Jumat, 02 Mei 2014

Terlambat

“Hai, aku ganggu kamu gak?”, tanya Randy memecah lamunan Caca.
“Eh, enggak kok. Maaf, ada apa ya?”, jawab Caca bingung.
“Gapapa, kenalin aku Randy anak Teknik”, ucap Randy.
“Oh, aku Shabil tapi kamu cukup panggil aku Caca”, balas Caca.

Sebulan sudah Caca berkenalan dengan Randy. Kini, mereka berteman cukup dekat. Dimana ada Caca, pasti ada Randy yang selalu menemaninya. Kebanyakan orang menganggap kedekatan mereka lebih dari kedekatan sebatas teman. Namun, Caca dan Randy tidak pernah menganggap serius pendapat-pendapat tersebut. Mereka hanya menganggapnya sebagai hembusan angin belaka.
Suatu hari, Caca dan Randy sedang menghabiskan weekend mereka di sebuah taman. Ya, mereka memang sudah merencanakan—jauh-jauh hari—akan pergi ke taman dekat komplek rumah Caca setelah ujian kampus selesai. Bukan hanya ingin melampiaskan kejenuhan mereka terhadap soal-soal ujian kampus, tetapi Caca dan Randy pun ingin hunting foto di taman tersebut. Kebetulan mereka mempunyai hobi yang sama; fotografi.
“Ca, liat deh foto ini. Bagus, kan?”, tanya Randy sambil menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan kumpulan anak kecil yang sedang tertawa lepas.
“Ya ampun, ini lucu banget, Ran. Kamu foto dimana?”, balas Caca sedikit penasaran.
“Itu disana, tadi ada kumpulan anak kecil yang lagi main balon sabun gitu.”, jawab Randy semangat.
“Ini emang lucu banget, tapi foto yang aku ambil ini juga pasti gak kalah lucu.”, ucap Caca sambil menunjukkan hasil hunting fotonya.
“Wah, foto kamu juga gak kalah bagus, Ca. Kelihatan hidup banget!”, balas Randy tidak kalah kagum.
“Iya dong! Tadi aku nemuin bunga sepatu ini. Yaudah karena warnanya lucu, aku foto deh.”, jelas Caca.
Hari ini sangat membuat mereka senang. Mereka bisa menghabiskan waktu berdua dan melampiaskan hobi fotografi mereka. Canda dan tawa pun tidak henti-hentinya terlontar dari mulut mereka. Mereka terlihat bahagia. Sangat bahagia. Setelah puas memotret banyak hal, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Tentu saja, Randy mengantar Caca pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, Caca menunggu Randy menjemput dirinya untuk berangkat ke kampus. Namun, sampai pukul 08.00 pun Randy tidak kunjung datang sampai akhirnya Randy memberi kabar bahwa dirinya tidak bisa menjemput Caca. Jelas saja hal ini membuat Caca kecewa dan kesal. Dengan berat hati, ia pun berangkat ke kampus seorang diri.
Setelah selesai mengikuti kelas di kampus, Caca mencari Randy. Namun, Caca tidak mendapati Randy dimana pun. Caca menghubungi Randy, namun, tidak aktif. Caca pun menyerah dan memutuskan untuk hunting foto di taman kampus. Setelah cukup lama hunting foto, Caca beristirahat sejenak sambil melihat-lihat hasil fotonya.
Namun, tiba-tiba Caca melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Ia melihat Randy bersama seorang perempuan. Dengan segera, Caca menghubungi Randy dan menanyakan sedang apa dan dimana Randy sekarang. Caca hanya ingin memastikan apakah laki-laki yang dilihatnya benar Randy atau bukan. Oleh karena itu, Caca berpura-pura tidak tahu dan menanyakan keberadaan Randy.
“Halo, Ran, kamu lagi dimana?”, tanya Caca tanpa melepaskan pandangannya dari sosok laki-laki yang berada jauh di depannya.
“Hai, Ca! Aku lagi di supermarket deket rumah, lagi anter Mama. Kenapa, Ca?”, jawab Randy.
“Lagi di supermarket, ya? Oh, yaudah gapapa, cuma nanya aja kok. Maaf ya kalo ganggu”, sambung Caca yang segera mematikan sambungan teleponnya.
Kecewa. Seperti itulah perasaan Caca kini. Ia tidak menyangka kalau Randy bisa berbohong kepadanya. Jelas-jelas kini ia melihat Randy berada di tempat yang sama dengan dirinya. Namun, Randy malah berbohong kepada dirinya. Bukan hanya kecewa karena merasa telah dibohongi, Caca pun kecewa karena Randy diam-diam pergi dengan perempuan lain. Caca pun pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau balau.
Sesampainya di rumah, tidak ada satupun pesan atau telepon masuk dari Randy. Padahal Caca sangat mengharapkan semua itu. Akhirnya, Caca memberanikan diri untuk menghubungi Randy terlebih dahulu. Namun sayangnya tidak aktif. Sebenarnya kenapa Randy berubah seperti ini? Dan siapa perempuan itu? Kenapa pula Randy tidak menceritakan tentang perempuan itu kepada dirinya?
Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Caca. Pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh Randy. Perasaan Caca semakin tidak menentu. Ia pun bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Apakah ini hanya perasaan kecewa karena telah dibohongi oleh seorang teman? Atau ia merasa kesal karena melihat Randy pergi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan dirinya? Entah. Caca pun masih mencari-cari jawaban yang tepat.
Setelah tiga hari menghilang dan tidak ada kabar, Randy akhirnya menjemput Caca untuk berangkat ke kampus. Caca merasa terkejut karena melihat Randy sudah ada di depan rumahnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Randy. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun. Caca dan Randy pun berangkat bersama ke kampus.
“Ca, aku lagi seneng banget nih sekarang. Kamu mau dengerin ceritaku gak?”, ucap Randy bersemangat.
“Oh, ya? Nanti aja deh, masih pagi juga kan. Hari ini aku ada ujian, nanti kalau denger cerita kamu malah gak konsen ujiannya”, jawab Caca.
“Hemm, yaudah, nanti aku tunggu kamu di kantin, ya”, lanjut Randy sedikit kecewa.
Sebenarnya, Caca sangat penasaran dengan cerita Randy. Mungkin saja Randy ingin jujur kepada dirinya tentang kejadian tiga hari lalu, atau mungkin saja ia ingin menjelaskan alasannya kepada Caca, kemana ia selama tiga hari kemarin. Namun, Caca berusaha untuk terlihat biasa saja di hadapan Randy.
Setelah selesai ujian, Caca segera menemui Randy di kantin. Ia ingin segera mendengar cerita Randy. Akhirnya, Caca pun mendapati Randy disana. Namun, Randy tidak sendiri, ia bersama seorang perempuan. Lagi-lagi Caca melihat Randy bersama perempuan itu. Perempuan yang ia lihat bersama Randy tiga hari lalu di taman dekat kampus.
“Hai, Ca! Akhirnya kamu dateng juga”, teriak Randy yang segera menyuruh Caca duduk.
“Maaf ya kalo kelamaan, tadi dosennya lama di kelas jadi aku nunggu dulu deh. Ran, ini siapa?”, tanya Caca sambil melempar senyum ke arah perempuan itu.
“Iya, gapapa, Ca. Oh ini kenalin Sandra. Nah hal ini yang mau aku ceritain ke kamu, Ca”, jelas Randy.
“Hai, Caca. Salam kenal ya, aku Sandra”, ucap Sandra sambil menjabat tangan Caca.
“Jadi kamu mau cerita apa, Ran?”, tanya Caca penasaran.
“Jadi sebenernya Sandra ini pacar aku, Ca. Kami baru pacaran tiga hari lalu hehehe”, ucap Randy sambil menatap Sandra.
“Pacar kamu? Kok kamu gak pernah cerita sama aku, Ran? Curang deh”, balas Caca berusaha bersikap biasa saja.
“Maaf ya hehehe sebenernya udah lama banget aku deket sama Sandra, dan udah lama juga mau cerita ke kamu, tapi gak pernah ada waktu yang tepast buat cerita”, jelas Randy.
“Hemm, gapapa kali, Ran. Aku ikut seneng kok denger berita ini, selamat ya akhirnya ada juga perempuan yang mau sama kamu! Hahaha”, ucap Caca.
“Yaudah kamu mau makan apa? Kamu boleh pesen apa aja nanti biar aku yang bayar, ya sekalian pajak pacaran kami lah, ya kan, Sayang?”, tanya Randy kepada Sandra begitu mesra dengan panggilan sayang.
“Iya, Ca, kamu makan bareng aja. Mau pesen apa?”, balas Sandra.
“Ih kamu kayak sama siapa aja deh, Ran. Gak perlu lah, lagian aku juga masih ada urusan, jadi aku gak bisa lama-lama juga disini. Yaudah deh kalo gitu, aku duluan, ya!”, jelas Caca yang segera berpamitan kepada Randy dan Sandra.
Sepanjang perjalanan pulang, Caca hanya tersenyum kecil sambil menatap jalan raya di luar kaca jendela taksi yang ditumpanginya. Dia berusaha mengingat kembali semua ucapan Randy tadi. Kini, Randy, temannya, sudah memiliki kekasih. Caca sangat senang mendengar itu semua. Namun, tiba-tiba setetes air jatuh ke pangkuannya dan membuyarkan lamunan Caca.
Caca menangis? Apa maksudnya ini? Kenapa tiba-tiba Caca menangis? Semua pertanyaan itu muncul dalam benak Caca. Caca sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Ia benar-benar bingung mengapa ia bisa menangis? Padahal sebelumnya ia berpikiran kalau dirinya senang mendengar kabar pacaran Randy dan Sandra. Ia sangat bingung dengan perasaannya.
Beberapa hari berlalu, Caca berusaha untuk bersikap biasa saja jika bertemu Randy atau Sandra. Walaupun perasaannya hancur. Ya, Caca mulai merasa asing dengan perasaannya sendiri. Kini, Caca sering merasa rindu dengan Randy dan kesal jika mendapati Randy sedang berdua dengan kekasihnya. Caca mulai menyadari perasaannya. Ia mulai cemburu. Ia cinta kepada Randy.
Akhirnya Caca sadar dengan parasaannya terhadap Randy. Caca mulai merasakan seperti apa itu rindu, seperti apa itu cemburu, dan seperti apa nelangsanya diam-diam suka terhadap teman sendiri. Ia begitu menikmati semuanya, walaupun hatinya selalu bertanya tanpa tahu jawabannya, mengapa perasaan ini muncul setelah ia sudah milik orang lain? Apakah ini yang disebut cinta yang datang terlambat?





-kzp-