, aku tidak memiliki kisah cinta apapun di kelas X-8 ini. Di kelas ini,
aku memiliki teman laki-laki yang sering diejek ada affair sama ku. Sebut saja mereka I, H, dan A. Kalau I
dengar-dengar dia menyukaiku tetapi aku pun tidak tahu kepastiannya. Sedangkan
A sering “dikatain” suka dengan ku karena namanya mirip dengan nama A, kakak
kelas SMP ku yang saat itu menjadi pacarku. Bagiku ini sangat menyebalkan
tetapi aku sadar, semakin banyak yang mengejekku maka semakin banyak pula kan
yang memperhatikanku? hehehe.
Setelah mempertahankan
cukup lama akhirnya berakhir juga. Ya itulah kisahku dengan A, kakak kelas SMP
ku. Setelah menjalin hubungan kurang lebih satu tahun kurang beberapa hari,
akhirnya kami putus. Ya, kami putus
hanya beberapa hari menjelang hari jadian
kami yang ke satu tahun. Sedih dan menyakitkan bukan?. Awalnya, memang seperti
itu namun perlahan aku bisa lupa. Aku pun sedikit demi sedikit bisa move on dari dia. Walaupun dalam waktu
yang sangat lama. Dalam kondisi inilah aku sangat beruntung memiliki
teman-teman yang perhatian sama ku. Mereka mendengar curhatan bahkan menghiburku. Setiap kejadian buruk dalam hidup kita
memang pasti akan ada hikmahnya ya? J
Aku pun naik ke kelas XI.
Sekarang aku duduk di kelas XI IPA 1. Alhamdulillah, aku diberi kesempatan
untuk bisa merasakan duduk di kelas IPA hehehe. Aku tergolong baru duduk di
kelas ini. Baru setengah tahun. Sama seperti halnya di kelas X-8 dahulu,
awalnya aku pun sangat canggung masuk kelas ini. Banyak wajah-wajah baru yang
tidak pernah ku lihat sebelumnya. Tapi beruntungnya, S, A, dan N teman dekatku
di kelas X-8 kembali satu kelas denganku. Tentu saja, kami kembali duduk
berdekatan. Awalnya, aku kira kelas ini hanya berisi orang-orang serius yang kutu buku dan susah untuk diajak gokil. Namun, semua persepsi ku hilang setelah mengenal mereka lebih dekat. Berbagai
macam jenis menusia ada di kelas ini hehehe. Mulai dari pinter banget, kelas
atas/menengah, modern, kuno (?), autis, gokil, gila parah, sampai normal dan
biasa-biasa aja pun ada. Aku pun mulai menganggap mereka seperti saudaraku.
Sahabat – Diah, Ulfa,
Mita...
Aku sebenarnya punya banyak
teman dekat mulai dari perempuan sampai laki-laki. Aku sendiri masih bingung
kalau ditanya apa itu sahabat? Dan apa perbedaan antara sahabat dengan teman
dekat? Mereka adalah sahabatku saat SMP dahulu. Sebenarnya aku sudah mengenal
mereka sejak kelas 7 (Mita: saat di gugus MOPD, sedangkan diah dan ulfa: saat
Paskibra). Namun, aku mulai dekat sejak aku kelas 8, tepatnya sejak aku masuk
kelas unggulan di SMP ku itu. Sama mereka inilah aku bisa merasakan segala
macam rasa. Sedih, senang, gokil, autis, susah, gila, sampai tertawa ngakak. Semuanya bisa aku dapatkan saat
aku bersama mereka. Mungkin karena aku sudah lama mengenal mereka.
Diah..
Sahabatku yang satu ini
adalah orang yang pertama kali menyadarkanku kalau hidup itu jangan terlalu
dibawa serius dan harus lebih banyak tertawa. Dia yang paling gokil diantara kami berempat. Entah
otaknya terbuat dari apa. Semua hal kecil yang sama sekali tidak lucu pun bisa
menjadi hal terkonyol kalau sudah
diolah dengan pikiran dia hehehe. Dia juga suka bingung sama hal apa yang harus
dia lakuin. Misalnya, dahulu saat dia ingin mengakhiri hubungannya dengan
seseorang, dia bingung sekali sampai harus meminta pendapat kami semua. Itulah
Diah..
Ulfa..
Sahabatku ini adalah
satu-satunya yang berhijab diantara kami. Tidak jauh berbeda dengan Diah, Ulfa
pun memiliki keunikan yang sama. Sama-sama gokil dan gila parah hehehe.
Awalnya, aku kira dia ini sangat pendiam. Namun, ternyata malah diam-diam
menghanyutkan. Dia ini bisa membagi waktu kapan dia harus serius dan kapan dia
harus bercanda. Keunikan Ulfa yang lain, yaitu kepalanya yang sangat bulat
apalagi kalau dia memakai jilbab langsung pakai. Rasanya aku seperti ingin
langsung mendribblenya ke ring basket
hohoho. Itulah Ulfa..
Mita..
Aku sudah lama mengenal
sahabatku yang berwujud seperti enci-enci ini. Aku mengenal dia saat aku baru
pertama kali masuk SMP. Dia teman satu gugusku dahulu. Kami pun sekelas saat kelas
8 dan menjadi dekat. Dia ini memiliki tampilan luar yang serius tetapi kalau
sudah mengenal dia lebih dekat, dia pun bisa melebihi kegokilanku. Dia ini seperti kamus bahasa inggris berjalan. Mengapa?
Karena segala macam vocab ada di
otaknya. Dia master dalam bahasa inggris. Karena kelebihannya itu, tidak
sedikit orang yang iri dengannya. Dalam kondisi seperti ini aku, Diah, dan Ulfa
yang selalu menjadi pagar untuk dia. Itulah Mita..
Mereka selalu menjadi
tempat untuk menampung semua ceritaku. Mulai dari masalah yang simple sampai masalah cinta. Aku selalu
merasa nyaman saat bersama mereka. Rasanya ada yang berbeda yang tidak aku
dapatkan saat aku bersama teman dekatku yang lain. Entah apa itu. Sampai saat
ini pun aku masih memposisikan mereka sebagai sahabat terbaikku. Aku sangat
beruntung memiliki kalian. imissu so much, girls♥
Hujan Badai – Shabrina, Aidha, Ninis, Opi, Bella, Intan, dan Widi...
Aku mengenal mereka saat
aku duduk di kelas X. Pertemanan kami sudah 2 tahun berjalan. Mereka adalah
teman dekaktku selama aku kelas X dahulu. Kami selalu bersama. Belajar,
bercanda, sholat, dan jajan bareng.
Mereka adalah teman-teman keduaku setelah sahabat-sahabatku. Tak jarang, mereka
pun menjadi tempat curhatku.
Shabrina..
Dia ini adalah chairmateku sejak kelas X sampai
sekarang. Aku pun sampai sekarang masih bingung, mengapa Allah SWT kembali
mempersatukan kami dalam kelas yang sama. Semoga ini bukan pertanda kalau kami
jodoh (?). Dia ini adalah yang paling tomboy diantara kami. Sebagian besar hal
tentang bola ada di memori otaknya. Tidak ada yang berani mengganggu dia kalau
dia lagi badmood, karena kalau sampai
berani siap-siap saja sakit hati hohoho.
Aidha..
Sama seperti Mita,
sahabatku, dia ini juga berwujud enci-enci cina. Bahkan Mita pun kalah hehehe.
Dia ini tampak dari luar, berparas jutek. Bahkan sangat jutek. Namun, kalau
sudah mengenal lebih dalam, dia tidak kalah asiknya. Dia yang paling males
menulis sms panjang alias hanya
singkat saja. Tak jarang kami sangat kesal dengan kebiasaan buruknya yang satu
ini. Dan anehnya, dia malah menganggap bad
habitnya itu sebagai anugerah dari Allah SWT. Sakit bukan?! -_-
Ninis..
Dia adalah teman yang bisa
aku ajak kompromi terutama dalam hal hitung-menghitung. Maklum, dia adalah anak
guru matematika. Tidak jauh berbeda dengan yang lain, dia juga suka bercanda di
luar batas. Tapi nyali dia sangat ciut kalau urusan cinta. Dia itu susah susah
gampang ditaklukan laki-laki. Kisah cintanya pun berakhir dengan kurang indah.
Bahkan kalau ditanya tentang mantannya, kata “gak tau..” pasti selalu keluar
dari mulutnya. Terlalu tertutup dalam masalah cinta.
Opi..
Nama lengkapnya adalah
Sofia. Opi adalah panggilan kesayangan kami untuknya. Dia ini bertubuh subur
(?) dan yang paling ke-ibuan diantara kami (mungkin karena dia memiliki adik
yang banyak). Ada satu sifat yang sangat aku suka dari dia. Dia akan lebih
senang kalau salah satu diantara kami ada yang senang dan dia pasti akan lebih
sedih kalau ada yang sedih. Ekspresinya dalam menanggapi suatu hal sangat lawak
alias lucu sekali.
Bella..
Entah darimana nama Bella
bisa menjadi nama panggilannya, karena namanya sama sekali tidak mengandung
unsur Bella. Dia ini yang paling bongsor.
Dia sangat asik kalau diajak curhat masalah laki-laki (terutama laki-laki yang
menjadi idolanya). Ya, dia memiliki idola. Sudah lama dia suka dengan kakak
kelas di sekolah. Namun, sayangnya kakak kelas itu sudah memiliki pacar. Sedih memang,
tetapi itulah kenyataan pahit yang dialami temanku yang satu ini (poor you,
Bel) hihihi
Intan..
Dia ini adalah yang paling
imut diantara kami. Suaranya pun hampir mirip seperti suara jangkrik (?),
karena suaranya sangat nyaring hohoho. Dia ini juga asik kalau diajak curhat,
karena pengalaman cintanya juga tidak jauh berbeda dengan kami, agak terharu
kalau mengingatnya hehehe. Walaupun tubuhnya imut, tetapi sikapnya bisa dewasa
juga.
Widi..
Dia ini memiliki tubuh yang
tambun hehehe. Dia ini siswi pindahan dari jauh. Dahulu, dia SMP di Medan lalu
pindah ke Bogor. Entah alasannya kenapa. Dia ini yang paling manja diantara
kami. Namun, walaupun begitu, dia sangat peduli sama teman-temannya.
Harapanku...
Itu semua adalah sebagian
dari cerita kehidupanku. Masih banyak pengalaman terbaik dan menarik yang tidak
aku ceritakan dalam tulisan ini. Rasa lelah dalam menghadapi hidup ini pasti
pernah aku alami. Namun, ketika aku kembali mengingat tanggal lahirku, aku
kembali bersemangat. Ternyata, aku ini hidup bukan karena terpaksa tetapi
karena memang ada yang menginginkanku pada hari itu, yaitu keluargaku. Oleh karena
itu, aku selalu bangkit kalau aku terpuruk. Tidak banyak harapan yang ingin aku
bilang sama Allah SWT melalui tulisan ini. Aku hanya minta keselamatan dunia
akhirat dan ridha untuk hidupku, kedua orang tuaku, adikku, dan semua
keluargaku. Perjuanganku belum berakhir. Masih banyak rintangan dan kebahagiaan
yang sedang menungguku. Satu pesanku, “Jangan
pernah menunduk menghadapi dunia ini. Hadapi dengan senyum dan kepala
tegap” J
khansa –
19.01.13
