Agustus,
Bolehkah aku bercerita denganmu?
Hmm aku anggap jawabannya iya.
Tentu kau sudah dengar dari Juli tentang hari-hariku.
Lebih tepatnya hari-hariku bersamanya.
Agustus,
Tahukah kamu tentang makna cinta?
Hmm maksudku... cinta dalam diam?
Mungkin kau akan bertanya mengapa aku menanyakan hal itu
padamu.
Jawabannya adalah karena saat ini ia sedang menguasai
hatiku.
Ia yang aku cintai dalam diamku.
Ia yang aku sayangi dalam doaku.
Dan ia yang aku harapkan dalam anganku.
Agustus,
Aku harap kau tidak tertawa dengan kalimat terakhir yang ku
tulis.
Cukup Juli saja yang menertawakanku tentang hal itu.
Jujur aku bingung dengan perasaanku.
Aku mulai merindukan hal yang jelas-jelas bukan milikku.
Aku mulai mengharapkan hal yang jelas-jelas belum pasti
untukku.
Tetapi memang seperti itulah kenyataannya.
Menyedihkan, bukan? Ya aku tahu.
Agustus,
Aku tidak mengharapkan jawaban darimu secepatnya.
Karena dasarnya aku hanya sedang bercerita padamu.
Urusanku dengan cinta dalam diamku itu biar aku yang atasi.
Tugasmu hanya yakinkanku dalam segala hal yang akan aku hadapi.
Dan jadilah teman terbaikku selama tiga puluh satu hari
yang kau miliki.
“Orang yang
memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai
semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk
menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu
ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”
-Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin.
“Tak peduli
seberapa membahagiakan atau menyedihkan, hidup harus terus berlanjut. Waktulah
yang selalu menepati janji dan berbaik hati mengobati segalanya.”
-Tere Liye, Sunset Bersama Rosie.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar