“Hai, aku ganggu kamu
gak?”, tanya Randy memecah lamunan Caca.
“Eh, enggak kok. Maaf, ada
apa ya?”, jawab Caca bingung.
“Gapapa, kenalin aku Randy
anak Teknik”, ucap Randy.
“Oh, aku Shabil tapi kamu
cukup panggil aku Caca”, balas Caca.
Sebulan sudah Caca
berkenalan dengan Randy. Kini, mereka berteman cukup dekat. Dimana ada Caca,
pasti ada Randy yang selalu menemaninya. Kebanyakan orang menganggap kedekatan
mereka lebih dari kedekatan sebatas teman. Namun, Caca dan Randy tidak pernah
menganggap serius pendapat-pendapat tersebut. Mereka hanya menganggapnya
sebagai hembusan angin belaka.
Suatu hari, Caca dan Randy
sedang menghabiskan weekend mereka di
sebuah taman. Ya, mereka memang sudah merencanakan—jauh-jauh hari—akan pergi ke
taman dekat komplek rumah Caca setelah ujian kampus selesai. Bukan hanya ingin
melampiaskan kejenuhan mereka terhadap soal-soal ujian kampus, tetapi Caca dan
Randy pun ingin hunting foto di taman
tersebut. Kebetulan mereka mempunyai hobi yang sama; fotografi.
“Ca, liat deh foto ini.
Bagus, kan?”, tanya Randy sambil menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan
kumpulan anak kecil yang sedang tertawa lepas.
“Ya ampun, ini lucu banget,
Ran. Kamu foto dimana?”, balas Caca sedikit penasaran.
“Itu disana, tadi ada
kumpulan anak kecil yang lagi main balon sabun gitu.”, jawab Randy semangat.
“Ini emang lucu banget,
tapi foto yang aku ambil ini juga pasti gak kalah lucu.”, ucap Caca sambil
menunjukkan hasil hunting fotonya.
“Wah, foto kamu juga gak
kalah bagus, Ca. Kelihatan hidup banget!”, balas Randy tidak kalah kagum.
“Iya dong! Tadi aku nemuin
bunga sepatu ini. Yaudah karena warnanya lucu, aku foto deh.”, jelas Caca.
Hari ini sangat membuat
mereka senang. Mereka bisa menghabiskan waktu berdua dan melampiaskan hobi
fotografi mereka. Canda dan tawa pun tidak henti-hentinya terlontar dari mulut
mereka. Mereka terlihat bahagia. Sangat bahagia. Setelah puas memotret banyak
hal, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Tentu saja, Randy mengantar
Caca pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, Caca
menunggu Randy menjemput dirinya untuk berangkat ke kampus. Namun, sampai pukul
08.00 pun Randy tidak kunjung datang sampai akhirnya Randy memberi kabar bahwa
dirinya tidak bisa menjemput Caca. Jelas saja hal ini membuat Caca kecewa dan
kesal. Dengan berat hati, ia pun berangkat ke kampus seorang diri.
Setelah selesai mengikuti
kelas di kampus, Caca mencari Randy. Namun, Caca tidak mendapati Randy dimana
pun. Caca menghubungi Randy, namun, tidak aktif. Caca pun menyerah dan
memutuskan untuk hunting foto di
taman kampus. Setelah cukup lama hunting
foto, Caca beristirahat sejenak sambil melihat-lihat hasil fotonya.
Namun, tiba-tiba Caca
melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Ia melihat Randy bersama seorang
perempuan. Dengan segera, Caca menghubungi Randy dan menanyakan sedang apa dan
dimana Randy sekarang. Caca hanya ingin memastikan apakah laki-laki yang
dilihatnya benar Randy atau bukan. Oleh karena itu, Caca berpura-pura tidak
tahu dan menanyakan keberadaan Randy.
“Halo, Ran, kamu lagi
dimana?”, tanya Caca tanpa melepaskan pandangannya dari sosok laki-laki yang
berada jauh di depannya.
“Hai, Ca! Aku lagi di
supermarket deket rumah, lagi anter Mama. Kenapa, Ca?”, jawab Randy.
“Lagi di supermarket, ya?
Oh, yaudah gapapa, cuma nanya aja kok. Maaf ya kalo ganggu”, sambung Caca yang
segera mematikan sambungan teleponnya.
Kecewa. Seperti itulah
perasaan Caca kini. Ia tidak menyangka kalau Randy bisa berbohong kepadanya.
Jelas-jelas kini ia melihat Randy berada di tempat yang sama dengan dirinya.
Namun, Randy malah berbohong kepada dirinya. Bukan hanya kecewa karena merasa
telah dibohongi, Caca pun kecewa karena Randy diam-diam pergi dengan perempuan
lain. Caca pun pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau balau.
Sesampainya di rumah, tidak
ada satupun pesan atau telepon masuk dari Randy. Padahal Caca sangat
mengharapkan semua itu. Akhirnya, Caca memberanikan diri untuk menghubungi
Randy terlebih dahulu. Namun sayangnya tidak aktif. Sebenarnya kenapa Randy
berubah seperti ini? Dan siapa perempuan itu? Kenapa pula Randy tidak
menceritakan tentang perempuan itu kepada dirinya?
Berbagai macam pertanyaan
muncul dalam benak Caca. Pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh
Randy. Perasaan Caca semakin tidak menentu. Ia pun bingung dengan apa yang ia
rasakan saat ini. Apakah ini hanya perasaan kecewa karena telah dibohongi oleh
seorang teman? Atau ia merasa kesal karena melihat Randy pergi dengan perempuan
lain tanpa sepengetahuan dirinya? Entah. Caca pun masih mencari-cari jawaban
yang tepat.
Setelah tiga hari
menghilang dan tidak ada kabar, Randy akhirnya menjemput Caca untuk berangkat
ke kampus. Caca merasa terkejut karena melihat Randy sudah ada di depan
rumahnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Randy. Namun, ia
berusaha untuk bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun. Caca dan Randy
pun berangkat bersama ke kampus.
“Ca, aku lagi seneng banget
nih sekarang. Kamu mau dengerin ceritaku gak?”, ucap Randy bersemangat.
“Oh, ya? Nanti aja deh,
masih pagi juga kan. Hari ini aku ada ujian, nanti kalau denger cerita kamu
malah gak konsen ujiannya”, jawab Caca.
“Hemm, yaudah, nanti aku
tunggu kamu di kantin, ya”, lanjut Randy sedikit kecewa.
Sebenarnya, Caca sangat
penasaran dengan cerita Randy. Mungkin saja Randy ingin jujur kepada dirinya
tentang kejadian tiga hari lalu, atau mungkin saja ia ingin menjelaskan
alasannya kepada Caca, kemana ia selama tiga hari kemarin. Namun, Caca berusaha
untuk terlihat biasa saja di hadapan Randy.
Setelah selesai ujian, Caca
segera menemui Randy di kantin. Ia ingin segera mendengar cerita Randy.
Akhirnya, Caca pun mendapati Randy disana. Namun, Randy tidak sendiri, ia
bersama seorang perempuan. Lagi-lagi Caca melihat Randy bersama perempuan itu.
Perempuan yang ia lihat bersama Randy tiga hari lalu di taman dekat kampus.
“Hai, Ca! Akhirnya kamu
dateng juga”, teriak Randy yang segera menyuruh Caca duduk.
“Maaf ya kalo kelamaan,
tadi dosennya lama di kelas jadi aku nunggu dulu deh. Ran, ini siapa?”, tanya Caca
sambil melempar senyum ke arah perempuan itu.
“Iya, gapapa, Ca. Oh ini
kenalin Sandra. Nah hal ini yang mau aku ceritain ke kamu, Ca”, jelas Randy.
“Hai, Caca. Salam kenal ya,
aku Sandra”, ucap Sandra sambil menjabat tangan Caca.
“Jadi kamu mau cerita apa,
Ran?”, tanya Caca penasaran.
“Jadi sebenernya Sandra ini
pacar aku, Ca. Kami baru pacaran tiga hari lalu hehehe”, ucap Randy sambil
menatap Sandra.
“Pacar kamu? Kok kamu gak
pernah cerita sama aku, Ran? Curang deh”, balas Caca berusaha bersikap biasa
saja.
“Maaf ya hehehe sebenernya
udah lama banget aku deket sama Sandra, dan udah lama juga mau cerita ke kamu,
tapi gak pernah ada waktu yang tepast buat cerita”, jelas Randy.
“Hemm, gapapa kali, Ran.
Aku ikut seneng kok denger berita ini, selamat ya akhirnya ada juga perempuan
yang mau sama kamu! Hahaha”, ucap Caca.
“Yaudah kamu mau makan apa?
Kamu boleh pesen apa aja nanti biar aku yang bayar, ya sekalian pajak pacaran kami
lah, ya kan, Sayang?”, tanya Randy kepada Sandra begitu mesra dengan panggilan
sayang.
“Iya, Ca, kamu makan bareng
aja. Mau pesen apa?”, balas Sandra.
“Ih kamu kayak sama siapa
aja deh, Ran. Gak perlu lah, lagian aku juga masih ada urusan, jadi aku gak
bisa lama-lama juga disini. Yaudah deh kalo gitu, aku duluan, ya!”, jelas Caca
yang segera berpamitan kepada Randy dan Sandra.
Sepanjang perjalanan
pulang, Caca hanya tersenyum kecil sambil menatap jalan raya di luar kaca
jendela taksi yang ditumpanginya. Dia berusaha mengingat kembali semua ucapan
Randy tadi. Kini, Randy, temannya, sudah memiliki kekasih. Caca sangat senang
mendengar itu semua. Namun, tiba-tiba setetes air jatuh ke pangkuannya dan
membuyarkan lamunan Caca.
Caca menangis? Apa
maksudnya ini? Kenapa tiba-tiba Caca menangis? Semua pertanyaan itu muncul
dalam benak Caca. Caca sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Ia benar-benar
bingung mengapa ia bisa menangis? Padahal sebelumnya ia berpikiran kalau
dirinya senang mendengar kabar pacaran Randy dan Sandra. Ia sangat bingung
dengan perasaannya.
Beberapa hari berlalu, Caca
berusaha untuk bersikap biasa saja jika bertemu Randy atau Sandra. Walaupun
perasaannya hancur. Ya, Caca mulai merasa asing dengan perasaannya sendiri.
Kini, Caca sering merasa rindu dengan Randy dan kesal jika mendapati Randy
sedang berdua dengan kekasihnya. Caca mulai menyadari perasaannya. Ia mulai
cemburu. Ia cinta kepada Randy.
Akhirnya Caca sadar dengan
parasaannya terhadap Randy. Caca mulai merasakan seperti apa itu rindu, seperti
apa itu cemburu, dan seperti apa nelangsanya diam-diam suka terhadap teman
sendiri. Ia begitu menikmati semuanya, walaupun hatinya selalu bertanya tanpa
tahu jawabannya, mengapa perasaan ini muncul setelah ia sudah milik orang lain?
Apakah ini yang disebut cinta yang datang terlambat?
-kzp-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar